Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama menggelar kegiatan “Penguatan Keluarga Sakinah Maslahat Berbasis Masjid” di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas penguatan ketahanan keluarga melalui peran strategis masjid, mulai dari aspek pendidikan, kepemimpinan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abdullah Syamsul Arifin, mengungkapkan, keluarga sakinah bukan sekadar istilah seremonial dalam pernikahan, melainkan sebuah institusi yang menghadirkan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, mawaddah dan rahmah merupakan sarana untuk membangun institusi keluarga yang kokoh dan harmonis.
“Yang dibangun itu adalah institusi sakinah. Untuk mencapai sakinah, salah satu perangkatnya adalah mawaddah dan rahmah,” ujar Abdullah Syamsul Arifin saat menjadi narasumber diskusi di Masjid Istiqlal, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, mawaddah tidak hanya dimaknai sebagai kasih sayang, tetapi juga kebersihan hati dalam memperlakukan pasangan. Dari sikap tersebut lahir prinsip saling menghargai kelebihan, memaklumi kekurangan, dan memaafkan kesalahan dalam kehidupan rumah tangga.
Menurut Abdullah, keluarga sakinah juga membutuhkan kepemimpinan yang berjalan baik dalam rumah tangga. Ia menyebut suami memiliki fungsi kepemimpinan yang harus dijalankan secara bertanggung jawab, sementara istri menjadi mitra yang diajak bermusyawarah dalam membangun keluarga.
Sementara itu, Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Mulawarman Hannase, menekankan pentingnya penguatan ketahanan ekonomi keluarga sebagai bagian dari upaya menekan tingginya angka perceraian. Ia mengungkapkan, persoalan ekonomi masih menjadi salah satu faktor dominan dalam keretakan rumah tangga di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Kalau berbicara tentang keluarga sakinah, salah satu tantangan terbesarnya adalah ekonomi. Karena itu masjid tidak cukup hanya menjadi tempat salat, tetapi juga harus hadir memperkuat kesejahteraan masyarakat,” kata Mulawarman Hannase.
Ia menjelaskan, Masjid Istiqlal saat ini mengembangkan berbagai program pendidikan dan pemberdayaan, mulai dari daycare, pendidikan dasar dan menengah, hingga program pascasarjana berbasis beasiswa. Menurutnya, pendidikan dan kesejahteraan memiliki hubungan erat dalam membangun ketahanan keluarga dan masyarakat.
Mulawarman menambahkan, konsep masjid dalam tradisi Islam sejatinya bersifat komprehensif atau jami’, yakni tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, literasi, dan pemberdayaan umat. Karena itu, ia mendorong masjid-masjid besar di Indonesia turut menghadirkan ruang pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Kasubdit Kemasjidan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Nurul Badruttamam, mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam memperkuat pembinaan kemasjidan yang berdampak langsung pada ketahanan keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, penguatan keluarga sakinah berbasis masjid diharapkan mampu menghadirkan ruang edukasi, konsultasi, dan pemberdayaan yang dekat dengan masyarakat. Sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, masjid juga didorong menjadi pusat layanan spiritual dan pembinaan keluarga.
Melalui pendekatan tersebut, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang penguatan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan keluarga.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi masjid dalam membangun keluarga yang maslahat, harmonis, dan berdaya menghadapi tantangan sosial masyarakat saat ini,” tandasnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



