Jakarta, Bimas Islam – Direktur Jaminan Produk Halal (JPH) Kementerian Agama, M. Fuad Nasar, mengatakan, makna Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 tetap relevan dan mengikat seluruh generasi bangsa Indonesia.
“Momentum Hari Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda-Pemudi Indonesia di Jakarta itu mengandung pesan yang mengikat setiap generasi bangsa,” ujar Fuad di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Menurut Fuad, Sumpah Pemuda yang lahir 17 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan merupakan ikatan luhur yang mempersatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.
“Ikrar itu menegaskan komitmen untuk menjaga kemerdekaan, kedaulatan, dan martabat bangsa di tengah tantangan global,” jelasnya.
Fuad menambahkan, Sumpah Pemuda mengandung amanat penting agar generasi bangsa terus mempertahankan kedaulatan tanah air, menjaga identitas nasional, serta menjunjung bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan.
“Bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Banggalah menggunakan bahasa Indonesia,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa keputusan para pemuda 1928 memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan merupakan peristiwa sejarah yang luar biasa. “Ini adalah keajaiban sejarah dan rahmat Tuhan. Bayangkan, ratusan suku di Nusantara dengan berbagai bahasa daerah bisa sepakat memilih satu bahasa sebagai bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu,” ujar Fuad.
“Jangan sia-siakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi formal, tetapi bahasa ilmu pengetahuan, bahasa peradaban, dan bahasa yang kita kenalkan ke dunia internasional,” tambahnya.
Fuad menekankan pentingnya menjaga jati diri bangsa sejalan dengan visi besar pemerintahan saat ini yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. "Dalam setiap kebijakan dan program, kita harus mengedepankan kedaulatan tanah air—baik secara fisik, ideologis, maupun yuridis—serta merawat identitas bangsa dan bahasa Indonesia sebagai kekayaan nasional,” kata Fuad.
Ia juga mengingatkan pesan para pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka yang menekankan pentingnya mempertahankan jati diri bangsa.
“Mereka berpesan agar kita selalu memegang teguh identitas sebagai bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan merdeka seratus persen,” tuturnya.
Fuad kemudian mengutip pesan Presiden Soekarno dalam pidatonya tahun 1951 saat membentuk empat komisi ilmiah negara. “Bung Karno mengatakan, ‘Jangan jual jiwa nasionalismemu untuk sepiring slogan internasional.’ Pesan itu jangan dimaknai secara harfiah, tetapi dipahami sebagai seruan untuk menjaga kedaulatan NKRI, martabat tanah air, dan keutuhan bangsa,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Fuad mengajak generasi muda menjadikan sejarah sebagai inspirasi dalam membangun masa depan bangsa. “Sejarah harus menjadi energi dan inspirasi kita. Kini tongkat estafet perjuangan ada di tangan generasi muda,” pungkasnya.
Fuad/Mr



