Jakarta, bimaislam—Kesuksesan dakwah sangat ditentukan kualitas dai-nya. Dai adalah cermin akhlak umatnya, sehingga mereka harus membekali diri dengan kemampuan ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyyah. Kemampuan atas masalah-masalah kekinian atau yang nyata di masyarakat akan sangat membantu kesuksesan dalam berdakwah. Karena itu perlu diperbanyak dai mukim, yang bertugas membangun masyarakat dan didengar serta diikuti oleh umatnya. Sebaliknya, saat ini lebih banyak dai hinggap yang kurang efektif dalam berdakwah, karena sering ganti-ganti orang yang tidak sedikit saling bertentangan. Demikian dikatakan oleh KH. Din Syamsuddin di depan para peserta TOT Dakwah dan Pendidikan Akhlak Bangsa yang diselenggarakan oleh MUI di Jakarta (26/5).
Lebih lanjut Din mengungkapkan, bahwa bangsa kita saat ini sedang dalam masalah yang serius karena adanya kehancuran dalam kehidupan bangsa secara massif.
“Dulu kita sudah mendengar istilah di Sumatera Barat dengan Robohnya Surau Kami. Saat itu surau dijadikan tempat belajar mengaji, sekaligus tempat tidur anak-anak, sehingga karakter mereka mudah dibentuk. Belakangan telah dirasakan dengan kerusakan ekonomi dengan istilah Robohnya Kedai (Lapau) Kami. Bagaimana umat Islam saat ini sedang dalam kondisi ekonomi lemah. Gedung-gedung tinggi dengan kemampuan ekonomi yang besar dikuasai oleh para pemodal non-muslim. Islam tidak banyak memiliki simbol-simbol gedung megah. Dulu di pusat-pusat niaga dikuasi oleh saudagar santri, di Jakarta misalnya. Namun kemudian bergeser dan muslim menjadi lemah secara ekonomi.”, tambahnya.
“Saat ini juga telah sampai pada Robohnya Keluarga Kami. Banyak perceraian dimana-mana. Keretakan rumah tangga menjadi penyebab kemerosotan moral anak-anak bangsa. Namun yang lebih menyedihkan lagi adalahRobohnya Moral Kita. Meminjam istilah Arab, At-Tajahul al-Akhlaqi. Banyak orang-orang pintar namun mereka buta terhadap huruf-huruf moral”, katanya.
Oleh karena itu, ketua umum Muhammadiyah ini menyarankan agar para dai bisa tampil lebih efektif dalam menyampaikan pesannya sehingga dapat diikuti oleh masyarakat.
“Pelaksanaan TOT seperti harusnya lebih mementingkan metodologinya. Diajarkan bagaimana cara berfikir. Bagaimana mereka mengetahui sistem analisis, strategi mempengaruhi orang, dan lain-lain. Dengan cara ini agar bisa membawa umat makin maju. Kalau Barat maju karena etika protestan. China dengan etika confuisme. Islam harusnya bisa lebih maju dengan etika Islam yang lebih dahsyat dari mereka. Bagaimana Islam bicara tentang kedisiplinan dan kerja keras. Dengan demikian harusnya Islam bisa maju dengan kekuatan moralnya”, tutup Din. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



