Jakarta, bimasislam – Umat Islam yang berpuasa hendaklah menjadikan puasanya sebagai perisai. Saat berpuasa, fisik manusia diperlemah, sehingga kegiatan yang besifat fisik akan dikurangi. Oleh karena itu, semestinya hal-hal yang tak berguna hendaknya ditinggalkan.
Demikian disampaikan Dirjen Bimas Islam, Machasin, dalam kesempatan kuliah Zhuhur pada Kamis (18/6) di Masjid al-Ikhlas, Kementerian Agama, Jalan MH. Thamrin, Jakarta. Mengutip hadits Nabi Muhammad Saw, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, itu berpesan kepada jamaah yang memenuhi ruang utama Masjid al-Ikhlas untuk menghindari perbuatan yang sia-sia, meninggalkan hal-hal bodoh, serta mengingatkan pada hati masing-masing ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’ sebanyak dua kali saat dihadapkan pada perbuatan yang dapat merusak nilai puasa.
“Imam Nawawi ketika mensyarah hadits ini mengatakan, kalimat ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’ sengaja diucapkan dua kali. Pertama untuk diri sendiri, dan kedua untuk orang lain yang berkeinginan merusak puasa kita” terang mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Agama itu.
Dalam kesempatan itu, Machasin juga mengingatkan kepada jamaah agar meningkatkan kualitas puasa, dari puasa orang-orang umum yang sekadar meninggalkan makan-minum, menuju puasa yang lebih khusus yang menjaga pandangan, penglihatan, dan ucapan, dari hal-hal yang merusak nilai puasa.
“Bahkan, puasa orang yang lebih khusus lagi, yaitu orang-orang menjaga hati dan pikirannya. Bagi orang-orang paling khusus ini, memikirkan hal-hal yang buruk pun tidak boleh, meski hanya dalam lintasan pikiran.” Ujarnya(ska/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



