Cilacap, bimasislam-- Agama menjadi sarana bagi umat dalam memahami dunia. Keberlangsungan hidup masyarakat yang penuh lika liku melahirkan beragam problema manusia. Dengan berbagai alasan yang mereka minta untuk dimaklumi, terkadang manusia menganggap biasa dengan perilaku tak biasa.
Sederetan permasalahan manusia seperti seakan bisa dibuat menjadi suatu pembiasaan bagi masyarakat tertentu sehingga merasa itu bukan sebagai masalah. Bahkan berkembang kebiasaan yang melanggar ketuantuan agama, tetapi seperti hal yang biasa-biasa saja. Demikian komentar Juwahir, sang penyuluh agama di Kampung Laut mengawali bincang bincang dengan bimasislam.
Juwahir adalah seorang penyuluh agama Islam yang bertugas di Kampung Laut, Cilacap. Berbagai romantika menyuluh dinikmati dan dijalani Juwahir sejak sepuluh tahun yang lalu disana.
Kampung Laut adalah sebuah pemukiman yang terletak di kawasan antara daratan Cilacap sebelah barat dengan pulau Nusakambangan. Kampung Laut merupakan kecamatan yang berada di perairan Segara Anakan. Wilayahnya tanah daratan yang berasal dari tanah timbul akibat pengendapan lumpur di laguna Segara Anakan. Dimanadaerah Kampung Laut terjadi karena pendangkalan perairan. Ada empat desa di Kecamatan Kampung Laut, yaituKlaces, Panikel, Ujunggalang, dan Ujunggagak.
Secara topografi, kondisi Kampung Laut memang berbeda. Daerahnya dipisahkan perairan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Cilacap. Untuk menuju kesana perlu menyeberang sekitar dua jam dengan perahu dari pelabuhan Sleko Cilacap. Jadwal berangkat perahu yang hanya pada jam tertentu dan harus mencukupi satu rombongan, karena untuk memenuhi biaya satu kali perjalanan menyeberang. Dan untuk menuju tempat pusat aktifitas masyarakat, dibutuhkan perjalanan darat dengan sarana transportasi terbatas. Tidak jarang kondisi jalan yang belum layak menjadi kendala untuk menuju lokasi dakwah. Ditambah lagi tantangan kondisi sosial masyarakat yang masih ada penolakan terhadap orang luar yang datang ke Kampung Laut.
Mobilitas Juwahir ke pusat Cilacap dibatasi sarana transportasi yang ada. Oleh karena itu sang penyuluh memilih menetap selama hari kerja di Kampung Laut. Menginap di kantor KUA dan menggunakan fasilitas seadanya, termasuk pada awal bertugas tahun 2006 yang masih tanpa listrik.
Tetapi lelaki yang gemar berdakwah ini sangat bersyukur terhadap perbaikan tatanan kehidupan masyarakat disana. Seperti dengan tradisi pesta kelompok masyarakat tertentu yang memakan daging babi hutan dan anjing. Mereka pada perayaan momen-momen khusus menyajikan dua jenis hewan yang dilarang itu. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman beragama mereka. Dimana mereka terbiasa untuk tidak melaksanakan ibadah syari’at Islam sehari-hari sehingga membentuk kebiasaan menghalalkan apa saja. Apalagi dipengaruhi kondisi alam Nusa Kambangan yang sebagian besar adalah hutan dan masih banyak binatang buasnya. Namun alhamdulillah perlahan-lahan kebiasaan tersebut sekarang sudah mulai mereka tinggalkan.
Juwahir masih mengingat bagaimana ketika baru bertugas disana. Beliau disampaikan oleh salah seorang tokoh masyarakatnya agar jangan menyinggung-nyinggung hal tersebut dulu. Karakteristik masyarakat yang keras dan jauh dari agama, akan sangat mudah tersinggung dan memicu tindakan emosional yang justru membahayakan keselamatan Juwahir. Meski awalnya Juwahir sempat belum yakin untuk bisa memberikan pencerahan disana, namun karena kuatnya semangat ibadah karena Allah Subhanawata’ala membuat Juwahir menikmati pekerjaannya. Butuh tiga tahun bagi Juwahir untuk bisa memulai menyampaikan tentang ketentuan halal haram kepada masyarakat. Mendekati masyarakat dengan hati menjadi kunci bagi Juwahir berdakwah di Kampung Laut.
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin memberikan fungsi edukatif, penyelamatan dan menguatkan silaturahim. Dalam hal ini, keberadaan seorang penyuluh agama Islam menjadi sangat penting ditengah masyarakat guna menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin.
Penyuluh Agama Islam berperan strategis di masyarakat, tidak hanya sebagai pendakwah Islam tetapi juga panutan, motivator, pembimbing, penerang, dan penyambung urusan pemerintah dengan masyarakat. Pada aplikasinya penyuluh agama menjadi tempat bertanya dan tempat mengadu bagi masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada, termasuk sebagai konsultan atau penasehat. Penyuluh yang saat ini juga ikut dalam Tim Pembinaan Keagamaan di Lapas Nusa Kambangan juga yang sangat merasakan hal ini. (lady/bimasislam).
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



