Kenal dengan legenda The Beatles, John Lennon? Penembang lagu imagine yang videonya di Youtube sukses ditonton puluhan juta viewer itu ternyata punya ‘impersonator’ di Bimas Islam. Sosok ‘impersonator’ itu tak lain adalah Pak Jalal Suyuti, Kepala Seksi Inventarisasi dan Pendataan, pada Direktorat Penerangan Agama Islam. Rasanya tak berlebihan, sebab pria kelahiran Klaten yang sembari bergurau mengaku “bingung” berkultur Pakualaman atau Mangkunegaran ini memang tampil nyentrik. Kacamatanya bulat sempurna, persis kacamata John Lennon, musisi legendaris dari negeri Ratu Elisabeth itu.
Penampilan eksentriknya itu tidak dilakukan setengah hati. Ia memang penggemar lagu-lagu Eropa. Pada tiap genre, pria 56 tahun itu punya junjungan sendiri. Untuk Genre Hard Rock, ia penggemar berat Deep Purple, sedang untuk genre Rock ‘n Roll, ia mengagumi Rolling Stones. Sementara itu, untuk kategori Heavy Metal ia suka dengan Van Halen dan Iron Maiden, sedang untuk Art Rock ia adalah fans Ingwie Malmsteen. Classic Rock? Ia penggemar Queen, dan Last but not least untuk kategori ‘Revolusi Pop’ tentu saja ia penyuka The Beatles.
Jangan curiga dulu. Selain menyukai musik cadas, Pak Jalal juga pengagum musik tradisional yang punya sentuhan kultur dan kearifan lokal yang kuat. Lagu tradisional seperti tembang Lir Ilir, katanya, memiliki daya magis yang menyentuh di hati. Lahir di Klaten, yang notabene berada di antara dua kerajaan, Yogyakarta dan Surakarta, menjadikan Pak Jalal tumbuh dalam nuansa dan kultur Jawa yang kuat. “Telinga saya akrab dengan musik Jawa sejak kecil, sehingga ngerti perbedaan Slendro dan Pelog, bahkan perbedaan Langgam dan Keroncong” katanya.
Di dalam darah pria yang sudah mengabdi sebagai ASN sejak 1993 itu memang mengalir bakat seni. Sejak mahasiswa, ia aktif dalam grup teater kampus. Ia membuat naskah, pentas di kampus-kampus, dan melakonkan sindiran atas kebijakan kampus yang dianggapnya tak aspiratif, termasuk beberapa lakon teater yang menyindir kebijakan Orde Baru. Bersama rekan-rekannya, sindiran-sindiran itu diaktualisasikan dalam pagelaran teater yang kontemplatif.
Dalam konteks seni budaya Islam, alumnus IAIN Walisongo Semarang ini juga tak ketinggalan peran. Jika anda penyuka lagu-lagu religi, pasti Anda kenal Wafiq Azizah, salah satu pelantun shalawat paling moncer asal Magelang. Sekadar tahu saja, Pak Jalal, adalah arranger sekaligus sutradara pembuatan video klip lima album pertama Wafiq Azizah sebelum dara kelahiran 4 Mei 1987 itu memilih bersolo karir. Lagu-lagunya seperti Shalawat Nariyah masih bisa dinikmati di situs berbagi video Youtube.
Meski mengaku sebagai penggemar berat musik-musik beraliran keras, ternyata tak semua genre musik rock ia suka. Untuk genre Trash Metal dan Grind Core, ia merasa cukup sekadar tahu tapi tidak terlalu menikmati. Baginya, musik adalah pilihan yang harus dinikmati untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas bekerja yang tak jarang bikin penat.
Omong-omong urusan kerja, di kantor, ayah dari Zulfikar Risyad, Daud Ahmada, dan Fenan Manaru Baraja itu diberi amanah sebagai Kasi Inventarisasi dan Pendataan, Subdit Kemitraan Umat Islam. Saat ditanya tentang pemetaan ormas Islam di tanah air, jebolan Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo itu berharap Ormas-ormas Islam dapat memainkan perannya dalam mengembangkan kehidupan keberagamaan yang harmonis di Indonesia.
Secara khusus, ia berharap pada lembaga yang relatif baru bernama Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) --yang merupakan perhimpunan ormas-ormas Islam di tanah air--untuk terus menjadi sarana dalam menyatukan, sekaligus memberikan edukasi dan filtering terhadap ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.
Ia pun bersyukur Indonesia memiliki dua ormas Islam besar yang moderat, yaitu Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Selain karena jumlah umatnya yang besar, katanya, kesetiaan Ormas tersebut pada keutuhan negara sangat kuat. “Secara pemikiran, NU dan Muhammadiyah jelas tidak memiliki bibit-bibit radikal. Selain itu, secara historis kelahiran dua organisasi tersebut sangat erat dengan perjuangan kemerdekaan,” jelasnya memberikan alasan.
Sementara itu saat ditanya tentang kelahiran komunitas keagamaan anak-anak muda yang tengah booming saat ini, seperti Komunitas Tahajud Berantai, Komunitas Pejuang Shubuh, Komunitas Shalat Dhuha, Komunitas One Day One Juz, dan sebagainya yang relatif merupakan perkumpulan anak-anak muda yang memanfaatkan tekhnologi untuk penyadaraan keagamaan, Pak Jalal menyambut positif.
Menurutnya, kelahiran sejumlah komunitas tersebut positif untuk saling memberi motivasi. “Ketimbang berkumpul dengan kelompok yang merusak, lebih bagus membuat komunitas yang menambah semangat ibadah,” katanya seraya mewanti-wanti bahwa konsep saling mengingatkan dalam komunitas tersebut harus jauh dari sifat sum’ah (keinginan untuk menampilkan prestasi-prestasi ibadah).
Selain itu, sebagai bagian dari pemerintah, ia berharap kehadiran komunitas-komunitas tersebut mampu menggaet kelompok lain yang belum mendapat sentuhan agama. “Saya sangat mengapresiasi lahirnya sejumlah komunitas anak-anak muda saat ini, sekaligus berharap mereka bisa menggaet segmen kelompok lain yang belum terangkul, agar juga merasakan sentuhan agama,” katanya mengakhiri obrolan dengan bimasislam.
Oke, sukses terus, Pak Jalal!
(sigit)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



