Jakarta, Bimas Islam -- Pagi itu, upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di lingkungan Kementerian Agama berjalan dalam suasana yang lazim: barisan yang tegak, pakaian yang rapi, penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, dan wajah-wajah yang menanggung khidmat sebuah peringatan nasional.
Namun kemerdekaan tahun ini tidak sepenuhnya dirayakan dengan dada yang membusung. Di tengah upacara, ada satu momen ketika suasana seolah ditarik dari gegap gempita perayaan menuju kesunyian. Kepala-kepala menunduk. Tangan ditengadahkan. Doa dipanjatkan.
Bukan hanya untuk para pahlawan yang telah gugur. Bukan hanya untuk Indonesia yang sedang merayakan 81 tahun kemerdekaannya. Tetapi juga untuk mereka yang sedang berduka.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, dalam amanatnya, mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu.
Karena itu, kemerdekaan tidak cukup dirayakan. Ia harus disyukuri. Dan lebih dari itu, diwujudkan. Di titik inilah perayaan kemerdekaan di lingkungan Kementerian Agama menemukan wajah solidaritasnya. Ketika sebagian bangsa mengibarkan bendera dengan penuh kebanggaan, sebagian saudara sebangsa sedang menghadapi kehilangan akibat bencana.
“Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh ekonomi dan teknologi, bangsa besar juga dibangun oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan persatuan.” ujarnya di Jakarta. Senin, (17/8/2026).
Kalimat itu menjadi semacam jembatan antara upacara dan realitas di luar lapangan.
Sebab Indonesia yang dirayakan dalam upacara bukanlah Indonesia yang hanya berisi statistik pertumbuhan, capaian program, atau deretan angka pembangunan. Ia adalah Indonesia yang dihuni manusia—dengan kegembiraan, harapan, ketakutan, kehilangan, dan luka.
Do’a Kami Untuk Pulau Seberang
Ketika Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Arsad Hidayat memimpin doa, suasana berubah. Doa itu mula-mula mengalir sebagai ungkapan syukur. Kemerdekaan ke-81 dipandang sebagai momentum untuk memperkokoh persatuan dan menumbuhkan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
Lalu doa bergerak kepada mereka yang telah tiada. Para pahlawan dikenang. Amal bakti mereka didoakan. Pengorbanan mereka diminta untuk menjadi inspirasi bagi generasi yang masih hidup. Dari sana, doa bergerak lebih jauh.
Kepada saudara-saudara sebangsa yang tertimpa musibah gempa bumi. Kepada keluarga yang kehilangan. Kepada para penyintas. Kepada relawan. Kepada petugas yang bekerja di tengah situasi darurat. Dan kepada masyarakat yang masih menghadapi kemungkinan bahaya susulan. Satu per satu mereka disebut dalam doa.
Seolah-olah sebuah upacara yang berlangsung di satu tempat sedang membuka pintu menuju tempat-tempat lain yang jauh dari sana—tempat di mana kemerdekaan mungkin belum sempat dirayakan karena orang-orang masih sibuk menyelamatkan kehidupan.
Doa itu meminta kesabaran bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan. Kekuatan bagi penyintas. Keselamatan bagi masyarakat. Perlindungan bagi mereka yang bekerja dalam evakuasi dan pemulihan.
Di situlah kepala-kepala yang semula tegak menunduk. Bukan karena kalah, melainkan karena menyadari bahwa di dalam sebuah bangsa yang besar, penderitaan satu kelompok tidak pernah benar-benar menjadi urusan mereka sendiri.
Ada ironi yang diam-diam mengendap dalam setiap perayaan kemerdekaan. Setiap tahun, bangsa ini mengulang kisah tentang keberanian para pejuang yang mempertaruhkan nyawa untuk sebuah Indonesia yang belum mereka nikmati. Namun generasi hari ini mewarisi Indonesia yang sudah merdeka dengan tantangan yang berbeda.
Tidak ada lagi perang mempertahankan kemerdekaan dalam bentuk yang sama. Tetapi sedang ada bencana yang merobohkan rumah. Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Ada anak-anak yang harus kembali belajar setelah tempat tinggal mereka porak-poranda. Ada relawan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Ada petugas yang masuk ke wilayah rawan ketika sebagian orang justru berusaha menyelamatkan diri.
Karena itu, pesan Menag tentang perjuangan menemukan relevansinya kembali.
Jika dahulu para pendahulu mempertaruhkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, hari ini perjuangan itu, kata dia, harus diteruskan melalui ilmu, kerja keras, integritas, inovasi, dan pengabdian.
Perjuangan itu juga harus tampak dalam cara negara memperlakukan warganya. Dalam cara masyarakat menolong sesamanya.
Dalam cara orang yang jauh dari lokasi bencana tetap merasa bahwa penderitaan saudara sebangsanya adalah bagian dari persoalan bersama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Rangkaian Peringatan Kemerdekaan RI ke 81, di Kantor Kemenag Pusat, Jakarta. Senin, (17/8/2026).
Indonesia Besar Karena Keberagaman
Menag juga mengingatkan bahwa Indonesia besar karena keberagaman. Kerukunan, menurut dia, merupakan modal dasar pembangunan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk bermusuhan. Agama tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Pesan itu terasa semakin penting ketika dibaca berdampingan dengan doa untuk korban bencana.
Sebab bencana tidak pernah bertanya apa agama seseorang. Reruntuhan tidak mengenal suku. Tanah yang berguncang tidak memeriksa identitas. Dan duka tidak membutuhkan kesamaan keyakinan untuk menjadi duka bersama.
Di tengah situasi seperti itulah solidaritas menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling kuat: manusia menolong manusia.
Agama, dalam kerangka yang disampaikan Menag, tidak berhenti di ruang ibadah atau mimbar ceramah. “Agama yang hadir” adalah agama yang bekerja untuk bumi.
Ia hadir dalam pendidikan. Dalam pelayanan. Dalam filantropi. Dalam gotong royong. Dalam kepedulian terhadap lingkungan. Dan, ketika bencana datang, dalam keberanian untuk membantu mereka yang sedang kehilangan.
Doa kemudian bukanlah akhir. Ia adalah pengingat tentang apa yang semestinya dilakukan setelah tangan diturunkan. Ada pula pesan lain dari amanat Menag yang terdengar seperti peringatan untuk zaman yang semakin maju.
Teknologi boleh semakin maju. Tetapi manusia tidak boleh kehilangan hati nurani. Kalimat itu seakan menemukan maknanya sendiri dalam konteks bencana. Di tengah dunia yang mampu menghasilkan kecerdasan buatan, membaca data dalam hitungan detik, dan menghubungkan manusia dari belahan bumi yang berbeda, ukuran paling sederhana dari kemajuan tetaplah manusia.
Apakah seseorang yang sedang kesusahan merasa ditolong? Apakah keluarga yang kehilangan merasa tidak sendirian? Apakah masyarakat yang tertimpa bencana merasakan negara hadir?
Sebab teknologi dapat mempercepat informasi. Tetapi hanya manusia yang dapat mengubah informasi menjadi kepedulian.
Menag kemudian menyentuh satu hal yang lebih mendasar: jangan bekerja hanya untuk menyelesaikan program, tetapi untuk menyelesaikan persoalan.
Di balik setiap angka, katanya: Ada anak yang sedang bermimpi, ada guru yang sedang mengabdi, ada keluarga yang sedang berharap.
Kalimat itu sebenarnya melampaui konteks program Kementerian Agama. Ia adalah ukuran moral bagi setiap kerja pelayanan publik. Di ujung semuanya ada manusia yang menunggu manfaatnya.
Dan ketika bencana datang, ukuran itu menjadi semakin jelas. Yang dibutuhkan korban bukan hanya laporan tentang jumlah kerusakan. Bukan hanya data tentang jumlah pengungsi. Bukan hanya angka bantuan. Di balik setiap data itu ada manusia yang sedang menunggu pertolongan.
Maka upacara kemerdekaan di Kementerian Agama tahun ini menyisakan sebuah gambaran yang sederhana. Bendera tetap berkibar, barisan tetap berdiri. Indonesia tetap merayakan 81 tahun kemerdekaannya.
Tetapi untuk sesaat, negara menundukkan kepala. Kami mengingat mereka yang telah gugur, kami mengingat mereka yang sedang berduka, kami mengingat mereka yang bertahan.
Dan dari sana, kemerdekaan memperoleh makna yang lebih sunyi: bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, melainkan tentang kemampuan sebuah bangsa untuk tidak meninggalkan rakyatnya sendirian. Mungkin itulah mengapa doa hadir di tengah upacara. Karena ada hal-hal yang tidak cukup diselesaikan dengan pidato.
Ada luka yang membutuhkan pertolongan, ada kehilangan yang membutuhkan penghiburan, ada bencana yang membutuhkan gerak bersama, dan ada sebuah bangsa yang, di usia 81 tahun, masih harus terus belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya hak untuk merayakan.
Ia adalah kewajiban untuk peduli. Di hari ketika merah putih berkibar tinggi, kepala-kepala justru menunduk. Bukan untuk mengurangi kebanggaan sebagai bangsa, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik sebuah kemerdekaan, selalu ada manusia yang harus dijaga.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



