Alor, bimasislam--Tak hanya masyarakat muslim pada umumnya. Kehadiran penyuluh juga menggeliatkan semangat keagamaan muslim penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) hingga komunitas Muslim muallaf.
Adalah Syamsuddin, penyuluh yang bertugas menyuluh di lingkungan Lapas Molla, Kalabahi, Allor. Di Lapas kelas II B ini, Syamsuddin memberi penyuluhan bagi 40-an penghuni lapas beragama Islam tiga hari dalam seminggu.
“Saat ini, fokusnya mengajar mereka belajar mengaji. Tapi sering, para napi juga bertanya tentang masalah bersuci, shalat, dan akhlak,” tutur lulusan STAIN Bima ini.
Berbeda dengan Syamsuddin. Abdullah Mubarok menyasar komunitas Muslim muallaf di wilayah Kampung Nurdin, Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara.
Di kampung yang dikenal memiliki muallaf terbanyak se-Kabupaten Alor ini, Mubarok secara rutin melakukan penyuluhan dengan mengajar mengaji Alquran dan pengetahuan keagamaan.
Tak cukup dengan itu, para muallaf juga didorong melakukan aktifitas ekonomi lebih maju.“Kita mendorong masyarakat (muallaf) untuk melakukan wirausaha mandiri,” jelasnya.
Mubarok menuturkan, wirausaha didorong guna memperkuat perekonomian mereka. Pantai kaya ikan dan rumput laut di sekitar mereka tinggal diharapkan bisa dioptimalkan untuk meningkatkan taraf hidup.
Hadapi Rintangan
Saat menjalankan tugas, hampir semua penyuluh merasakan kesulitan beragam. Mulai dari keterbatasan transportasi, kondisi geografis Alor, hingga sikap masyarakat setempat.
Jamal Surangkai, misalnya. Penyuluh agama yang ditempatkan di Kampung Pintu Mas, Desa Maiwal, Kecamatan Alor Barat Daya, harus menyusuri jalanan pegunungan saat memberikan penyuluhan kepada belasan keluarga Muslim.
Kesulitan makin berat ketika Jamal harus berkantor di Kantor Kementerian Agama Alor setiap hari Jumat atau Kantor Urusan Agama Maiwal di hari Rabu.
Untuk bisa sampai ke Kantor Kementerian Agama, misalnya, Jamal harus menempuh perjalanan 30-an kilometer dengan berjalan kaki. Perjalanan ini ditempuhnya usai mengimami shalat subuh agar tiba di kantor paling telat pukul 09.00 pagi.
“Kalau harus naik ojek, paling tidak harus bayar ongkos Rp 50 ribu sekali jalan turun. Artinya kalau pulang pergi naik ojek, saya harus bayar Rp 100 ribu,” katanya.
Sementara itu, Sulaiman Oramahi, penyuluh agama Islam yang bertugas di Levokisu, Kecamatan Alor Barat Laut menghadapi tantangan sulitnya anak-anak diajak mengaji. Sikap cuek orang tua diduga menjadi alasan kesulitan tersebut.
“Saya berusaha mendekati orang tua mereka. Memberi pengertian pentingnya anak-anak dikasih pelajaran agama,” jelasnya.
Tetap Pelihara Harmoni
Kendati semangat keislaman umat terus bergeliat, namun sikap toleran bagi kehidupan Alor yang harmoni tetap berusaha dirawat kalangan penyuluh. Hal ini ditempuh para penyuluh dengan mendorong umat untuk tetap menghormati masyarakat Alor yang beragam.
Jamal Surangkai, yang menyuluh di Kampung Pintu Mas, Desa Maiwal, Alor Barat Daya, misalnya. Untuk menjaga keharmonisan dengan umat yang berbeda, Jamal rajin berkomunikasi dengan masyarakat sekitaryang berbeda agama.
Saat menyampaikan ceramah keagamaan, Jamal pun berusaha menghindari sikap dan isi ceramah yang menyinggung keyakinan dan umat yang berbeda. Tak hanya itu, Jamal memilih tidak menggunakan pengeras suara saat kegiatan ceramah keagamaan dilakukan.
“Kecuali adzan lima waktu atau pengajian murottal menjelang maghrib,” ungkapnya.
Tentang toleransi atas keyakinan umat berbeda, Marhaban sendiri mengungkapkan jika pihaknya menempatkan penyuluh agama Islam selain juru penerang masyarakat Muslim juga juru harmoni masyarakat Alor yang plural. “Selain menyampaikan ilmu agama, kita minta mereka jadi juru harmoni masyarakat Alor,” tuturnya.
Menurut Marhaban, kehidupan Alor yang harmonis perlu dijaga. Sebab selain yang beragama Islam, masyarakat Alor juga menganut sejumlah keyakinan agama berbeda seperti Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan keyakinan lokal.
Seperti diketahui, Kabupaten Alor merupakan satu dari 10 daerah provinsi/kabupaten/kota yang berhasil meraih Harmony Award 2016. Penghargaan yang diberikan langsung Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Februari 2017 didapatkan Alor atas kemampuan pemerintahan dan masyarakat daerahnya dalam menjaga harmoni masyarakat berbeda agama.
(Zaenal Muttaqin/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



