Jakarta, bimasislam — Pembuatan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2013 unit Bimas Islam diperlukan kesungguhan semua unit agar memberikan data-data yang memadai terhadap capaian kinerjanya selama ini. “Untuk membuat LAKIP yang baik, selain harus didukung dengan penyajian yang menarik, desain yang bagus, juga perlu dukung oleh data-data yang valid”, tegas Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Abdul Djamil, MA, dalam sambutan rapat penyusunan LAKIP Ditjen Bimas Islam.
Lebih lanjut Djamil menekankan, bahwa pembuatan LAKIP saat ini mungkin mengalami kesulitan karena kurang konsistennya pelaksaaan Renstra, Indikator Kinerja, dan Sub-Indikator, sehingga diperlukan upaya untuk mensinkronkan. “Saya memahami kondisi ini karena pembuatannya sering tidak memberi waktu yang cukup. Apalagi cara pikirnya hanya melaksanakan pekerjaan dan tidak biasa berdasarkan rumusan yang baku”, ungkapnya menanggapi paparan yang disampaikan oleh Kabag Ortala Eddy Mawardi, MH, dan pelaksana Bagian Ortala, Rita Sukma Dewi.
Djamil juga mengkritisi terhadap visi Bimas Islam yang terlalu bersayap, yaitu terwujudnya masyarakat Islam Indonesia yang taat beragama, maju, sejahtera, cerdas, dan toleran dalam wadah NKRI. Rumusan seperti ini terlalu melambung, sehingga sulit untuk diukur. “Memang benar, ke depan Bimas Islam harus merumuskan ulang visinya agar lebih simple namun dapat diuraikan dengan begitu banyak program dan kegiatan. Ada dua isu utama dalam Bimas Islam, yaitu ketaatan atau pengamalan terhadap ajaran Islam dan kerukunan internal umat Islam”, urai Djamil menegaskan usulan Thobib Al-Asyhar, Kasubag Data dan Sistem Informasi.
Menurutnya, Bimas Islam harus lebih fokus pada dua isu besar, sehingga dalam pembuatan indikator-indikator kinerja lebih terukur dan mudah. Lagi pula, Bimas Islam harus optimistis untuk memperbaiki masa depan yang lebih baik, harap mantan Kabalitbang Kemenag ini. (bieb/foto:bimasislam)



