Pandeglang, Bimas Islam — Di sebuah sudut terpencil di Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, langkah dakwah tak selalu dimulai dari mimbar. Ia justru bertumbuh dari jalan terjal yang harus dilalui, dari pintu-pintu rumah yang diketuk dengan penuh kesantunan, dan dari percakapan hangat yang pelan-pelan menumbuhkan kepercayaan. Di wilayah inilah seorang dai dari Program Dai 3T Kementerian Agama menjalankan tugasnya dengan penuh kesabaran.
Perjalanan menuju lokasi binaannya memakan waktu hampir tiga jam dari pusat kecamatan. Sepeda motor hanya bisa menjangkau batas jalan berbatu. Selebihnya, ia harus melewati medan terjal, pegunungan, perkebunan sawit, hingga kebun warga. Saat musim hujan tiba, jalan berubah licin dan berbahaya. Namun keterbatasan akses tak pernah menyurutkan tekadnya untuk hadir membersamai masyarakat.
Bangunan tempat belajar pun jauh dari kata mewah. Dinding papan, atap seng, dan lantai semen yang sebagian retak menjadi saksi aktivitas mengaji anak-anak setiap sore. Ketika hujan turun deras, suara seng kerap mengalahkan lantunan ayat suci. Beberapa kali kegiatan terhenti karena atap bocor dan air menggenang. Tetapi semangat belajar anak-anak tetap menyala, seolah menguatkan bahwa harapan tak pernah benar-benar padam.
Bagi orang luar, desa ini mungkin tampak sunyi dan terisolasi. Jaringan telepon terbatas, listrik pun sempat hanya menyala pada waktu tertentu. Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan masyarakat yang perlahan membuka diri dan menyambut pendampingan dengan hati yang lebih lapang.
Ustaz Muhidin mengakui, masa awal penugasan bukanlah fase yang mudah. Ada jarak sosial dan kehati-hatian dari sebagian warga. Trauma masa lalu membuat mereka tidak serta-merta percaya pada pendatang baru. Namun ia memilih jalan persuasif: bersilaturahmi dari rumah ke rumah, duduk bersama tokoh masyarakat, dan mendahulukan mendengar sebelum berbicara.
“Saya belajar bahwa dakwah bukan soal seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita memahami. Ketika masyarakat merasa dihargai, pintu hati mereka terbuka dengan sendirinya,” tuturnya pelan saat dihubungi pada Kamis (26/2/2026).
Pendekatan yang ia lakukan tidak konfrontatif. Beberapa pemahaman keagamaan yang kurang utuh diluruskan melalui dialog dan keteladanan, bukan perdebatan. Ia menekankan pentingnya mengikuti tuntunan ulama yang kredibel, memperkuat dasar keimanan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter.
Sebagai bagian dari Program Dai 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang digagas Kementerian Agama, kehadiran dai di wilayah seperti ini memang diharapkan menjadi jembatan penguatan pembinaan keagamaan. Dakwah yang diusung bukan sekadar ceramah, tetapi pendampingan sosial yang menumbuhkan empati dan memperkuat kohesi masyarakat.
Di tengah keterbatasan, kisah-kisah kecil perubahan menjadi penguat langkah. Ada seorang anak yang awalnya belum mengenal huruf hijaiyah dan jarang hadir belajar. Dengan pendampingan intensif dan pendekatan yang sabar, kini ia mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan berani memimpin doa di hadapan teman-temannya. Perubahan sederhana itu menjadi tanda bahwa proses yang dijalani perlahan membuahkan hasil.
“Yang membuat saya bertahan adalah melihat perubahan kecil itu. Ketika anak-anak mulai merasa sholat sebagai kebutuhan, bukan lagi kewajiban yang dipaksa, di situ saya merasakan makna pengabdian,” ujarnya.
Peran dai di wilayah 3T juga melampaui fungsi pengajar. Ia kerap diminta menjadi penengah persoalan kecil antarwarga, membantu menghubungkan masyarakat dengan fasilitas kesehatan, hingga mendampingi administrasi sederhana seperti urusan pernikahan ke KUA. Keberadaannya menjadi bagian dari denyut sosial desa.
Tantangan lain adalah rasa sepi dan keterbatasan komunikasi dengan keluarga akibat sinyal yang minim. Saat rindu datang, Muhidin menguatkan diri dengan tilawah malam dan menulis catatan harian dakwah. Baginya, pengabdian adalah proses menempa diri sekaligus melayani umat.
Meski demikian, ia menyimpan satu kekhawatiran: keberlanjutan pembinaan setelah masa tugas berakhir. Menurutnya, pembinaan akidah dan pembentukan karakter membutuhkan waktu panjang dan kesinambungan. Karena itu, ia mulai mendorong lahirnya kader-kader lokal yang kelak dapat melanjutkan estafet dakwah.
“Kami berharap ada generasi setempat yang tumbuh menjadi penggerak. Dakwah akan lebih kuat jika lahir dari rahim masyarakat itu sendiri,” katanya.
Program Dai 3T di Kabupaten Pandeglang bukan sekadar menghadirkan pengajar agama di wilayah terpencil. Ia adalah ikhtiar memulihkan kepercayaan, meluruskan pemahaman dengan hikmah, serta menumbuhkan harapan di tengah keterbatasan. Dari langkah-langkah kecil yang istiqamah, cahaya itu perlahan menyala.
Di pelosok negeri, di antara jalan terjal dan bangunan sederhana, dakwah menemukan maknanya yang paling hakiki: menghadirkan agama sebagai rahmat, menumbuhkan kedamaian, dan merawat persaudaraan dalam keberagaman.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Ditjen Bimas Islam, Ali Sibromalisi, menegaskan bahwa Program Dai 3T dirancang bukan hanya untuk menjawab keterbatasan akses pembinaan keagamaan, tetapi juga untuk memperkuat harmoni sosial di wilayah-wilayah yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
“Dakwah di wilayah 3T harus mengedepankan pendekatan moderasi beragama, menghargai kearifan lokal, membangun dialog, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat. Dai tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk membersamai,” ujar Ali.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran dan kemandirian masyarakat. Karena itu, Ditjen Bimas Islam terus mendorong lahirnya kader lokal agar pembinaan tetap berjalan setelah masa tugas dai selesai. “Keberlanjutan adalah kunci. Kami ingin cahaya dakwah itu tetap menyala, bahkan ketika program telah usai,” tandasnya.
Program Dai 3T di Kabupaten Pandeglang bukan sekadar menghadirkan pengajar agama di wilayah terpencil. Ia adalah ikhtiar memulihkan kepercayaan, meluruskan pemahaman dengan hikmah, serta menumbuhkan harapan di tengah keterbatasan. Dari langkah-langkah kecil yang istiqamah, cahaya itu perlahan menyala.
Di pelosok negeri, di antara jalan terjal dan bangunan sederhana, dakwah menemukan maknanya yang paling hakiki: menghadirkan agama sebagai rahmat, menumbuhkan kedamaian, dan merawat persaudaraan dalam keberagaman.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



