Jakarta, Bimas Islam -- Pakaian serbaputih mendominasi kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Namun, di antara seratus ribu jemaah Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut, keragaman warna dan latar belakang justru menjadi pemandangan yang paling indah.
Selain umat Islam, kegiatan ini turut dihadiri perwakilan agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, hingga mahasiswa asing yang tengah menempuh studi di Indonesia. Keberagaman itu terlihat jelas dari atribut yang dikenakan. Perwakilan umat Konghucu mengenakan kain berwarna kuning-oranye yang dikalungkan di leher menyerupai syal, sementara perwakilan umat Hindu tampil dengan simbol khas seperti udeng bagi pria dan kebaya Bali bagi perempuan.
Jemaah yang hadir bagaikan miniatur Indonesia; mulai dari ibu rumah tangga, anak muda, pelajar, santri, pegawai kantoran, warga lanjut usia (lansia), hingga mahasiswa asing.
Salah satu jemaah, Manih, warga Kampung Rambutan, Jakarta Timur, mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di Monas meski seumur hidup tinggal di Jakarta. "Saya kan orang Betawi, tapi seumur hidup barusan ini ke Monas," ujarnya sambil tergelak.
Meski tak lagi mengingat tahun pasti kelahirannya, ia menyebut berusia sekitar sepuluh tahun saat peristiwa G30S/PKI terjadi. Pengalaman itu membuatnya memaknai betul arti kemerdekaan dan keamanan. "Dulu mah kita sering kagak makan, sekarang alhamdulillah anak cucu kita pada ngerasain sekolah, pada lulus. Saya bersyukur banget pemerintah sekarang, bisa dapat bansos lansia tiap bulan," ungkapnya.
Di usia kemerdekaan ke-81 ini, baginya Indonesia yang lebih baik dimulai dari kebutuhan masyarakat yang terpenuhi. “Barang-barang jangan pada mahal, kasian rakyat. Jangan susah nyari kerjaan. Biar Indonesia pada aman, pada berkah indonesia maju, pada jujur, biar pada…udah ahhh,” katanya menghentikan kalimat yang belum berakhir. Manih hanya tersenyum sambil mengusap mata yang berkaca-kaca dan wajahnya.
Harapan serupa juga terdengar dari peserta lintas iman. Nani, anggota Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) asal Citeureup, Bogor, mengaku suasana zikir dan doa ini terasa sangat khidmat. "Nikmat, ya dinikmati aja," katanya. Ia menitipkan harapan besar pada sektor pendidikan. “Harapannya sekolah maju, pemerintah harus mengusahakan sekolah negeri, zonasi dihilangin kayak dulu aja. Semoga umat kita sejahtera, makmur, sehat, dan maju,” pintanya.
Bagi Nani, doa lintas agama bukan hanya tentang perbedaan keyakinan yang dipertemukan dalam satu tempat. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang untuk menyampaikan harapan bersama bagi masa depan bangsa.
Sementara itu, Ummi Widad, warga asal Bogor, menaruh harapan agar pemerintah lebih peka terhadap kondisi ekonomi masyarakat bawah dan tegas memberantas korupsi. Sebagai masyarakat kecil, ia berharap pemerintah semakin memperhatikan kehidupan masyarakat bawah.
"Semoga ke depannya masyarakat Indonesia makin makmur. Kasihan melihat remaja-remaja yang tidak sekolah dan tidak punya pekerjaan."
Ia juga berharap perhatian terhadap masyarakat yang membutuhkan semakin merata. "Kalau dilihat dari agama, anak yatim memang banyak dibantu. Tapi di lapangan, anak piatu juga banyak yang berjuang sendiri." jelasnya.
Doa bagi Indonesia ternyata juga datang dari generasi muda. Dua mahasiswi asal Sulawesi Tenggara mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut setelah mengetahui informasinya melalui media sosial. "Saya dan teman saya dari Sulawesi Tenggara, kuliah semester lima. Kami lihat infonya dari internet, media sosial, terus mau datang saja."
Mereka datang tanpa rombongan, tanpa undangan khusus, hanya berbekal informasi yang mereka temukan di media sosial dan keinginan untuk ikut mendoakan Indonesia.
Keberagaman pun menembus batas kewarganegaraan. Di antara barisan jemaah, tampak mahasiswa program magister asal Gambia duduk satu baris. Meski ada keterbatasan bahasa, mereka mengikuti rangkaian acara dengan antusias. "We are invited here (Kami diundang ke sini)," kata Yamin, salah seorang mahasiswa asal Gambia, tersenyum ramah.
Meski hanya mengucapkan kalimat sederhana dalam bahasa Inggris ini, kehadiran mereka memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan yang terbangun di pelataran Monas juga dirasakan oleh warga negara lain yang sedang belajar di Indonesia.
Lantunan zikir dan doa kebangsaan di Monas hari itu menegaskan bahwa harmoni dan doa dan harapan untuk kebaikan bangsa dapat dirasakan oleh siapa pun, dari latar belakang apa pun, di bawah langit Jakarta yang sama.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



