Profil kita kali ini menampilkan sosok Kepala Bagian Keuangan, Dra. Hj. Nur Afwa Sofia. Dilantik sebagai KabagKeuangan Setditjen Bimas Islam pada tahun 2011,ia menjadi satu-satunya perempuan yang kini menduduki jabatan eselon III pada Sekretariat Direktorat JenderalBimbingan MasyarakatIslam.
Lahir di Bandung 1967, “Bu Evi” atau “Teh Evi”, begitu biasa dipanggil, tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang mengedepankan disiplin tinggi dalam pendidikan. Baginya, kedisiplinan adalah sebuah keniscayaan guna meraih kesuksesan. Tak mengherankan jika prinsip ini kelak membawanya pada karier yang mulussejak bergabung dengan Ditjen Bimas Islam pada tahun 1994.
Menamatkan pendidikan S1 pada Sekolah Tinggi di Bandung, Bu Evibanyak menghabiskan jenjang kariernyadi bidang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Sebelum menduduki jabatan Kabag Keuangan, Bu Evi menghabiskan tak kurang dua tahun sebagai Kasubbag Perencanaan pada Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Setditjen Bimas Islam. Tak mengherankan,pada saat didapuk sebagai Kabag Keuangan, dirinya tak terlalu sulit beradaptasi dengan dunia pengelolaan keuangan.
Bagian Keuangan merupakan satu di diantara unit tersibuk karena kedudukannya yang vital bagi keberlangsungan organisasi. Bahkan, beban kerja yang diembannya tak jarang mengharuskannya tinggal lebih lama di kantor dan meninggalkan keluarga. Namun, semua itu tak lantas menyurutkan semangat, justru menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau dihitung dan disebutin, beban kerja itu bisa membuat kita lelah, bahkan stres. Tapi kita jalani saja, toh ini juga bagian dari konsekuensi pilihan kita juga, jadi ya harus dinikmati dengan profesional,” tuturnya.
Ibu dari satu putradan satu putriini menambahkan, guna menyiasati agar kinerja unit terjaga kualitas dankuantitasnya, ia memaksimalkan kinerja Tim. Baginya, semua beban yang terlihat berat akan sangat ringan jika semua unsurdalam Tim bekerja secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, kebersamaan dengan Tim menjadi keniscayaan, saling percaya, saling memotivasi,dan tentunya saling mendukung.
Di samping itu, ia selalu menyapa para staf dananggota Tim dengan senyuman. Menurutnya, pendekatan humanis akan memperkuat ikatan emosional yang pada akhirnya memperkuat kinerja tim. Bahkan di kantor diperlukan juga canda-canda ringan dengan kawan-kawan untuk mengendurkan ketegangan pikiran agar beban kerja yang berat terasa lebih enteng.
“Prestasi itu bukan sekedar target yang tercapai, melainkan bagaimana mampu membangun suasana kondusif, penuh keakraban dan keterbukaan.”
Disinggung pelaksanaan reformasi birokrasi, ia optimis bahwa jajarannya akan dapat mewujudkan prinsip-prinsip pelaksanaan anggaran yang transparan, akuntabel dan profesional. Keyakinan itu,tambahnya, karena Bu Evimemiliki Tim yang solid dan kompeten pada bidangnya, disertai dedikasi dan loyalitas yang tak kalah baiknya.
“Kita sama-sama mengoreksi jika ada salah, sama-sama meluruskan jika ada kekeliruan. Inilah kunci kesuksesan organisasi,” ujarnya.
Kekeliruan dalam hal pengelolaan keuangan menurutnya tidak melulu karena faktorkesengajaan. Ada banyak kasus yangdisebabkan ketidaktahuan, kesalahan pemahaman dan kelalaian. Di sinilah peran pemimpin dan anggota Tim untuk saling mengoreksi dan mengevaluasi, tegas pejabat yang terhitung cukup teliti ini.
Kepada bimasislam,perempuan yang memiliki hobby travelling iniberbagi tips dalam meniti karier. Baginya, karir tak harus menunjolkan head to head antara kantor dan keluarga. Keduanya harus berjalan seimbang, mendapatkan proporsinya masing-masing. Baginya, keluarga adalah permata kehidupandandi sanalah seseorangitu terbentuk. Adapun kantor, di sanalah tempat mengkreasi amaliah melalui pengabdian kepada bangsa dan negara. Kedua-duanya harus terlayani secara penuh, tanpa ada diskriminasi. (jaja/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



