Brunei, bimasislam-- Pada masa awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid merupakan simbol suci (sakral) sebagai tempat menyelenggarakan ibadah mahdhah, namun juga kekuatan penting bagi penyebaran dakwah Islamiyah.Demikiandikatakan oleh Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA dalam “Seminar Kecemerlangan Pegawai-pegawai Masjid” yang diselenggarakan oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama, Brunei Darussalam (5/2).
Lebih lanjut Djamil menegaskan bahwa berdirinya pesantren-pesantren di Indonesia berawal dari adanya kyai dan masjid sebagai tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi al-diin). Melalui masjid, penyebaran dakwah berkembang pesat, bahkan merambah pada aspek-aspek kehidupan umat yang lain, seperti bidang pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, pemberdayaan umat, dan lain-lain.
Dalam tradisi Kerajaan Islam Jawa kuno, masjid dibangun dalam lanskap pembangunan sistem kenegaraan secara integral, yaitu menyatunya masjid, gedung pemerintahan (keraton), pasar (pusat ekonomi masyarakat), alun-alun (lapangan) sebagai pusat pertemuan massa untuk menyelenggarakan berbagai even-even keagamaan dan budaya seperti di Solo, Yogyakarta, Cirebon, Semarang, Demak, dan lain-lain. Kerajaan-kerajaan Islam saat itu menginginkan agar keperluan kenegaraan dan agama menyatu dalam satu naungan agama (Islam), yang pemimpinnya disebut dengan Notogomo dan Nonegoro (pengelola agama dan negara). Pada konteks ini, masjid menjadi satu kesatuan kehidupan masyarakat dalam rangka menciptakan kesalehan individual dan sosial secara bersamaan, tandasnya.
Setidaknya, imbuh Djamil, masjid di Indonesia belakangan ini telah mengarah kepada multi-purpose mosque, yaitu sebagai tempat menuntut ilmu (pendidikan);tempat pembinaan dan bakti sosial untuk jama’ah; pusat dakwah dan kebudayaan Islam;sebagai pusat kaderisasi umat; pusat pemberdayaan ekonomi, baik zakat, infak, sedekah, maupun pengelolaan wakaf produktif. Ke depan, masjid-masjid di Indoensia akan dijadikan sebagai pusat berdirinya sendi-sendi peradaban Islam yang sangat agung karena banyak banyak tokoh-tokoh muslim dunia dibesarkan dari masjid. Masjid akan dijadikan pusat bersemainya spirit keislaman yang membentuk watak dan keilmuan muslim. Masjid sama sekali tidak boleh dijadikan basis pengembangan paham-paham radikal yang dapat merusak citra Islam. Masjid adalah simbol keagungan Islam, sehingga patut mendapat perhatian oleh semua pihak agar masjid semakin berdaya untuk mengembangkan masyarakat Islam. (bieb/foto:goindonesia)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



