Jakarta, Bimas Islam -- Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 akan digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada 9–19 Oktober 2025. Kegiatan dua tahunan ini mengusung tema “Syiar Al-Qur’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan”.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, mengatakan bahwa STQH Nasional menjadi ajang untuk menumbuhkan semangat penguatan syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Tema tahun ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an dan Hadis bisa menjadi landasan untuk menjaga kerukunan serta mendorong kesadaran lingkungan. Contohnya, akan ada upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang buang sampah pada tempatnya,” ujarnya dalam Konferensi Pers STQH di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Menurut Abu, gelaran STQH di Kendari juga diproyeksikan memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Sedikitnya terdapat tiga potensi ekonomi utama yang akan tumbuh selama kegiatan berlangsung. Pertama, pemberdayaan UMKM lokal melalui bazar dan ekspo halal yang mengangkat produk-produk unggulan masyarakat Sulawesi Tenggara. Kedua, momentum ini menjadi ajang promosi wisata religi, budaya, dan alam daerah. Ketiga, sirkulasi ekonomi multisektor seperti penginapan, transportasi, konsumsi, suvenir, dan jasa lokal akan meningkat tajam selama hampir sepuluh hari pelaksanaan kegiatan.
“Setiap pelaksanaan STQH selalu memberi efek ekonomi berganda. Ini adalah bukti bahwa kegiatan keagamaan tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga membawa manfaat sosial dan ekonomi,” ungkapnya.
Abu menjelaskan, STQ pertama kali dihelat pada tahun 1978, sepuluh tahun setelah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional pertama pada 1968. Perbedaan utama antara STQ dan MTQ terletak pada cabang hafalan hadis. Cabang tersebut mulai diperkenalkan pada 2019 dalam bentuk eksibisi dan baru menjadi cabang resmi penilaian juara umum pada 2021.
Dikatakan Abu, STQH bertujuan memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan pemahaman, penghayatan, serta pengamalan ajaran Al-Qur’an dan Hadis. “Kami ingin nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis menjadi spirit pembangunan nasional dengan pendekatan keagamaan,” kata Abu.
Selain sebagai wadah syiar dan pembinaan, STQH Nasional juga berfungsi sebagai ajang seleksi qari dan hafiz terbaik untuk mewakili Indonesia pada kejuaraan internasional. Pendaftaran peserta STQH telah ditutup pada Juni 2025 dan ditetapkan pada 19 Agustus 2025. Sebanyak 1.027 peserta akan berlaga, terdiri dari 663 peserta inti dan 364 peserta cadangan.
Para peserta akan mengikuti berbagai cabang lomba, meliputi seni baca Al-Qur’an (142 peserta), hafalan Al-Qur’an (324 peserta), tafsir (44 peserta), dan musabaqah hafalan hadis (153 peserta). Tahun ini, Kementerian Agama juga menghadirkan cabang baru, yakni Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) sebagai bentuk penguatan literasi keislaman.
Untuk menjamin kredibilitas dan transparansi, Kemenag menerapkan sistem digital terpadu melalui aplikasi e-MTQ. Sistem ini mencakup pendaftaran peserta, verifikasi data, penentuan maqra’, hingga penilaian berbasis e-scoring. “Digitalisasi kami lakukan untuk memastikan efisiensi, validitas, transparansi, dan integritas penyelenggaraan,” jelas Abu.
Rangkaian kegiatan STQH Nasional XXVIII meliputi Malam Ta’aruf pada 10 Oktober 2025, Pawai Ta’aruf dan Pelantikan Dewan Hakim pada 11 Oktober 2025, serta pembukaan resmi pada malam yang sama di Arena Utama. Perlombaan akan berlangsung pada 12–17 Oktober, disusul Seminar Al-Qur’an, City Tour Kafilah, dan penutupan pada 18 Oktober 2025. Selain itu, juga akan digelar ekspo UMKM dan pentas budaya daerah.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Sultra, Muhamad Saleh, memastikan kesiapan daerahnya sebagai tuan rumah STQH Nasional XXVIII Tahun 2025. Ia menyampaikan bahwa progres pelaksanaan kegiatan tersebut telah mencapai tahap akhir, termasuk persiapan venue utama.
“Progres pelaksanaan STQH tahun ini hampir rampung, terutama untuk venue utama,” papar Saleh yang juga bertindak sebagai panitia daerah sekaligus Wakil Ketua II STQH Nasional 2025.
Menurutnya, seluruh kesiapan ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Daerah, terutama Gubernur Sulawesi Tenggara. Saleh menyebut, gubernur terus memantau perkembangan setiap lokasi penyelenggaraan STQH untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
“Bahkan Pak Gubernur setiap saat terus memantau lokasi atau venue-venue STQH. Sultra sebagai tuan rumah siap lahir batin untuk menyukseskan dan terus berkolaborasi dengan Pemda,” tandasnya.
Wcp/Mr



