Jakarta, Bimas Islam -- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag terus berkomitmen mendukung inisiatif di akar rumput melalui Program Inkubasi Wakaf Produktif. Program ini berhasil mengakselerasi pengembangan Joglo Wakaf Ziswaf Masjid Pelajar Semarang, dari sentra pemberdayaan biasa menjadi model Integrated Farming Zero Waste yang teruji secara bisnis dan sosial.
Joglo Wakaf, yang mengelola berbagai unit usaha seperti pengolahan kompos , pembibitan komoditas seperti kopi, pepaya, dan alpukat , serta budidaya melon, selada, dan lele, kini merasakan akselerasi signifikan berkat sinergi dengan Kemenag. Suharto, salah satu tokoh kunci dan penerima manfaat dari Joglo Wakaf, memberikan testimoni inspiratif mengenai perubahan signifikan yang terjadi.
"Sejak awal, Joglo Wakaf fokus pada pengolahan kompos, GSA (kemungkinan merujuk pada Green Super Agent), dan agen hayati. Kami juga sudah memulai program wakaf usaha domba dan bibit kopi di tahun 2023. Namun, tantangan permodalan dan pasar selalu menjadi hambatan utama untuk skala yang lebih besar," jelas Suharto di Jakarta, Selasa (18/11/2025).
"Masuknya kami ke dalam Program Inkubasi Wakaf Produktif Kemenag 2025 menjadi titik balik. Kemenag memberikan kami akses permodalan dan injektif modal yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan usaha. Selain itu, kami juga diperkenalkan dengan jaringan dan pasar mitra strategis nasional. Hal ini bukan hanya sekadar bantuan, tetapi dukungan nyata peran negara dalam Pembangunan ekonomi umat," tuturnya.
Suharto menambahkan, dampak yang paling mencolok terasa pada unit pertanian hortikultura mereka. "Dengan adanya Inkubasi Wakaf KEMENAG, kami mampu meningkatkan produksi selada secara masif, mencapai 50 kg per hari. Begitu juga dengan pokcoy, peningkatannya mencapai 150 kg per minggu. Peningkatan ini membuat kami lebih percaya diri dalam melakukan penjualan hasil panen, tidak hanya ke lingkungan sekitar, tetapi juga ke catering, Superindo, dan Istana Buah," jelasnya.
Dampak Berlipat di Sektor Edukasi, Lingkungan, dan Sosial
Program Inkubasi Wakaf KEMENAG tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi. Joglo Wakaf sebagai penerima manfaat juga menjadi model yang sukses dalam tiga pilar utama pemberdayaan lainnya, yaitu edukasi, penerima manfaat langsung dan lingkungan.
"Joglo Wakaf telah menjadi tempat praktik dan studi banding yang rutin bagi pelajar dan mahasiswa. Lebih lanjut, kami aktif dalam pelatihan dan pendampingan petani organik dengan konsep integrated farming untuk masyarakat. Kami bahkan telah mensupport berdirinya KWT ‘Tani Kita Jaya’ di Kelurahan Wonolopo, Semarang, dan menginisiasi terbentuknya wadah Asosiasi Juragan Organik Semesta (AJOS)," papar Suharto.
Sementara itu, manfaat langsung dari program wakaf produktif tersebut telah disalurkan kembali kepada umat (penerima manfaat langsung), meliputi pemberian beasiswa sekolah digital dan pembiayaan operasional rumah qur’an. "Alhamdulillah, hasil dari wakaf produktif ini kembali kepada umat. Kami memberikan beasiswa sekolah digital kepada 12 anak , beasiswa untuk 2 mahasiswa , dan membiayai operasional Rumah Qur’an Masjid Pelajar yang menampung 5 anak," tuturnya.
Lebih lanjut, Suharto menyatakan bahwa Kementerian Agama juga mendukung komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan melalui konsep yang mereka canangkan yaitu zero waste.
"Kami fokus pada pertanian organik dan ramah lingkungan dengan konsep zero waste. Kami membuat pakan ternak dengan fermentasi dari limbah pertanian , yang juga mengurangi dampak emisi karbon dengan menghilangkan bau amoniak di peternakan ayam, domba, sapi, dan lele. Kami turut melestarikan hutan dan sumber air dengan menanam kopi di hutan dan alpukat di lahan kritis,” ucap Suharto.
Suharto mengaku merasa dihargai dengan adanya Sertifikasi Nadzhir Wakaf sebagai bagian dari program Kemenag, yang dianggapnya sebagai pengakuan dan penguatan kelembagaan yang sangat berharga. Ia berharap lebih banyak inisiatif wakaf produktif di Indonesia dapat bersinergi dengan program Kemenag.
"Kami juga merasa dihargai dengan adanya Sertifikasi Nadzhir Wakaf sebagai bagian dari program ini. Harapan besar kami adalah agar semakin banyak inisiatif wakaf produktif di seluruh Indonesia dapat bersinergi dengan program-program yang dijalankan oleh Kemenag," pungkasnya.
(kemenag.go.id)



