Jakarta, bimasislam– Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama menggelar rapat di Kantor Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 6, Rabu (15/11) guna membahas dan mendiskusikan persoalan aktual terkait hisab dan rukyat yang saat ini berkembang di masyarakat, baik dalam kacamata fiqh syar’i maupun astronomi.
Acara yang dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Muhammadiyah Amin ini dihadiri pula oleh Sekretaris Bimas Islam, Tarmizi, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Nurkhozin, Lembaga Falakiyah, Ormas Islam dan beberapa anggota LAPAN, BIG, BMKG, Planetarium, Bosccha.
Dalam sambutannya, Muhammadiyah Amin menekankan tentang pentingnya Pemerintah merespon secara cepat dan tepat terkait problematika keagamaan yang dihadapi oleh masyarakat muslim Indonesia, termasuk di dalamnya persoalan jadwal awal shalat shubuh dan isya yang belakangan diperbincangkan masyarakat.
Bersama Tim Hisab Rukyat, Muhammadiyah Amin menyampaikan beberapa kesimpulan rapat, diantarnya kesepakatan untuk menjadikan metode fikhiyah sebagai barometer utama dalam menjawab problematika umat di atas.
“Al-Jam’u baina Taghlis wal Isfar dalam konteks fikih yang menempatkan kriteria awal waktu subuh yang saat ini dianut Pemerintah, sudah benar, yaitu keterangan yang menjelaskan posisi matahari pada ketinggian minus 20 derajat. Dimana rentan penelitian di Indonesia menghasilkan ketinggian antara minus 14 sampai minus 20. Natijah ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), ungkap Amin.
Dengan itu Amin pun berharap bahwa melalui hasil dari rapat Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama ini bisa menjawab persoalan-persoalan umat dan juga menjadi solusi terbaik demi terciptanya kerukunan peribadatan keagamaan di lingkungan umat.
“Bersamaan dengan ini, pemerintah akhirnya berharap kepada masyarakat, agar senantiasa dapat menjalankan proses ubudiyahnya dengan tenang. Dan di sini kami juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Untuk itu alangkah baiknya agar melakukan pula kajian-kajian observasi yang komprehensif dan tidak bersifat parsial, melainkan harus ditempuh pula pelbagai aspek lainnya, seperti fikih, astronomi dan meteorologis, yang bertujuan untuk memberikan nilai kemaslahatan yang luas bagi umat, pungkas Amin.
(Ismail Fahmi-Muh. Syafaat/foto:bimasislam)



