Bogor, Bimas Islam — Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkap ancaman serius di ruang digital yang menyasar generasi muda. Hal itu disampaikan dalam kegiatan “Mabar Ramadan: Beragama dengan Damai dan Asyik” yang digelar Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama di Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI), Ciawi, Bogor, Kamis (26/2/2026).
Perwakilan Direktorat Pencegahan Densus 88, Eki Mufaqqih, menyebut sebanyak 70 anak di 19 provinsi teridentifikasi terpapar konten kekerasan ekstrem melalui komunitas digital bernama True Crime Community (TCC). Kelompok radikal diduga memanfaatkan ruang tersebut untuk merekrut anak muda.
“Kelompok radikal menjadikan platform populer seperti TikTok, game online, hingga Roblox sebagai saluran rekrutmen dan indoktrinasi. Pesan ekstremis kini disamarkan dalam video pendek yang menarik dengan musik yang membangkitkan emosi,” ujar Eki di hadapan ratusan kreator konten dan mahasiswa.
Menurutnya, anak muda yang memiliki daya kritis, tetapi belum memiliki kematangan pengetahuan, menjadi sasaran empuk penyebaran paham kekerasan.
Senada dengan itu, peneliti Maarif Institute, Pipit Aidul Fitriyana, menilai pola penyebaran ekstremisme mengalami perubahan signifikan seiring perkembangan teknologi digital. Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan bahwa algoritma media sosial memperkuat efek ruang gema (echo chamber).
“Algoritma ini secara jitu menargetkan remaja dan perempuan, memfasilitasi self-radicalization atau rekrutmen mandiri yang sangat berbahaya,” kata Pipit.
Ia memaparkan, pada fase awal, pelaku teror umumnya memiliki doktrin ideologi yang kuat dan terhubung dengan jaringan tertentu. Pada fase berikutnya, pelaku merupakan individu yang mencari ideologi dan kemudian terpapar ajaran kekerasan melalui media sosial.
Kini, menurutnya, muncul fase baru yang lebih kompleks. “Dua pelaku teror terakhir yang merupakan pelajar sama sekali tidak terkait dengan kelompok ekstrem lama. Keduanya melakukan aksi kekerasan dilatarbelakangi faktor hubungan keluarga yang tidak harmonis, kemiskinan, dan perundungan. Akumulasi tekanan ini membuat mereka terhubung dalam komunitas maya yang menawarkan kekerasan sebagai jalan keluar. Sayangnya, mereka tidak memahami konteks kekerasan itu,” ujarnya.
Kegiatan Mabar Ramadan ditutup dengan tur edukasi di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Ciawi. Peserta diajak melihat proses pencetakan mushaf sebagai bagian dari penguatan literasi keagamaan yang sahih untuk menangkal narasi radikal. Acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan salat berjemaah guna mempererat silaturahmi antar komunitas.
Humas UPQ
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



