Yogyakarta, bimasislam—Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kemenag RI, Machasin mengungkapkan saat ini ada beberapa isu penting yang beredar dimasyarakat. Setidaknya ada enam isu penting yang perlu segera direspon. Untuk merespon itu, diperlukan jurnalisme yang menyejukkan dan berimbang.
“Diluar sana ada satu jenis jurnalisme yang boleh seenaknya saja menafsirkan ayat suci dan seterusnya. Mungkin sebagian benar teksnya tapi pemahamannya saya kira tidak benar. Kalau tidak diimbangi dengan jurnalisme yang sejuk, kehidupan beragama yang saling menghormati itu bisa berbahaya”, ungkap Machasin saat membuka workshop jurnalis keagamaan di Yogyakarta, (3/10).
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu lantas menguraikan enam isu penting yang akhir-akhir ini dianggap cukup menggelisahkan. Pertama adalah penyebaran berita tanpa konfirmasi. “berita yang tanpa dilakukan konfirmasi biasanya terjadi di media sosial, terutama di facebook dan sejenisnya”, ungkap Machasin.
Kedua, kata Mcahasin adanya pelemahan akal sehat, mempercayai begitu saja apa yang disampaikan orang dan ketiga masih adanya tuduhan sesat/kafir dengan mudah yang keluar dari sesama muslim. “Saya heran ada seorang profesor yang mempercayai seorang dukun, ini memprihatinkan”, kata Machasin.
Keempat adalah pelecehan terhadap otoritas keagamaan. “Bayangkan, ada orang yang baru belajar Islam dari internet lalu kemudian dengan mudahnya menyalahkan seorang profesor tafsir, bagusnya tidak mudah menyalahkan tetapi adu argument saja”, terang Machasin.
Kelima, lanjut Macashin yaitu adanya penggunaan isu agama dalam kampanye pilkada secara tidak sehat dan Keenam adanya Islamphobia dan terorisme atas nama Islam. Untuk poin kelima, mantan Kepala Badan Litbang Kemanag RI itu berharap agama tidak dijadikan alat untuk merebut kekuasaan. Sedangkan masalah Islamphobia dirinya tidak begitu khawatir karena Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Dalam rangka merespon 6 isu tersebut Machasin mengajak kepada masyarakat untuk memilih informasi yang memberi manfaat besar. Sedangkan kepada para penyuluh agama Islam dirinya mengingatkan akan tugasnya untuk merespon persoalan di atas. “Tugas kita adalah menjaga ketertiban, mengarahkan ke kehidupan yang cerdas, pelemahan akal sehat harus ditangkal dan mengembangkan nilai luhur bangsa yaitu kebersamaan dan saling menghormati”, tegasnya.
Diakhir sambutannya pria yang menguasai 7 Bahasa Internasional itu menegaskan Jurnalis mempunyai tugas mulia yaitu untuk memberitakan kebenaran dan keseimbangan yang menjunjung nilai luhur bangsa.
Untuk diketahui, Workshop Jurnalis Keagamaan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari penyuluh agama Islam fungsional dan non PNS se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dimulai 3-5 Oktober 2016. Praktisi media sosial, Robi Soegara dipercaya menjadi fasilitator selama acara.
(syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



