Jakarta, bimasislam— MUI pada hari Selasa (29/9) mengukuhkan kepengurusan barunya masa khidmat 2015-2020 di kantor MUI, Jakarta. Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin menyatakan bahwa MUI memiliki tantangan yang cukup besar di era sekarang, baik yang terkait dengan radikalisme beragama maupun banyaknya aliran-aliran agama yang menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Agama Islam.
Lebih lanjut Ma’ruf Amin mengatakan, selain itu tantangan untuk mengembangkan pendidikan bagi kader ulama, yang sesuai dengan realitas empiris dinyatakan jumlah ulama makin berkurang juga harus menjadi perhatian MUI.
“Pendidikan Kader Ulama yang selama ini diselenggrakan oleh MUI ternyata telah menghasilkan ulama-ulama yang sekarang mewarnai kehidupan beragama pada masyarakat Indonesia. Bahkan dari mereka ada yang menjadi pengurus MUI saat ini”, tegas pegiat ekonomi Syariah ini.
Pada momen yang sama, Prof. Dien Syamsudin MA, sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang baru saja datang pada acara di PBB bersama Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, menyatakan bahwa sekarang ada perkembangan baru terkait dengan pandangan PBB mengenai pembangunan masyarakat dan negara di dunia ketiga. Setelah berakhirnya program Millenium Development Goals (MDGs), maka sekarang disadari benar bahwa strategi pembangunan yang benar adalah melalui konsep Sustainable Development Goals (SDGs). Untuk kepentingan ini, maka semua negara di dunia harus terlibat di dalam mengimplementasikan konsep ini, sebab tanpa kebersamaan di dalam pembangunan ini, maka tujuan menciptakan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat dunia ketiga tidak akan tercapai.
Menurutnya, MUI dan organisasi-organisasi Islam lainnya harus mengambil peran di dalam konteks SGDs ini. Ada dua strategi yang bisa dilakukan, yaitu “Struggle for dan Struggle against”.
“MUI dapat memilih konsep pertama, yaitu MUI terlibat secara aktif di dalam pembangunan masyarakat bangsa dan bukan strategi melawan terhadap pembangunan bangsa”, tegasnya.
Berdasarkan peran MUI selama ini, maka pilihan pada strategi Struggle for menjadi pilihan cerdas, sebab hakikat MUI adalah Pembina, pembimbing dan penasehat bagi kelangsungan pembangunan masyarakat bangsa. MUI harus menjadi Tenda Besar Umat Islam. Makanya, sikap yang dikembangkan adalah inklusif dan bukan eksklusif. MUI harus lentur di dalam mengayomi seluruh organisasi keagamaan Islam dan juga masyarakat Islam, tutup Dien. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



