Oleh:
Lilih Rahmawati*
Viralnya potongan video di media sosial yang menampilkan pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam forum Dewan Ekonomi Syariah memantik polemik di tengah masyarakat. Sepenggal kalimat, โkalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat,โ terdengar mengejutkan dan memicu beragam tafsir, tak sedikit yang bernada kritik.
Namun, di era video singkat yang serba terpotong, konteks kerap ikut terpangkas. Kalimat yang berdiri sendiri dapat menyesatkan makna jika tidak dipahami secara utuh. Jika dirujuk pada pemikiran beliau yang pernah dimuat di Republika, pesan yang hendak disampaikan bukanlah meninggalkan zakat, melainkan tidak berhenti pada zakat semata.
Dalam Islam, zakat adalah kewajiban yang bakuโia rukun, fondasi, sekaligus batas minimal kepedulian sosial. Allah berfirman dalam Al-Qurโan:
ููุฃููููู ููุง ุงูุตููููุงุฉู ููุขุชููุง ุงูุฒููููุงุฉู ููุงุฑูููุนููุง ู ูุนู ุงูุฑููุงููุนูููู
โDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.โ (QS. Al-Baqarah: 43)
Zakat adalah kewajiban yang tak dapat ditinggalkan. Namun, Al-Qurโan juga membuka banyak pintu kebaikan lainnya. Di antaranya firman Allah:
ู ูุซููู ุงูููุฐูููู ููููููููููู ุฃูู ูููุงููููู ู ููู ุณูุจูููู ุงูููููู ููู ูุซููู ุญูุจููุฉู ุฃูููุจูุชูุชู ุณูุจูุนู ุณูููุงุจููู ููู ููููู ุณูููุจูููุฉู ู ูุงุฆูุฉู ุญูุจููุฉู ููุงูููููู ููุถูุงุนููู ููู ููู ููุดูุงุกู
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa infak dan sedekah memiliki dampak luar biasaโmelampaui sekadar kewajiban.
Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
ู ูุง ููููุตูุชู ุตูุฏูููุฉู ู ููู ู ูุงูู
โSedekah tidak akan mengurangi harta.โ (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa memberi bukanlah kerugian, melainkan keberkahan.
Dalam Al-Qurโan dan khazanah fikih Islam, terdapat banyak โlumbung ekonomi umatโ yang jika dihidupkan mampu membangun kesejahteraan secara menyeluruh. Beliau menyebut sejumlah instrumen yang menjadi pilar distribusi dan kekuatan ekonomi umat: zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, hadiah, qard hasan (pinjaman tanpa bunga), kaffarat, fidyah, dam, hadyu, rikaz, ghanimah/faiโ, serta wasiat untuk kepentingan sosial.
Keempat belas instrumen ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kewajiban, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang berlapis dan berkelanjutan. Ada yang bersifat wajib seperti zakat. Ada yang sukarela namun berdampak luas seperti infak dan sedekah. Ada yang produktif dan berjangka panjang seperti wakaf. Ada yang situasional seperti kaffarat, fidyah, dam, dan hadyu. Ada pula yang memperkuat relasi sosial serta distribusi kekayaan seperti hibah, hadiah, dan wasiat.
Dalam kerangka inilah pernyataan tersebut semestinya dipahami. Bukan ajakan meninggalkan zakat, melainkan ajakan meninggalkan pola pikir yang berhenti pada zakat semata.
Sebab zakat mungkin mampu menjaga agar seseorang tidak terjerumus dalam kemiskinan ekstrem. Namun, untuk membangun umat yang kuat dan maju, dibutuhkan lebih dari ituโdiperlukan aliran kebaikan yang terus hidup melalui berbagai pintu amal.
Jika zakat adalah fondasi, maka lumbung-lumbung ini adalah bangunan yang menyempurnakannya. Jika zakat menjaga, maka infak dan sedekah menguatkan, dan wakaf membangun masa depan.
Polemik ini pada akhirnya menjadi pelajaran berharga: tidak semua potongan adalah keseluruhan, dan tidak semua kutipan mewakili maksud. Diperlukan kebijaksanaan agar kita tidak tergesa-gesa dalam menilai, serta mampu menangkap pesan yang lebih dalam.
Karena pada akhirnya, umat tidak akan bangkit hanya dengan kewajiban yang ditunaikan, tetapi dengan kepedulian yang dihidupkanโmelalui setiap jalan kebaikan yang telah diajarkan.
*Penyuluh Agama Islam
Lilih Rahmawati*
Viralnya potongan video di media sosial yang menampilkan pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam forum Dewan Ekonomi Syariah memantik polemik di tengah masyarakat. Sepenggal kalimat, โkalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat,โ terdengar mengejutkan dan memicu beragam tafsir, tak sedikit yang bernada kritik.
Namun, di era video singkat yang serba terpotong, konteks kerap ikut terpangkas. Kalimat yang berdiri sendiri dapat menyesatkan makna jika tidak dipahami secara utuh. Jika dirujuk pada pemikiran beliau yang pernah dimuat di Republika, pesan yang hendak disampaikan bukanlah meninggalkan zakat, melainkan tidak berhenti pada zakat semata.
Dalam Islam, zakat adalah kewajiban yang bakuโia rukun, fondasi, sekaligus batas minimal kepedulian sosial. Allah berfirman dalam Al-Qurโan:
ููุฃููููู ููุง ุงูุตููููุงุฉู ููุขุชููุง ุงูุฒููููุงุฉู ููุงุฑูููุนููุง ู ูุนู ุงูุฑููุงููุนูููู
โDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.โ (QS. Al-Baqarah: 43)
Zakat adalah kewajiban yang tak dapat ditinggalkan. Namun, Al-Qurโan juga membuka banyak pintu kebaikan lainnya. Di antaranya firman Allah:
ู ูุซููู ุงูููุฐูููู ููููููููููู ุฃูู ูููุงููููู ู ููู ุณูุจูููู ุงูููููู ููู ูุซููู ุญูุจููุฉู ุฃูููุจูุชูุชู ุณูุจูุนู ุณูููุงุจููู ููู ููููู ุณูููุจูููุฉู ู ูุงุฆูุฉู ุญูุจููุฉู ููุงูููููู ููุถูุงุนููู ููู ููู ููุดูุงุกู
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa infak dan sedekah memiliki dampak luar biasaโmelampaui sekadar kewajiban.
Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
ู ูุง ููููุตูุชู ุตูุฏูููุฉู ู ููู ู ูุงูู
โSedekah tidak akan mengurangi harta.โ (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa memberi bukanlah kerugian, melainkan keberkahan.
Dalam Al-Qurโan dan khazanah fikih Islam, terdapat banyak โlumbung ekonomi umatโ yang jika dihidupkan mampu membangun kesejahteraan secara menyeluruh. Beliau menyebut sejumlah instrumen yang menjadi pilar distribusi dan kekuatan ekonomi umat: zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, hadiah, qard hasan (pinjaman tanpa bunga), kaffarat, fidyah, dam, hadyu, rikaz, ghanimah/faiโ, serta wasiat untuk kepentingan sosial.
Keempat belas instrumen ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kewajiban, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang berlapis dan berkelanjutan. Ada yang bersifat wajib seperti zakat. Ada yang sukarela namun berdampak luas seperti infak dan sedekah. Ada yang produktif dan berjangka panjang seperti wakaf. Ada yang situasional seperti kaffarat, fidyah, dam, dan hadyu. Ada pula yang memperkuat relasi sosial serta distribusi kekayaan seperti hibah, hadiah, dan wasiat.
Dalam kerangka inilah pernyataan tersebut semestinya dipahami. Bukan ajakan meninggalkan zakat, melainkan ajakan meninggalkan pola pikir yang berhenti pada zakat semata.
Sebab zakat mungkin mampu menjaga agar seseorang tidak terjerumus dalam kemiskinan ekstrem. Namun, untuk membangun umat yang kuat dan maju, dibutuhkan lebih dari ituโdiperlukan aliran kebaikan yang terus hidup melalui berbagai pintu amal.
Jika zakat adalah fondasi, maka lumbung-lumbung ini adalah bangunan yang menyempurnakannya. Jika zakat menjaga, maka infak dan sedekah menguatkan, dan wakaf membangun masa depan.
Polemik ini pada akhirnya menjadi pelajaran berharga: tidak semua potongan adalah keseluruhan, dan tidak semua kutipan mewakili maksud. Diperlukan kebijaksanaan agar kita tidak tergesa-gesa dalam menilai, serta mampu menangkap pesan yang lebih dalam.
Karena pada akhirnya, umat tidak akan bangkit hanya dengan kewajiban yang ditunaikan, tetapi dengan kepedulian yang dihidupkanโmelalui setiap jalan kebaikan yang telah diajarkan.
*Penyuluh Agama Islam
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam โ Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, danโฆ
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam โ Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unitโฆ
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.โฆ



