Oleh:
Elvi Anita Afandi*
Elvi Anita Afandi*
Bangsa Indonesia saat ini berada dalam situasi penuh ujian. Dinamika sosial, politik, dan ekonomi menguji kesabaran masyarakat, sementara keresahan kerap muncul dalam percakapan publik, termasuk di ruang digital. Dalam kondisi demikian, doa dan zikir menjadi jangkar batin yang menenangkan. Namun, doa tidak boleh berhenti sebagai ritual. Ia harus melahirkan kepedulian nyata, berupa Human Action—aksi kemanusiaan yang lahir dari hati yang tulus berzikir.
Munajat yang Berkelanjutan
Zikir dan Doa Nasional untuk Keselamatan Negeri yang diselenggarakan belum lama ini diharapkan tidak berhenti pada satu malam. IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) dan APRI (Asosiasi Penghulu Republik Indonesia) didorong untuk menggelarnya secara bergantian setiap Jumat bakda Magrib. Munajat berkesinambungan inilah yang akan menjaga negeri agar selalu dalam lindungan Allah Swt. Selawat pun dianjurkan sebagai wasilah, sebab lantunannya menghadirkan ketenangan sekaligus mempererat persatuan.
Penyuluh agama dan penghulu sebagai garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat diingatkan untuk menjadi teladan dalam menjaga harmoni sosial. Dirjen Bimas Islam dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya bijak dalam bersikap, termasuk di media sosial.
“Kita tidak perlu menunjuk-nunjuk lembaga lain, kita perbaiki diri sendiri. Situasinya cukup berat, tapi dengan usaha lahir batin, insya Allah akan ada jalan,” ujarnya.
Dari Doa ke Aksi Nyata
Dalam semangat tersebut, penyuluh agama dan penghulu ASN diingatkan bahwa mereka adalah bagian dari pemerintah. Karena itu, tugas mereka bukan hanya membimbing masyarakat, tetapi juga membantu pemerintah mewujudkan harapan rakyat melalui teladan, doa, dan aksi nyata.
Praktik human action sejatinya bukan sesuatu yang jauh. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak, yang bisa dilakukan siapa saja. ASN Kemenag, misalnya, diingatkan untuk mensyukuri rezeki yang stabil dengan menyisihkannya bagi kelompok rentan: anak yatim, buruh harian, atau ojek daring yang bekerja dalam kondisi berat.
“Kalau kita pesan makanan, tambahkan sedikit tip. Itu bentuk hormat dan penghargaan kita. Mereka bekerja keras demi keluarga, mari kita hargai dan muliakan,” pesan Dirjen.
Bagi ASN Kemenag, aksi sederhana ini merupakan wujud nyata rasa syukur sekaligus solidaritas sosial. Selama ini, penyuluh agama telah rutin menggerakkan berbagai kegiatan human action: santunan yatim, Jumat berkah, penyaluran beasiswa, pemberdayaan ekonomi, bantuan duafa, hingga bedah rumah. Namun, situasi bangsa saat ini menuntut gerakan yang lebih sinergis: penyuluh agama bersama penghulu secara sistematis, masif, terorganisir, lebih luas, dan lebih sering.
Hidup Bersahaja, Menjaga Empati
ASN juga diingatkan agar hidup sederhana, tidak berlebihan, serta selalu menjaga empati. Masih banyak orang yang mendambakan posisi yang dimiliki ASN. Karena itu, rasa syukur dan sikap rendah hati harus selalu dikedepankan.
Doa dan Aksi untuk Negeri
Pesan utama dari Zikir dan Doa Nasional jelas: doa tanpa aksi ibarat benih tanpa tanah, sementara aksi tanpa doa kehilangan arah. Dengan menghidupkan keduanya, energi sosial yang menyejukkan akan lahir dan bertransformasi menjaga negeri.
Direktur Penerangan Agama Islam telah menanamkan gagasan, Dirjen Bimas Islam telah menguatkan langkah. Kini saatnya penyuluh agama, penghulu, serta aparatur Kemenag menjadikan doa yang menyentuh langit dan aksi yang membumi sebagai gerakan nyata.
Doa dan zikir berpadu dengan *human action*—menjaga Indonesia tetap rukun, damai, dan penuh harapan.
Ayo, lanjutkan Human Action!
*Sekretaris Umum PP IPARI
*Sekretaris Umum PP IPARI



