Tangerang, Bimas Islam — Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, memaparkan capaian kinerja pelaksanaan Asta Protas 2025 dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama di Kabupaten Tangerang, Selasa (16/2/2025).
Rakernas Kemenag bertema “Mempersiapkan Umat Masa Depan” ini dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, serta para pejabat eselon I. Setiap direktorat jenderal mempresentasikan capaian kinerja program strategis sepanjang 2025.
Abu Rokhmad mengatakan, Bimas Islam memiliki jejaring dan sumber daya besar untuk mendukung pelaksanaan Asta Protas.
“Bimas Islam memiliki penghulu, penyuluh agama Islam, qari-qariah, majelis taklim, masjid, musala, badan amil zakat, hingga lembaga keuangan syariah. Ini merupakan jejaring dan sumber daya yang kami miliki dalam menjalankan tugas-tugas strategis,” ujarnya.
Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan
Pada aspek kerukunan dan cinta kemanusiaan, Bimas Islam memproduksi naskah khotbah yang telah diakses lebih dari 30 ribu pembaca. Selain itu, sebanyak 651 aktor resolusi konflik telah dicetak hingga 2025, disertai pelaksanaan bimbingan teknis dan rekrutmen dai kerukunan di wilayah rawan konflik seperti Poso dan Bima.
Berbagai kegiatan literasi keagamaan juga digelar, termasuk di antaranya review tafsir Al-Qur’an, MTQ Internasional, STQH Nasional di Kendari, Musabaqah Hifzil Quran bagi Disabilitas Internasional, Ngaji Budaya, kompetisi film Islami nasional, serta dialog bersama organisasi kemasyarakatan keagamaan.
“Seluruh kegiatan ini kami dedikasikan untuk mengampanyekan sekaligus memperkuat literasi kerukunan dan cinta kemanusiaan,” kata Abu Rokhmad.
Pemberdayaan Ekonomi Umat
Dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat, hingga 2025 Bimas Islam telah membentuk 155 Kampung Zakat dengan estimasi dampak ekonomi lebih dari Rp900 miliar. Program pemberdayaan ekonomi berbasis KUA juga berjalan di 322 KUA dengan dampak ekonomi sekitar Rp190 miliar.
Bimas Islam juga menyalurkan Beasiswa Zakat Indonesia senilai Rp16,9 miliar bekerja sama dengan BAZNAS dan LAZNAS. Di sektor wakaf, dikembangkan Kota Wakaf di 16 lokasi, Inkubasi Wakaf Produktif di 75 titik, serta penghimpunan wakaf uang yang telah mencapai Rp313 miliar.
“Pada 2025, kami juga merealisasikan tiga paket transformasi tata kelola zakat, termasuk sertifikasi tanah wakaf, advokasi penukaran harta benda wakaf, serta dukungan operasional BAZNAS dan Badan Wakaf Indonesia,” jelasnya.
Layanan Keagamaan Berdampak
Pada layanan keagamaan berdampak, Bimas Islam merumuskan sejumlah regulasi di bidang jaminan produk halal melalui PMA dan KMA. Penguatan layanan KUA dilakukan melalui Gerakan Nasional Pencatatan Nikah (Gas Nikah).
Meski tren pencatatan nikah masih menurun, Abu Rokhmad menyebut penurunannya berhasil ditekan. “Jika tahun lalu penurunannya minus 6,5 persen, tahun ini hanya minus 2,8 persen,” ujarnya.
Program calon pengantin terbimbing meningkat hingga 83 persen, didukung pembangunan sarana prasarana KUA melalui SBSN di 150 titik. Layanan nikah juga diperkuat melalui uji kompetensi penghulu, kampanye keluarga sakinah, serta pelaksanaan nikah massal di dalam dan luar negeri.
Dari sisi kelembagaan, Bimas Islam membuka ruang regulasi baru yang memungkinkan kepala KUA berasal dari unsur penyuluh agama, termasuk perempuan.
Ekoteologi dan Pemberdayaan Rumah Ibadah
Dalam bidang ekoteologi, Bimas Islam mengembangkan konsep KUA Green Building, program wakaf pohon bagi calon pengantin, serta bimbingan perkawinan berwawasan lingkungan. Program Majelis Taklim Peduli Bumi juga digerakkan, disertai pengembangan hutan wakaf di 11 lokasi dan percontohan 1.319 masjid ramah lingkungan.
Sementara itu, pada pemberdayaan rumah ibadah, sepanjang 2025 Bimas Islam menyalurkan bantuan rehabilitasi untuk 659 masjid dan musala, serta melakukan pembinaan kepada 1.202 pengelola masjid.
Abu Rokhmad menutup paparannya dengan menekankan pentingnya indeks layanan sebagai tolok ukur peningkatan kinerja. Indeks Kualitas Kehidupan Beragama tercatat 78,8 dan terus ditingkatkan. Indeks Kepuasan Penyuluhan Agama Islam naik dari 82 menjadi 84,42, sementara indeks kepuasan layanan KUA dan dakwah berdampak juga menunjukkan tren positif.
“Indeks ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi sebagai baseline agar kualitas layanan Bimas Islam terus meningkat setiap tahun,” pungkasnya.
Mwr/Mr



