Bandung, bimasislam—Beberapa dekade belakangan ini, anak-anak muda cenderung familiar dengan istilah-istilah jihad, takfir, dan istilah-istilah lainnya yang berkonotasi pada gerakan radikalisme. Pada dasarnya hal tersebut tidaklah salah, namun akan membahayakan jika tak disertai dengan pemahaman yang komperehensif. Sebagai contoh, istilah jihad paling banyak disalahpahami akibat dangkalnya pemahaman dan wawasan, sehingga makna jihad sangat sempit dan bahkan menimbulkan kekacauan. Inilah salah satu faktor yang mendorong lahirnya radikalisme agama, yaitu adanya pendangkalan pemahaman keagamaan.
Hal ini disampaikan Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Machasin, MA dalam sambutannya pada Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama, bertempat di Aula Diklat Keagamaan Jawa Barat, Senin (15/12). Acara saresehan ini dihadiri 100 peserta, terdiri dari Kan. Kemenag se-Jawa Barat, pimpinan ormas Islam, pemda dan akademisi.
Machasin menegaskan, kesalahan pemahaman atas doktrin agama akan sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika pemahaman yang salah tentang jihad terus berkembang misalnya, maka ini akan merongrong persatuan dan kesatuan bangsa.
“Pemahaman yang salah terhadap agama juga sama bahayanya dengan narkotika. Harus kita luruskan, kita bina, kita cegah lebih dini sebelum berkembang,” tuturnya.
Dalam pencegahan, Mantan Kabalitbang dan Diklat Kemenag ini mengajak para tokoh agama untuk meluruskan pemahaman agama yang sangat sempit tersebut, menjadi pemahaman agama yang moderat dan universal. Menurutnya, pencegahan radikalisme melalui bahasa agama merupakan langkah tepat disamping pencegahan dari aspek hukum politik dan ekonomi. Untuk itulah, pihaknya mengajak seluruh jajaran Kemenag dan pimpinan ormas Islam .
“Para tokoh agama, ormas Islam, ini kan memiliki pengaruh di masyarakat, kita perkuat perannya untuk mencegah tumbuhnya paham-paham radikal,” pungkasnya.
Prof. Dr. Dadang Kahmad, Guru Besar Sosiologi Agama UIN SGD Bandung menguatkan hal tersebut. Menurutnya dunia saat ini tengah digandrungi dengan kebangkitan agama, kesadaran betapa pentingnya agama dalam kehidupan. Namun demikian, tumbuhnya kesadaran beragama terkadang diiringi dengan tumbuhnya radikalisme dan menegasikan keragaman pandangan. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan radikal dan konflik antar agama.
“Selalu ada gerakan radikal dalam setiap agama. Dan ini dapat kita cegah melalui bahasa agama, melalui pembinaan wawasan keagamaan yang moderat,”tuturnya.
Di tempat yang sama, Ketua PW Muhammadiyah Jawa Barat,Ayat Dimyati,mendorong kerjasama yang efektif antar ormas Islam, pemerintah dan elemen umat secara keseluruhan dalam pembinaan umat. Ia mengibaratkan pembangunan sebuah gedung, yang mana melibatkan banyak ahli di bidangnya masing-masing, namun semuanya menuju satu tujuan yang sama, yaitu berdirinya bangunan yang kokoh dan indah.
“Muhammadiyah terus menjalin kerjasama dengan semua pihak untuk kemajuan Islam. Karena memang kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri untuk mencapai tujuan besar,” tegasnya.
Sarasehan pencegahan radikalisme berbasis agama merupakan kegiatan Ditjen Bimas Islam dalam rangka membangun dialog antar elemen umat Islam. Kegiatan ini bertujuan membangun ruang dialog sehingga pencegahan radikalisme tidak lagi menggunakan jalan-jalan kekerasan, melainkan dengan jalan damai, melalui pembentukan pemahaman keagamaan yang moderat. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



