Bojonegoro, bimasislam—Masjid Agung Darusslam merupakan masjid kebanggaan warga Bojonegoro. Masjid yang terletak di sisi barat alun-alun Bojonegoro ini berdiri dekat dengan gedung perkantoran milik pemerintah dan swasta, pendopo, kampus-kampus, Rumah sakit, sekolahan, juga pusat perdagangan yakni pasar Bojonegoro. Dengan model arsitektural khas rumah ibadah di tengah-tengah lokasi seperti itu, menjadikan Masjid yang dibangun pada 1825 itu sebagai pusat perhatian.
Masjid ini diyakini sebagai masjid yang memiliki akar sejarah tersendiri bagi warga Bojonegoro. Seorang santri yang juga merupakan tokoh laskar Diponegoro bernama Patih Pahal, telah mewakafkan sebidang tanah yang pada tahun 1825 dijadikan lokasi pembangunan sebuah Masjid. Proses pembangunan masjid ini sendiri konon dilakukan sambil berperang melawan penjajah di Sepanjang tepi sungai Bengawan Solo.
Menurut cerita masyarakat, pembangunan masjid kebanggaan warga Bojonegoro itu dilakukan dengan semangat gotongroyong yang luar biasa. Setiap hari, masyarakat secara bergantian sukarela mencari material bangunan berupa batu, kayu, dan pasir, tentu saja pada zaman kolonial, material tersebut bukan barang yang mudah dicari. Selain itu, semangat gotong royong tersebut juga terlihat dari peran serta warga yang bergantian memberi konsumsi untuk para tukang yang merupakan sisa-sia laskar pasukan Diponegoro. Ketika itu, bangunan masjid masih sederhana dan dibangun semi permanen.
Semua bangunan disusun darikayu termasuk pilar dan dinding, hanya bagian fondasi yang menggunakan batu dan pasir.
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan. Puncaknya pada tahun 2014, bangunan masjid dipugar besar-besaran dengan mengubah bagian mihrab, ruang utama shalat, serambi, alur sirkulasi udara, fasilitas sanitasi, menara, dan sejumlah bangunan kantor keagamaan seperti MUI, DMI, LPPTKA-BKPRMI, Takmir, Remaja Masjid, Perpustakaan, Ruang Siaran Radio, serta Ruang Pertemuan.
Pada tahun 2014 itu, bangunan masjid terlihat lebih modern, dilengkapi berbagai ornamen dan sentuhan-sentuhan khas arsitektural masjid. Meski begitu, renovasi tersebut tetap tidak menghilangkan bangunan lama seperti pilar –pilar kayu yang menjulang karena selain dianggap memiliki nilai historis juga melestarikan harta benda wakaf.
Serambi masjid dibuat persegi panjang, selain itu juga terdapat dua tiang penyangga pada bagian atap. Di bagian dalam, ruangan antara pintu depan dan pintu utama dihiasi dengan atap berbentuk bulat yang merupakan lekukan kubah. Sementara itu pada bagian serambi terdapat 3 buah lampu Kristal dan 2 tangga di kedua tepinya.
Selain warisan arsitektural lokal, secara umum model Masjid Darussalam juga dipengaruhi oleh tradisi arsitektural bergaya India-Cina-Timur Tengah dan bahkan Eropa. Corak Jawa pada bangunan Masjid Agung Darussalam dapat dilihat dari bentuk atap tumpang yang berada di ruang utama shalat, bagian ini merupakan salah satu peninggalan ciri khas masjid pada tahun 1984.
Pada awalnya, model atap bersusun tumpang yang dimiliki Masjid Agung Darussalam ini berdiri tepat di belakang atap kubah. Akan tetapi perlahan diganti dengan atap kubah besar di atas serambi. Bagian lain yang mencerminkan corak lokal Jawa adalah empat tiang utama yang terbuat dari kayu dengan hiasan pasak di sudut-sudut tiang.
Sementara itu pengaruh Timur Tengah bsia dilihat dari menara yang berbentuk Spiral memutar, model semacam ini memiliki kemiripan dengan arsitektural gaya khas kota Samarra di Irak. Selain itu, bentuk-bentuk lengkung di bagian pintu di serambi depan, dan bentuk setengah lingkaran melancip serta bentuk kubah juga menunjukkan pengaruh timur tengah dan India.
Selain itu Masjid Darussalam Bojonegoro juga dihiasi dengan sejumlah lampu hias bergaya Eropa dan ukiran-ukiran kayu bergaya Tiongkok di bagian mimbar, beduk, pintu, dan soko guru.
Dengan luas 2.422 meter persegi, masjid ini mampu menampung hingga 1.100 jamaah.Jika Anda berkunjung ke Bojonegoro, pastikan untuk tidak melwatkan kesyahduan saat beribadah di masjid ini!
(vikri/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



