Kalau dilihat sekilas, sosok kita bulan ini punya wajah yang agak mirip dengan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, namun sedikit lebih gemuk. Pria ramah dan nampak selalu ceria ini bernama Ahmad Zamroni, Kepala Seksi Pengembangan Kerjasama Wakaf, Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Ditjen Bimas Islam.
Mas Yoni, demikian ia akrab disapa, sedikit terkejut saat bimasislam sowan ke ruang kerjanya di Lantai 8, Gedung Kementerian Agama, Jln. MH.Thamrin, Jakarta. “Kenapa memilih saya?” tanyanya heran saat bimasislam menyampaikan bahwa redaksi memilihnya untuk bertengger di rubrik profil bulan ini.
Tentu saja bimasislam punya pertimbangan tersendiri, Mas Yoni, punya skill berbahasa yang sangat bagus. Penguasaannya bahasa Arabnya mumtaz. Selain itu, ia bisa pula bercakap dalam bahasa Inggris dengan very fluently. Skill ini dapat menginspirasi pegawai lain untuk memiliki keahlian serupa.
Mas Yoni mengaku memang sudah jatuh cinta pada bahasa asing sejak lama, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2 di MTs Darun Najah, Jakarta. Ketika itu, ia selalu antusias saat ada tamu-tamu luar negeri yang berkunjung ke pesantren tempatnya menimba imu.
Kunci untuk menguasai bahasa asing, katanya, adalah dengan memegang empat hal. “Pertama, mencintai bahasa asing, kedua mempraktikkannya, ketiga memiliki teman yang bisa diajak ngobrol dalam bahasa asing, dan keempat punya grup tempat kita saling berinteraksi dalam Bahasa asing itu, sehingga kita bisa mengeksplorasi kosakata dan wawasan baru dalam bahasa luar negeri” terangnya.
Di kalangan pegawai Ditjen Bimas Islam, pemilik golongan III/C itu dikenal sebagai sosok yang selalu antusias, ramah dan ceria sekalipun pekerjaannya tentu tidaklah sedikit. “Bekerja itu diniatkan sebagai ibadah, di Direktorat Pemberdayaan Wakaf ini, kami bekerja dan mendapatkan benefit yang sangat berharga, yaitu berupaya memberdayakan potensi ekonomi umat yang demikian besar, sehingga bisa membantu mereka yang kurang mampu. Bekerja seperti ini punya nilai yang lebih, punya value yang bisa kita rasakan. Itulah sebenarnya the real benefit atau keuntungan yang hakiki, bermanfaat bagi orang lain” jelasnya.
Terkait pekerjaannya sebagai Kasi Pengembangan Kerjasama Wakaf, saat ini Mas Yoni mengatakan bahwa Ditjen Bimas Islam tengah menjalin kerjasama dengan instansi lain untuk memberdayakan aset wakaf sehingga lebih produktif dan bernilai ekonomis untuk kesejahteraan umat. Kerjasama itu antara lain dijalin dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) serta Bappenas untuk membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) yang akan ditempati masyarakat yang kurang mampu.
Rusunawa tersebut dibangun di atas tanah wakaf dengan luas minimal 3000 meter, dan berjarak nol meter dari jalan raya. Warga yang kurang mampu akan menempati ‘apartemen rakyat’ ini dengan ukuran rumah sebesar type 36 dimana lantai dasar Rusunawa tersebut akan dibangun ruang serbaguna dan Business Center.
Saat ini, pihaknya juga tengah menjajaki kerjasama dengan World Bank mengenai proyek perumahan di atas tanah wakaf, dan Yayasan Sulaimaniyah dari Turki terkait pembangunan pondok pesantren berbasis tanah wakaf. Selain itu, kerjasama pengembangan wakaf produktif juga dilakukan dengan Kemenko-PMK, Kementerian UKM, dan Kementerian Pertanian.
Bagi pegawai yang sudah mengabdi sebagai ASN sejak 2003 itu, bekerja itu dinikmati. Saat seorang pegawai ditugaskan bekerja di tempat manapun, pekerjaan itu sepatutnya dijalankan dengan patuh dan profesional. “Kalau bicara problematika dalam pekerjaan, dimanapun pasti ada. Problem akan kita temui dimana saja, tapi orang yang baik adalah mereka yang mampu mengubah masalah menjadi sumberdaya” ujarnya antusias.
Dalam kehidupan keluarga, pria kelahiran 8 Desember, 47 tahun lalu ini memiliki tiga anak, Heidy Mutiara (13), Muhamad Abdurrahman Habibullah (9), dan Muhammad Abdurrahman Najiyullah (7). Kelak, suami dari Lulu Hayati itu punya program untuk memasukan semua putra-putrinya sekolah Islam dan Pondok Pesantren. Si Sulung Heidy kini tengah duduk di Sekolah Kampung Qur’an, Cihanjuang, Cimahi, Jawa Barat. Anak keduanya, Habibullah, yang kini bersekolah di SDN 18 Jakarta juga menaruh minat besar untuk menimba ilmu di pondok pesantren dan lembaga tahfizh selepas sekolah dasar kelak. Sementara si bungsu, Najiyullah saat ini tengah duduk di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Muta’alllimin, Tebet, Jakarta Selatan.
Bagi Mas Yoni, program menjadikan pesantren sebagai madrasah bagi seluruh putra-putrinya merupakan satu jalan menuju visi besar pendidikannya di keluarga. “Saya ingin anak saya semua menjadi generasi yang hafizh Qur’an, leader, dan business people,” harapnya.
Mengakhiri obrol-obrol dengan bimasislam, mantan Kasi Pembinaan Lembaga Wakaf itu menyitir satu ayat dalam al-Qur’an “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105).
Ok. good luck, dude! (sigit)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



