Sukabumi, bimasislam—Inilah dokumen tertua yang masih terjaga baik di Kantor Urusan Agama Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Ya, dokumen pencatatan peristiwa nikah sejak tahun 1909 masih tersimpan dengan baik, meski sebagian dokumen termakan rayap di beberapa sisi. Menariknya, dokumen-dokumen tersebut menjadi penanda khazanah keislaman masyarakat Sunda.
Dokumen pencatatan persitiwa nikah ditulis dengan huruf Arab Pegon, sebuah tradisi yang juga berkembang di dunia pesantren salaf sejak abad 17 M. Huruf Pegon sendiri banyak digunakan untuk menulis atau membuat syarah atas kitab-kitab klasik. Sebagai Kota Santri, wilayah Sukabumi juga dikenal luas sebagai pusat perkembangan pesantren. Tak mengherankan jika tradisi menulis dengan huruf Arab pegon juga ditemukan dalam pencatatan peristiwa nikah.
Kepala KUA Kecamatan Cibadak, Shihabuddin menuturkan, terdapat hubungan yang erat antara pencatatan nikah dan tradisi pesantren, khususnya dalam penggunaan huruf Arab pegon. Di wilayah Sukabumi, peran Kyai atau tokoh agama sangat sentral, terutama dalam menikahkah pasangan calon pengantin.
“Hebatnya, meski sangat sederhana, namun para pendahulu ini sadar pentingnya pencatatan, meski dengan konsep yang sangat sederhana. Dan ini menjadi dokumen penting untuk melihat perkembangan tata administrasi pencatatan nikah, khususnya di wilayah Sukabumi,” tuturnya.
Shihabuddin menambahkan, pencatatan nikah ini juga menjadi penanda besarnya kesadaran masyarakat Sukabumi untuk mencatatkan pernikahannya di penghulu. Hal ini tak lepas dari peran kyai dan tokoh agama yang juga sebagai penghulu, sehingga masyarakat dengan senang hati mengikuti apa yang diperintahkan para tokoh agama dimaksud.
Dalam dokumen tersebut, hanya terdapat empat kolom, yaitu nomor urut, nama, alamat dan tanggal lahir. Bagi yang tidak mengenal wilayah dan karakteristik masyarakat Sunda, tentunya akan sulit membaca tulisan tersebut. Bimasislam sendiri sempat terkecoh saat membaca nama Entong, Untung dan Otong, yang mana ketiganya memiliki kemiripan penulisan. Begitu pula saat membaca nama-nama desa seperti Nagrak, Nanggewer, Darmareja, sangat sulit jika tak memahami karakteristiknya. (kangjeje-bieb/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



