Semarang, Bimas Islam --- Siang itu, matahari Semarang terasa menyengat di Taman Simpang Lima. Di tengah orang-orang yang datang dan pergi mengikuti rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026, tiga lelaki berjalan menyusuri taman.
Mereka adalah Indra, Eko, dan Rizal.
Sapu lidi ada di tangan. Mata mereka sesekali tertuju ke tanah, mencari daun kering, bungkus makanan, botol minuman, atau apa pun yang tertinggal setelah keramaian.
Siang itu adalah giliran mereka bekerja.
Ketiganya bertugas pada shift kedua, dari tiga shift petugas kebersihan yang menjaga venue selama 24 jam. Shift pertama telah memulai pekerjaan sejak pukul 05.00 pagi, saat Simpang Lima belum seramai siang hari.
Ketika petugas pagi menyelesaikan tugas, Indra, Eko, dan Rizal mengambil giliran. Nanti, ketika pekerjaan mereka selesai, petugas shift berikutnya akan datang meneruskan.
Tiga shift. Dua puluh empat jam.
Begitulah kebersihan salah satu venue MTQ Nasional XXXI dijaga selama perhelatan yang berlangsung mulai 11 September 2026 itu.
Dari Satu Sudut ke Sudut Lain
Indra, Eko, dan Rizal merupakan pekerja harian lepas di Jawa Tengah. Mereka bertiga hanya sebagian dari puluhan petugas kebersihan yang disebar di berbagai venue MTQ Nasional.
Bagi Eko, bisa ikut bekerja dalam perhelatan nasional yang digelar di Jawa Tengah membawa kegembiraan tersendiri.
“Alhamdulillah, masih bisa bergabung di event ini. Cukup ramai,” kata Eko sambil menjalankan pekerjaannya, Jumat (18/9/2026).
Keramaian itu pula yang membuat pekerjaan mereka hampir tak pernah putus.
Namun, tugas mereka ternyata bukan sekadar berkeliling membawa sapu. Setiap sudut menjadi perhatian. Jika ada sampah, mereka membersihkannya. Jika ada minuman atau sesuatu yang tumpah, kain pel pun mengambil giliran.
“Setiap sudut pokoknya kami perhatikan agar nyaman. Kalau ada yang tumpah juga pasti kami pel. Bukan hanya sapu saja,” tutur Rizal.
Mereka tak menunggu hingga sampah menggunung. Satu bagian selesai, mereka bergerak ke bagian lain. Mata mereka terus memeriksa lokasi yang dilewati.
“Ya, pokoknya kami periksa tiap sudut lokasi. Terima kasih untuk masyarakat yang sudah sadar menjaga kebersihan, membuang sampah di tempatnya,” lanjut Indra.
Kalimat sederhana itu menyimpan satu hal penting. Menjaga kebersihan venue sebesar MTQ Nasional bukan hanya pekerjaan petugas. Ada ribuan orang yang datang dan pergi setiap hari, dan kebersihan ruang bersama juga bergantung pada kesadaran mereka yang menggunakannya.
Menjaga MTQ dari Tepi Panggung
Di panggung MTQ, para qari dan qariah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Para hafiz dan hafizah menjaga hafalan mereka. Peserta dari berbagai penjuru Indonesia datang membawa ikhtiar terbaik.
Beberapa meter dari panggung, Indra, Eko, dan Rizal mengambil bagian dengan cara berbeda.
Mereka menjaga agar ruang tempat orang menikmati MTQ tetap bersih dan nyaman.
Tak ada panggung untuk ketiganya. Tak ada pula tepuk tangan.
Mungkin sebagian pengunjung bahkan tak menyadari ketika mereka lewat membawa sapu atau membungkuk mengambil sampah.
Namun, sebuah perhelatan nasional memang tidak hanya ditopang oleh mereka yang terlihat di depan. Ada banyak tangan yang bekerja di balik keramaian: panitia, petugas keamanan, tenaga kesehatan, tim teknis, hingga petugas kebersihan.
Indra, Eko, dan Rizal berada di antara tangan-tangan itu.
Siang perlahan bergeser menuju sore. Orang-orang masih berdatangan ke Simpang Lima. Satu dua sampah kembali terlihat. Sapu pun kembali bergerak.
Nanti, ketika giliran ketiganya selesai, tangan-tangan lain akan datang meneruskan pekerjaan. Seperti mereka yang pagi tadi mulai bekerja sejak pukul lima.
Dari pagi, siang, hingga malam. Dari satu shift ke shift berikutnya. Dari satu sudut ke sudut lainnya.
Di tengah ramainya MTQ Nasional XXXI, Indra, Eko, Rizal, dan puluhan petugas kebersihan lainnya mungkin bukan orang-orang yang dicari kamera.
Namun, tangan-tangan merekalah yang memastikan satu hal sederhana, ketika ribuan orang datang menikmati MTQ Nasional 2026, mereka menemukan ruang yang tetap bersih dan nyaman.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



