Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama memaparkan capaian kinerja tahun 2025 sekaligus arah strategis 2026 dalam Public Expose dan Annual Report Bimas Islam 2025, Senin (8/12/2025) di Jakarta. Forum ini menjadi ruang akuntabilitas publik yang menegaskan konsistensi Bimas Islam dalam menghadirkan layanan umat yang adaptif, inklusif, dan berdaya.
Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad menyampaikan bahwa seluruh capaian program 2025 dirumuskan selaras dengan Asta Protas Menteri Agama, yang merupakan terjemahan operasional dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas 2045. Dari delapan Asta Protas, enam di antaranya menjadi mandat utama Ditjen Bimas Islam, meliputi Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, Ekoteologi, Layanan Keagamaan Berdampak, Pemberdayaan Ekonomi Umat, Pemberdayaan Rumah Ibadah, serta Digitalisasi Tata Kelola.
Menurut Abu, Asta Protas bukan sekadar daftar program tahunan, melainkan horizon masa depan yang dirancang jauh sebelum tantangan muncul. “Seolah waktu sendiri membuktikan arah kebijakan tersebut,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa relevansi tema ekoteologi semakin nyata di tengah meningkatnya kejadian bencana dan perubahan lingkungan.
Abu mengungkapkan, Public Expose menjadi momentum penting untuk memastikan tata kelola Bimas Islam berjalan semakin transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Seluruh langkah diarahkan untuk memperkuat kontribusi Bimas Islam terhadap pembangunan nasional dan penguatan layanan keagamaan menuju Indonesia Emas 2045.
Pada Asta Protas Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, Bimas Islam menuntaskan penyempurnaan Tafsir Al-Qur’an Kemenag juz 1–3 dan membukanya untuk uji publik. Sebanyak 383 naskah khotbah dipublikasikan melalui aplikasi ELIPSKI, mencatat lebih dari 301 ribu tampilan, 43 ribu unduhan, dan 2,3 juta pengunjung hingga saat ini. Syiar literasi dan dialog juga diperkuat melalui Sekolah Aktor Resolusi Konflik bagi 315 peserta di 34 provinsi, rekrutmen 100 dai kerukunan di Poso dan Bima, serta bimbingan teknis bagi 1.000 penceramah agama.
Pada ranah internasional, Bimas Islam berhasil menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an Internasional yang diikuti peserta dari 38 negara, serta MHQ Disabilitas Netra Internasional dengan partisipasi 12 negara. Di dalam negeri, program Ngaji Budaya menjangkau lebih dari 3.000 peserta lintas agama, dan Syiar Ramadan 2025 memberikan 21 penghargaan kepada media dan tokoh inspiratif.
Pada Asta Protas Pemberdayaan Ekonomi Umat, dampak sosial-ekonomi menjadi salah satu capaian terbesar. Tahun 2025 mencatat peresmian 37 Kampung Zakat baru, sehingga total menjadi 155 kampung, dengan estimasi dampak ekonomi mencapai Rp956 miliar. Program pemberdayaan ekonomi berbasis KUA tersebar di 322 lokasi, menyalurkan manfaat kepada 3.220 keluarga (12.880 jiwa) dengan nilai dukungan Rp16,1 miliar.
Program Kota Wakaf berkembang pesat dengan peresmian 16 kota wakaf, sertifikasi lebih dari 17.319 titik tanah wakaf, mencakup luas 16,9 juta m², dan nilai ekonomi wakaf diperkirakan mencapai Rp6,3 triliun. Beasiswa zakat untuk mahasiswa mustahik diberikan kepada 153 penerima di 21 perguruan tinggi dengan total bantuan Rp16,85 miliar. Selain itu, gerakan Wakaf Uang ASN Kemenag berhasil menghimpun Rp6,4 miliar.
Pada Asta Protas Layanan Keagamaan Berdampak, Bimas Islam mencetak 110 ribu eksemplar mushaf Al-Qur’an, 2.000 mushaf isyarat, 177 mushaf braille, dan 500 mushaf tarjim braille. Layanan edukasi keluarga juga menjangkau 25 ribu keluarga Sakinah Maslahah. Program Bimbingan Perkawinan melibatkan lebih dari 1,4 juta calon pengantin, serta pembinaan 64 ribu remaja usia sekolah.
Layanan perkantoran bagi KUA turut ditingkatkan dengan penyediaan sarana untuk 4.164 KUA di seluruh Indonesia. Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (Gas Nikah) mengedukasi 10 ribu peserta tentang pentingnya pencatatan perkawinan resmi. Pengiriman 1.000 dai ke wilayah 3T dan 60 dai ke Uni Emirat Arab menjadi bagian diplomasi peradaban dan penguatan layanan diaspora.
Pada Asta Protas Ekoteologi, Bimas Islam membangun 154 KUA Green Building, mengembangkan 40 hektare hutan wakaf di 11 lokasi, serta menggerakkan wakaf pohon bagi 1,5 juta calon pengantin. Sebanyak 1.507 masjid kini menjadi pilot Masjid Ramah Lingkungan, sementara Gerakan Majelis Taklim Peduli Bumi menanam 1 juta pohon matoa secara serentak.
Bidang ini juga menorehkan prestasi akademik dengan penyelenggaraan International Conference on Islamic Eco-Theology for the Future of the Earth, melibatkan ulama, akademisi, dan peneliti dari berbagai negara.
Pada Asta Protas Pemberdayaan Rumah Ibadah, Bimas Islam menyalurkan bantuan stimulan untuk pembangunan 659 masjid dan musala, pembinaan untuk 1.350 SDM masjid, serta bantuan operasional bagi 920 rumah ibadah. Program Masjid Ramah Pemudik melibatkan 8.700 masjid dan melayani lebih dari 1,6 juta pemudik.
Sementara pada Asta Protas Digitalisasi Tata Kelola, aplikasi SIMKAH meraih sertifikat ISO 27001:2022, pendataan majelis taklim terintegrasi melalui platform e-Majelis Taklim, dan pengelolaan arsip Ditjen Bimas Islam meraih penghargaan nasional sebagai unit kearsipan terbaik. Pada ajang Humas Kemenag World 2025, Bimas Islam meraih peringkat pertama Pengelolaan Komunikasi Inovatif tingkat eselon I.
Abu menjelaskan, seluruh capaian tersebut dibingkai oleh empat program tematik yang menjadi wajah syiar Bimas Islam sepanjang tahun: Ramadhan Menyenangkan–Menenangkan, Peaceful Muharram, Blissful Maulid, dan The Wonder of Harmony. Program-program ini menggambarkan pendekatan kultural-agama yang menyejukkan dan mempererat kohesi sosial masyarakat.
Menutup paparannya, Abu Rokhmad mengajak seluruh jajaran untuk menjaga integritas, memperkuat inovasi, dan memperluas kolaborasi. “Capaian ini bukan titik akhir, tetapi pijakan menuju kinerja yang lebih adaptif dan berdampak. Kita ingin memastikan Bimas Islam hadir sebagai instrumen pemberdayaan umat yang kokoh dan relevan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
An/Mr



