Edisi profil bulan ini mengangkat sosok ahli Ilmu Falak modern, Dr. H. Ahmad Izzuddin, M. Ag. Yaitu ilmu yang saat ini terbilang langka. Dalam kesehariannya, Pak Izzuddin, begitu biasa dipanggil adalah Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, Direktorat Urais dan Binsyar. Pembawaannya yang energik tersirat optimisme dalam menjalankan tugas-tugas kantor bidang Hisar Rukyat dan pembinaan Syariah.
Sebagai “orang baru” di Ditjen Bimas Islam, priakelahiran Kudus 12 Mei 1972 ini dipercaya oleh Prof. Djamil sebagai Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat dengan harapan dapat berkontribusi dalam upaya penyatuan kalender Hijriyyah yang hingga kini masih terus dilakukan. “Alhamdulillah, amanah ini sebagai wahana mengimplementasikan gagasa-gagasan saya bidang ilmu falak yang selama ini hanya sebatas wacana di dunia akademik. Dengan terjun ke birokrasi, saya bisa mengambil bagian dalam pengembangan ilmu falak secara praktis”, demikian Izzuddin suatu kali berbincang dengan bimasislam.
Di luar kesibukannya sebagai salah satu pejabat di lingkungan Bimas Islam, Izzuddin juga menjadi dosen di IAIN Walisongo Semarangdansalah satu pimpinan Pondok Pesantren Daarun Najaah(PPDN), Jrakah Semarang. Tidak seperti pesantren pada umumnya,pesantren yang diasuhnya bersantrikan mahasiswa.Sehingga, karena masih terikat dengan dua lembaga pendidikan tersebut, setiap pekan Izzuddin tetap menyempatkan pulang kampung untuk mendermakan ilmunya kepada para santri dan mahasiswa IAIN Walisongo, sambil bertemu keluarganya, tentu saja.
Dalam penulusuran bimasislam,Izzuddin termasuk salah satu pejabat yang easy going, suka humor dan senang berbagi pengalaman. Di mata rekan kerja dan bawahannya, ia dikenal sebagai pemimpin menyenangkan dan sering mengajak bergurau tatkala sedang dalam kesibukan yang padat.Dengan gaya khasnya itu, tidakheran jika di kantor sering tercipta suasana kekeluargaan yang erat. Boleh dikata, ia termasuk orang yang mampu bekerjasamadengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal,dan bisamengarahkan timnya dalam situasai yang relatif kompleks. Hal ini dibuktikan keberhasilannya dalam mengorganisir dalam even-even besar di kantor, baik tingkat nasional seperti momen sidang istbat, maupun tingkat internasional, seperti pertemuan Ahli Fafak tingkat negara MABIMS beberapa waktu lalu.
Terkait dengan disiplin keilmuannya, Izzuddin adalah orang yang menekuni ilmu falak sejak kecil. Di bawah asuhan ayahnya, ia dipaksa mengaji kitab-kitab falak dan ilmu waris Islam. Setiap hari,ayahnya tidak bosanmengajaknya mengaji. Bahkan sampai ia bersembunyi di kamarnya untuk menghindar. Kini buah manisnya ia rasakan, sebagai salah satu orang yang memiliki kemampuan di bidang ilmu falak.
Dengan keahliannya ini, Izzuddin juga telahdiakui oleh berbagai pihak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan menjadi nara sumber di berbagai kesempatan serta dimintakan pendapatnya oleh banyak kantorKemenag Kota maupun permintaan Takmir Masjid untuk mengecek dan meluruskan arah kiblat. Mungkinsudah ratusan masjid dan musholla yang ia luruskan shafnya. “Ini menjadi kebanggan buat saya bisa ikut beramal shaleh dalam membetulkan arah kiblat rumah ibadah kita (masjid dan mushalla) yang banyak kurang tepat atau melenceng. Bahkan, di Masjid bersejarah di Jateng ia pernah dimintakan pembetulan arah kiblat, meskipun saat itu menjadi kontroversi karena harus berhadapan dengan berbagai tokoh”, tandasnya.
Disinggung mengenai tugas dan fungsinya bagaimana arah yang ingin dikembangkan, menurut penulis produktif ini menyampaikan bahwa ilmu falak itu sebenarnya ilmu yang sangat menarik. Selain kita diajak berfikir secara sainstik, kita juga ditantang untuk terus berijtihad agar umat Islam semakin mantap dalam beribadah. “Saya punya keyakinan, suatu kali umat Islam Indonesia dapat bersatu dalam penetapan kalender Hijriyyah. Saya dan temen-teman tim Kerja Hisab Rukyat terus berupaya agar umat Islam dapat berpuasa dan berlebaran secara bersama. Sekarang telah ada kesepakatan diantara ahli falak nasional tentang standar penghitungan Hisab Rukyat, dan insya allah dan alhamdulillah kini telah ada aplikasi yang dapat dijadikan patokan tentang jadwal shalat, arah kiblat, dan kalender Hijriyyah.
Bukan hanya soal falak, tugas lain yang menjadi bidang garapannya adalah pembinaan Syariah. Menurutnya, pembinaan Syariah di Indonesia memiliki perspektif yang luas dan kompleks. “Pembinaan Syariah sebenarnya bukan melulu tugas Kementerian Agama, tetapi tugas para ulama, kyai, ustad, termasuk Ormas Islam. Dalam ruang publik, Kemenag memiliki tugas agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas pemahaman ajaran Islam agar lebih baik sehingga tidak muncul berbagai aliran dan paham yang menyimpang. Bayangkan, setelah reformasi, aliran paham dan keyakinan bermasalah meningkat tajam, dan ini menjadi bagian tugas Bimas Islam”, ungkapnya.
Oleh karena itu, harapnya, bahwa pembinaan Syariah harus mendapat perhatian serius dari seluruh pemimpin agama (ulama dan tokoh agama). Term Syariah jangan hanya dipahami secara politis yang justru dapat mereduksi makna aslinya. Namun, konsep pembinaan Syariah harus dipahami secara kontekstual, yaitu terlaksananya nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia, sehingga tercipta kehidupan yang taat terhadap nilai-nilai Islam yang penuh rahmat, harmoni, saling menghormati, serta sejahtera dunia dan akhirat, tutupnya. (bieb/foto:pribadi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



