Oleh:
Syafaat*
Sabda Cinta
Mengeja tubuh luka
Darahnya tetes di pangkal paha
Jadi sajak rindu dan asmara membara
Jadi ranggas kegelisahan nista semesta
Mengeja tubuh luka
Huruf-hurufnya nanar tak bernyawa
Kata-kata terkubur di relung jiwa
Berlumut dimakan impian asa
Sabda airmata
Hanya sebatas cinta dusta
Terbelenggu dalam Baluran cinta
Tak hanya meneteskan air mata
Namun cukup membuat luka
Lupa mengeja tubuhnya
Ranum bertudung derita
Dibalik asmara meronta
Menunggu takdir menjemputnya
Sabda Cinta
Menikmati luka yang merindukan cinta
Hati berlumur air mata
Bersimpuh pada penguasa semesta
Menunggu waktunya tiba
Dia tergolek di ranjang bahagia
Menikmati mimpi ketika terjaga
Direlung semesta surga-Nya
***************
Seringkali dengan mengatas namakan cinta, seseorang melakukan perbuatan yang menurut orang lain di luar nalar, melakukan tindakan konyol yang membuat orang lain tidak dapat menganalisa dengan nalar sehat. Seluruh pikirannya hanya memikirkan terhadp yang dicintainya, pengorbanan tak terhingga mampu dilakukan untuk yang dicintai. Semangatnya tumbuh bahkan bisa redup sangat tergantung terhadap rasa senang, puas maupun rasa kecewa terhadap yang dicintai.
Cinta dan kerinduannya seringkali menjerumuskan orang yang dihinggapi rasa cinta kelembah kehinaan. Namun cinta dan kerinduan juga dapat membangkitkan andrenalin seseorang mencapai puncak tujuan yang dicita-citakan. Dapat membangkitkan semangat dan rela berkorban untuk yang dicintainya. Rela dan ikhlas melakukan semua yang diperintahkan oleh yang dicintainya.
Cinta dan kerinduan perlu dijaga keseimbangnnya agar mendatangkan keuntungan dan terhindar dari kerugian. Sudah banyak nasehat bijak agar kita jangan mencintai dan merindukan sesuatu yang bersifat duniawi secara berlebihan. Adagium yang menyatakan cintai dengan setengah hati dan jangan setengah jiwa, agar jika tidak dapat tercapai hanya menderita sakit hati dan tidak mengalami sakit jiwa. Sebab jangan sampai sesuatu yang kita cintai nantinya menjadi objek dari hal yang paling kita benci ketika mencapai rasa kecewa.
Cinta dan kerinduan yang melebihi dosis yang disarankan, dapat menyebabkan kegelisahan yang tak pernah berkesudahan, hingga mengganggu aktifitas yang pada akhirnya sedikit demi sedikit akan mengganggu kejiwaan. Hatipun akan sulit mencapai ketenangan karena terlalu tergantung terhadap objek diluar diri. Rindu dendam akan menghilangkan hati dan akal sehat hingga melakukan perbuatan diluar nalar sehat yang tiidak sesuai ajaran yang Maha Suci.
Cinta dan kerinduan terhadap sesama makhluk dapat mengurangi bahkan menghilangkan ruh ketuhanan dalam hati dan pikiran, sebagaimana pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW bahwa “pandangan (mata) adalah satu dari sekian anak panah iblis” yang sangat beracun yang dapat mematikan atau setidak tidaknya mengerdilkan jiwa manusia.
Tidak sedikit yang dengan atas nama cinta, seseorang mengorbankan sesuatu yang seharusnya tidak dikorbankan, melakukan sebuah tindakan dengan resiko yang sangat besar. Bahkan melakukan dosa besar hingga mengorbankan keyakinan yang dianutnya sepanjang hidup yang sudah dilalui demi sebuah cinta dunia yang belum tentu berujung bahagia. Namun juga tidak sedikit yang karena cinta yang dirawat dengan baik dan dengan keikhlasan menjadikan kekuatan cinta tersebut menjadi kekuatan yang sangat luar biasa.
Cinta dan kerinduan dengan sesama makhluk hidup seringkali hanya merupakan proses memberi dan menerima sebagai bentuk dari kodrat sebagai makhluk sosial, karenanya ketika ada proses memberi tersebut akan diikuti dengan proses imbal baik dan yang menerimanya dengan cara ganti akan memberikan kepada yang pernah memberinya.
Lain halnya dengan cinta dan kerinduan yang tercurah kepada sang pencipta yang akan menimbulkan ketenangan dan kedamaian sejati. Rasa cinta dan rindu kepada sang pencipta akan membuat hati dan pikiran menjadi jernih, dan perilaku akan lebih terkontrol dengan melakukan ibadah secara khusuk. Hubungan makhluk dengan sang kholik dalam bingkai cinta merupakan rangkaian cinta dan keikhlasan, yakni proses memberi tanpa pengharapan menerima kembali selain keridloan sang kholik sebagai Dzat yang dicintainya.
Manusia yang tersandera dengan cinta dengan sesamanya, dahaga dalam kerinduannya, hingga terjerumus kedalam kesendirian dan kesepian, perlu adanya sentuhan dari makhluk lainnya dengan perasan cinta dan mengarahkan kecintaan dari sesama tersebut mengarah kecintaan kepada Yang Maha Besar. Karena seberapa dalam cinta seseorang terhadap sesama, suatu saat juga akan ditinggalkannya. Obat mujarab bagi yang terkena sindrom cinta dengan sesama yang terpatahkan adalah dengan kesadaran bahwa objek yang dicintai sangatlah kecil jika dibandingkan dengan kuasa pembuat cinta, manusia dan semua makhluk. Kesadaran untuk menyambung rasa cinta yang lebih besar terhadap Yang Maha Besar perlu terus ditumbuhkan hingga pudar kecintaan buta terhadap sesama manusia.
Sesuatu yang datang pastinya juga akan pulang, begitu juga dengan cinta dan kerinduan yang bisa hinggap kepada dzat dan mungkin juga akan menguap. Dengan kesadaran bahwa tidak ada makhluk yang dapat hidup abadi, bahkan para Nabi yang Ibadahnya tidak diragukan saja dibatasi usianya di dunia ini, apalagi hamba lain yang ketaatan pada Tuhannya jauh dibandingkan dengan orang orang terpilih tersebut.
Tidak ada larangan merayakan cinta secara bersama, tentunya cinta yang diridloi dan bukan cinta dusta penuh pura-pura yang dihinggapi nafsu belaka.Tak ada yang lebih sulit dilakukan selain ingin selalu menyatu dengan yang dicintainya, yang rela memberi rasa tanpa berbagi rindu, karena cinta dan rindu merupakan satu kesatuan yang sangat sulit untuk dipisahkan, hal ini karena adanya keterpautan diantara keduanya yang kadangkala tidak disadarinya.
Dalam sebuah perkawinan, sebuah cinta tidak menjamin kelanggengan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sebab komitmen lebih dibutuhkan daripada cinta dengan balutan nafsu belaka. Pada awalnya banyak yang bangga dengan pilihannya, namun tidak sedikit yang tidak setia dengan pilihannya. Tidak butuh waktu yang lama untuk menentukan pilihan, namun mungkin butuh waktu hinga sisa hidup kita untuk mempertahankan pilihan. Karena yang sulit bukanlah menentukan pilihan, namun mempertahankannya.
*Ketua Lentera Sastra Kemenag Kabupaten Banyuwangi



