Profil kita kali ini menampilkan sosok yang tidak asing lagi di lingkungan unit Penerangan Agama Islam. Beliau adalah Kepala Sub Bagian Tata Usaha Direktorat Penerangan Agama Islam, Dasma, MM. Sebagai satker Eselon II dengan tugas dan fungsi yang cukup luas, Subbag TU tentu berperan besar dalam kelancaran program-program. Dan semua itu tak lepas dari sosok yang bersahaja nan penuh semangat.
Pria kalem dan murah senyum ini lahir pada 6 Januari 1963 dan besar di Bambu Apus, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (sebelumnya bergabung dengan Kabupaten Tangerang). Mengawali pengabdian sebagai PNS di Kementerian Agama Kabupaten Bogor pada tahun 1984 s.d 1986, ia pun memutuskan mutasi ke Biro Umum Setjen Departemen Agama pada tahun 1986. Barulah di tahun 2003 ia bergabung dengan Penams Islam.
Abang, begitu biasa dipanggil staf Subag TU, adalah sosok yang telah penuh dengan asam manis bidang Pena Islam. Sebelum bergabung dengan Ditjen Bimas Islam, Ditpena Islam telah mengalami beberapa kali perpindahan, yaitu berada di bawah Ditjen Kelembagaan Agama Islam dengan nomenklatur Penamas. Sejak tahun 2006 bergabung dengan Ditjen Bimas Islam, ia memilih tetap menjadi bagian Penamas dengan nomenklatur baru, yaitu Direktorat Penerangan Agama Islam.
Saat berbincang dengan bimasislam, ia menuturkan kecintaannya terhadap tugas dan fungsi Ditpena Islam. Baginya, pengabdian di bidang penerangan agama Islam menghadirkan tantangan yang terus berkembang setiap waktu. Pada setiap periode, tuturnya, beragam tantangan muncul dan mengharuskan sebuah respon yang erbeda pula. Di sinilah letak dinamisnya program-program Penerangan Agama Islam.
“Ada banyak program yang selalu baru karena mengikuti kebutuhan di masyarakat. Misalnya saja, kami akan dihadapkan permasalahan keumatan yang terus berkembang, dan di sinilah tantangannya,” tuturnya dengan penuh percaya diri.
Ia mencontohkan, setiap tahun sering bermunculan masalah-masalah keagamaan yang tak jarang berujung pada konlfik. Kemunculan aliran-aliran sempalan di tengah-tengah masyarakat yang tak jarang memicul konflik social, adalah realitas yang senantiasa dihadapi jajaran Penerangan Agama Islam. Tentu hal tersebut ituntut keluasan wawasan dan strategi agar program kerja benar-benar tepat sasaran.
Terkait dinamika sosial tersebut, ayah dari seorang puteri dan dua orang putera ini menggarisbawahi pentingnya pola penganggaran yang tepat agar dapat mendukung kinerja di lapangan. Guna menyiasati hal tersebut, ia beserta jajaran melakukan pemetaan potensi sosial keagamaan sebelum penyusunan program kerja tahun berikutnya.
“Tim kami selalu memantau perkembangan di media-media, penelitian dan laporan dari stakeholders di seluruh Indonesia. Dari sinilah kami kemudian memformulasikan program-program yang support terhadap berbagai dinamika sosial keagamaan di masyarakat,” ujarnya.
Saat ditanya tentang kiat kerjanya, Dasma menyampaikan dua hal, yaitu kerja dan inovasi yang coba ia hadirkan dalam sistem kerja Subbag TU. Selain itu aspek keterbukaan dengan para staf menjadi hal penting. Sebagai manajer, ia mendorong seluruh sistem kerja melakukan mobilitas yang cepat dan tepat. Ia tak segan-segan turun memberikan arahan kepada jajaran Subbag TU dan memastikan masing-masing pihak menunaikan tugasnya dengan baik. Di sinilah ia memberikan kebebasan kepada staf untuk melakukan inovasi dalam rangka peningkatan kualitas kinerja.
“Kami biasa berdiskusi. Siapa yang punya ide bagus, kita laksanakan bersama-sama. Kalau sudah bekerja, semua bergerak. Saya memberikan kebebasan staf untuk berinovasi sepanjang itu sejalan dengan ketentuan dan berdampak positif terhadap kinerja Ditpena Islam,” tegasnya denan penuh semangat.
Menjadi kepala Subag TU sejak 2009, tentu sangat menjenuhkan. Tidakah ada harapan untuk mencoba jabatan baru pak?
“Saya ini menjabat hampir tujuh tahun. Sudah tiga kali berganti Direktur, juga berganti Renstra. Saya kira tantangan yang harus saya tunaikan dengan baik. Saya optimis bahwa rasa jenuh itu akan tersisihkan oleh semangat dan inovasi yang kita lakukan bersama-sama,” senyum hangat menutup perbincangan dengan bimasislam.
(jaja/thobib)



