Jakarta, bimasislam— pencitraan instansi pemerintah tidak bolehterjebak pada pengemasan pemberitaan atau image yang baik tanpa diikuti oleh peningkatan kinerja. Sekalipun citra adalah dunia menurut persepsi, tetapi citra harus dibangun secara jujur, agar citra yang dipersepsikan oleh publik sesuai dengan kebenaran dan bertanggungjawab. Citrayang ditampilkantidak boleh dibangun dengan kebohongan informasi.
Hal tersebut disampaikan Dirjen Bimas Islam, Machasin, saat membuka kegiatan Peningatan Image Building Bimas Islam melalui Media, di Jakarta, Kamis (25/06).
Dirjen mengatakan, saat terjadi inkonsistensi antara kinerja dengan citra yang ditampilkan, realitaslahyang akan menang. Pencitraansemu yang ditampilkan hanya akan menghasilkan ketidakpercayaan masyarakat.
“Kalauhandphone itu signal atau casing-nya yang penting? Signalnya leih penting daripada casing. Oleh karena itu, image harus dibangun di atas realitas, atas apa yang kita lakukan. Jangan sampai orang kecewa ketika melihat realitas berbeda dengan image, sekarang banyak yang seperti itu.” tuturnya.
Terkait peningkatan citra positif Bimas Islam, Machasin menambahkan, perlu ada upaya menyamakan pekerjaan yang bagus, hasil yang bagus, dengan publikasi yang bagus. “Kita memang tidak boleh pamer, tapi ini untuk pekerjaan yang memerlukan tanggungjawab kepada publik, masyarakat wajib tahu sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja.
Kegiatan ‘Peningkatan Image Building Bimas Islam’ yang berlangsung dari tanggal 25 hingga 28 Juni 2015 ini diikuti oleh 50 peserta dari Jakarta dan daerah, serta perwakilan dari stakeholders Bimas Islam antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).(ska/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



