Alor, bimasislam -- Kehadiran para penyuluh agama Islam di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membuat semangat keagamaan masyarakat Muslim setempat terus bergeliat. Selain jadi guru mengaji, mengisi ceramah, para penyuluh menjadi figur terdepan dalam setiap aktifitas keagamaan umat.
Demikian reportase bimasislam saat menyambangi komunitas penyuluh agama Islam se-Kabupaten Alor, Kamis-Minggu (21-24/09/2017). Sepanjang waktu itu, bimasislam menyambangi para penyuluh, berdiskusi, dan menyaksikan langsung aktifitas penyuluhan keagamaan yang mereka lakukan.
Ustadzah Nurjannah, misalnya. Penyuluh agama Islam yang bertugas di kawasan Teluk Mutiara, Alor, ini rutin mengajar mengaji kepada anak-anak dan remaja setempat. Tak hanya di tempatnya menyuluh, perempuan yang pernah nyantri di Pesantren Daarul Arqom Sawangan, Depok, Jawa Barat ini mengajar mengaji anak-anak di tempatnya tinggal.
Selain anak-anak, Nurjannah juga mengajar ibu-ibu di majelis taklim. Ia rutin menggelar pengajian bersama ibu-ibu setempat. “Sesekali saya juga diminta kasih siaran keislaman di radio. Seperti saat bulan ramadhan,” tuturnya.
Pun halnya Ustadzah Nur’azizah Tilaksya. Ustadzah alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kalabahi ini rutin mengajar iqra dan membaca al-Quran bagi 30-an anak-anak di tempat penyuluhannya, Kelurahan Wetabua, Kecamatan Teluk Mutiara.
Selain anak-anak, Nur’azizah juga rutin menggelar majelis taklim mingguan bagi ibu-ibu setempat. Selain meningkatkan pemahaman keislaman, majelis taklim juga digelar dengan harapan terciptanya hubungan sesama Muslm menjadi lebih erat.
“Agar ibu-ibu mau mengaji, kita bikin kegiatan majelis digabung acara arisan. Dari situ ibu-ibu biasanya jadi lebih tertarik,” kisahnya.
Tak kalah dengan Nurjannah maupun Nur’Azizah, Ustadz Wahyuddiin Kamengkila juga hampir setiap malam harus mengajar mengaji kepada 30-an anak-anak dan remaja lelaki di Desa Lefokisu, Alor Barat Laut. “Biasanya anak-anak mengaji selepas Isya hingga pukul 22.30 WITA malam,” tuturnya.
Lelaki yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini bercerita, ia kesulitan jika aktifitasnya mengajar ngaji anak-anak dan remaja laki-laki dibatasi selama tiga hari seperti kewajibannya sebagai penyuluh.
“Semangat anak-anak belajar sangat tinggi. Tak tega jika mengajar hanya tiga malam,” imbuhnya.
Kepala Kantor Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor, Drs. Muhammad Marhaban, mengungkapkan kehadiran penyuluh di tengah-tengah masyarakat Muslim Alor menghadirkan suasana berbeda. Masyarakat Muslim makin bersemangat dalam mempelajari ajaran dan menyemarakkan ibadahnya.
Menurutnya, sebelum adanya penyuluh kehidupan keagamaan masyarakat Muslim Alor berlangsung biasa saja.Namun setelah penyuluh hadir, mesjid-mesjid menjadi ramai, banyak anak-anak remaja pergi mengaji.
“Kehadiran penyuluh membuat semangat keislaman umat meningkat,” katanya.
Pada Ramadhan 1438 H yang lalu, contohnya, para penyuluh menggelar Safari Ramadhan ke desa-desa se-Kabupaten Alor. Selain memberikan kuliah keagamaan menjelang berbuka, tak jarang para penyuluh juga menjadi imam shalat tarawih.
(Zenal Muttaqin/foto: bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



