Bagi yang belum mengenalnya, sosok kita bulan ini nampak seperti pribadi yang agak kaku. Dengan gaya bicaranya yang khas Bengkulu ada kesan yang berbeda. Namun, anggapan itu akan sirna setelah berkenalan dan berbincang dengannya. Selain sangat ramah dan menyenangkan, dia juga demen “bergaul” dengan banyak kalangan, khususnya para pegawai di kantor. Baginya, semua orang itu sama, tidak boleh dikotak-kotakan karena status jabatan atau strata sosial.
Saat ditemui bimasislam, suasana kehangatannya langsung bisa dirasakan. Enak diajak ngobrol dan diskusi tentang banyak hal. Beliau adalah Dr. H. Suardi Abbas, SH, MH, Direktur Pemberdayaan Wakaf, Ditjen Bimas Islam, Kemenag RI.
Dilantik pada hari Jumat (19/2/2016), mantan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu ini awalnya kaget mendapat SMS dari Karo Kepegawaian agar datang ke Jakarta dengan memakai baju batik, kopiah, dan membawa isteri. Begitu sampai Jakarta ternyata mau dilantik, sementara ada Kakanwil Riau dan berkata, “Dikira akan diroling antara Kakanwil Bengkulu dan Riau dan menteri mungkin akan menempatkan saya ke Riau, tapi ternyata di sini, ya sudah saya terima dan ini adalah amanah yang harus saya emban”.
Pun saat hadir di tempat pelantikan, dirinya belum tahu akan ditempatkan dimana. Begitu disebut nama dan pos barunya, dia baru tahu akan menduduki pos baru sebagai Direktur Pemberdayaan Wakaf, menggantikan pak Hamka yang dipindahtugaskan di IAIN Palembang.
Ditanya apa kesan pertama saat tugas sebagai Diretur Pemberdayaan Wakaf, Pak Suardi, begitu biasa dipanggil, merasa membutuhkan waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri karena harus hidup jauh dari keluarga di Bengkulu.
“Saya jadi Kakanwil tergolong lama, 3 tahun 11 bulan. Saya rasa sudah cukup lama, tetapi tugas di Jakarta tak terbayang sedikitpun. Mana rumah tidak ada di sini. Tapi Alhamdulillah bisa dapat tinggal di Wisma Haji di jalan Jaksa, dan ternyata banyak eselon dua, Sekretaris Ditjen Bimas sudah tiga tahun, ada Karo Hukum, Direktur Pembinaan Haji dan lainnya yang juga tinggal di sana hehe”, ujarnya.
Terkait dengan tugas barunya sebagai Direktur Pemberdayaan Wakaf, Pak Suardi menyoroti pentingnya melindungi aset-aset wakaf agar tidak berpindah tangan ke pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab. Pengalamannya selama menjadi Kakanwil, ada dua lokasi tanah wakaf yang di atasnya terdapat madrasah yang digugat oleh ahli waris wakif dan berhasil, akhirnya berdiri pertokoan yang sangat strategis.
“Pengalaman saya soal wakaf di Bengkulu masih belum tertata dengan baik. Ada tanah wakaf madrasah dan masjid milik Muhammadiyah yang berlokasi sangat strategis digugat oleh ahli waris dan kini sudah berdiri pertokoan. Jadi, di Bengkulu saja tanah wakaf yang sudah ada sertipikatnya mungkin baru 20-30%. Makanya perlu dipertimbangkan pemilihan KUA Teladan itu juga dinilai terkait pendataan aset wakaf. Berapa tanah wakaf yang sudah ada AIW-nya, berapa yang ada sertifikatnya, dan lain-lain. Jangan sampai pemenang KUA Teladan, ternyata pendataan aset wakafnya tidak bagus”, usulnya.
Selain itu, aset-aset wakaf juga perlu diberdayakan, sehingga memberi manfaat buat kemajuan masyarakat. Adanya MoU antara Menteri Agama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (BPN) perlu diimplementasikan. Demikian juga soal skema pendanaan.
“Beberapa hari setelah saya disini, saya mencoba menjalin komunikasi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI), bagaimana mengembangkan wakaf ke depan. Kami juga mencoba membangun konsep perwakafan agar lebih produktif, memiliki peran nyata dalam kehidupan umat”, tegasnya.
Pembawaannya yang low-profile dan mudah akrab dengan orang lain juga mempengaruhi dalam pola kepemimpinannya selama ini. Karier birokrasinya yang dibangun sejak golongan I/B sebagai staf KUA Moku-moku Bengkulu Utara, dengan ijazah PGA 4 tahun masih di klas 5 PGA, tamat PGA 6 tahun (1979), sarjana S1 Universitas Hazairin Bengkulu, Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Jakarta, hingga selesai program doktor di Unisba Bandung tahun 2015 menempa Pak Suardi menjadi pemimpin yang bisa berteman dengan semua kalangan.
“Pola kepemimpinan saya itu kebersamaan/terbuja dalam satu tujuan, yakni keberhasilan bersama (team). Waktu saya bertugas di Kanwil, pernah menjadi Kasubag Humas Kanwil selama 8 tahun. Saya bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Setiap saat di kantor saya bisa ditemui oleh siapa saja, bahkan kalu perlu ribuan orang bisa ketemu dengan saya. Saya senang ngobrol dengan siapapun, para kasubdit, staf, termasuk tukang sapu, sopir, sekalipun. Saya berharap mendapat masukan dari banyak orang. Kalau ada salah, tolong kritik saya. Saya terbuka untuk kebaikan bersama, saya senang kekeluargaan. Hanya saja, tolong saya jangan dijebak”, katanya berpesan.
Selain itu, hal yang cukup menonjol dari kepemimpinan mantan Kepala Kankemenag Kabupaten Kaur dan Kabupaten Seloma ini adalah disiplin. Kedisiplinan merupakan modal penting bagi seorang aparatur, apalagi di Kementerian Agama. Dengan disiplin yang tinggi, banyak hal yang dapat kita selesaikan dengan baik untuk masyarakat. Baginya, sebagai aparatur Kementerian Agama harus mencerminkan sikap dan perilaku yang baik.
Satu hal yang diterapkan dalam sikapnya kepada orang lain adalah mecoba menghargai semua orang. Ini merupakan kunci untuk membangun hubungan sosial agar kita bisa diterima dalam lingkup sosial. Apa yang dijadikan pedoman pria yang memiliki hobby jalan kaki selepas shalat sbuh ini menjadi pelajaran penting bagi siapa saja. Tidak saja untuk para pegawai, juga siapapun yang ingin hidupnya semakin baik.
Selamat bekerja pak Suardi, semoga wakaf kelak akan menjadi soko guru perekonomian umat, dan penunjang kesejahteraan publik. (thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



