Bogor, bimasislam— Pada tanggal 31 Oktober sampai 02 November 2014 kemarin bimasislam mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Workshop Jurnalistik untuk Pegawai yang diadakan oleh Sektretariat Ditjen Pendidikan Islam Kemenag. Awak bimasislam diwakili oleh 4 orang sebagai peserta, yaitu Edi Junaedi, Insan, Nashrullah, dan Syamsuddin, di antara 30 orang peserta lainnya perwakilan dari semua unit eselon 1 di tingkat pusat.
Pada Sessi 1 setelah Pembukaan Worshop, Wartawan Senior Majalah Tempo Wahyu Muryadi mengingatkan akan hadirnya media baru. “Media baru ini sudah melebihi kekuatan Digital Multi Media yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat audio-visual. Kekuatan media baru ini digambarkan bagaikan “tsunami media”, yang berbasis pada media sosial”, jelasnya. Lewat media baru ini, siapa saja berhak untuk mengekspos berita apapun, dari yang bersifat pribadi sampai publik.
Tren itu mengakibatkan terpinggirkannya media cetak dan media elektronik -- yang oleh Wahyu lebih tepat diistilahkan dengan “media penyiaran”. Ini harus dicermati, ingatnya secara serius, termasuk oleh media-media yang ada di Kementerian Agama. Apalagi, bila mengingat kuatnya harapan agar berbagai kegiatan Kemenag bisa dirasakan oleh masyarakat dengan baik.
Kegiatan yang diadakan di Hotel Horison Bogor ini juga menghadirkan Asrori S. Karni dan Mujib Rahman dari Majalah Gatra sebagai Narasumber. Mengangkat materi tentang “Teknik Menulis Berita (Features dan Hard News)”, mereka berdua memandu para peserta bagaimana membuat sebuah berita yang tepat dan menarik. Sessi ini cukup panjang dikemas dengan mengangkat teori juga praktiknya sekaligus, bahkan disempatkan ada evaluasi penulisan dengan presentasi berita yang ditulis oleh masing-masing peserta walau tidak semuanya.
Dalam kesempatan Penutupan Workshop, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin mengakui bahwa publikasi kegiatan di Ditjen Pendis masih kurang dibandingkan dengan sekian kegiatan yang ada. Bayangkan saja, imbuhnya, kurang lebih ada 1000 kegiatan di Pendis tapi belum dominan yang terekspos oleh media, apalagi semuanya. Kenyataan ini, menurut pengamatannya, terjadi karena kurangnya SDM yang memiliki kompetensi jurnalistik dan minimnya komitmen pegawai di tiap Sub-Direktorat (Eselon 3) untuk mempublikasikan kegiatannya. Fenomena ini ternyata juga terjadi pada hampir eselon 1 lainnya di Kemenag Pusat, singgungnya. (edijun/foto:naturalclick)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



