Pembawaannya kalem, wawasannya luas, dan nampak benar aura intelektualnya. Dalam perkara intelektual ini harap maklum, pria yang mengabdi sebagai ASN sejak 1993 itu memang sempat menuntut ilmu di belahan dunia timur dan barat, yaitu di al-Jâmi'ah al-Islâmiyyah bil Madînah al-Munawwarah, Arab Saudi, dan di Freie Universität Berlin, Jerman. Perpaduan dua peradaban berbeda ini memperkaya khazanah ‘pandangan dunia’ pria yang kini menjabat sebagai Kepala Unit Percetakan al-Qur’an (UPQ) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat itu.
Meski merupakan alumni perguruan tinggi ternama di dunia Islam, rupanya Pak Fachruddin, demikian ia akrab disapa, bukanlah alumi pondok pesantren. “Saya nggak mondok,” katanya kepada bimasislam di ruang kerjanya. “Tapi memang sempat belajar di sekolah Islam Hidayatullah di Martapura, Kalimantan Selatan.”
Keluarganya sendiri bukanlah merupakan tokoh-tokoh agama, saudara-saudaranya banyak yang berkarir di dunia perbankan dan sektor swasta lainnya. Bahkan, saat ayahnya hendak memasukannya ke sekolah Islam di Martapura yang dikenal sebagai Kota Santri, keluarganya sempat sangsi, “mau jadi apa nanti kalau sudah besar?” Begitu kira-kira keraguan keluarga besarnya. Padahal, keberadaan sekolah Hidayatullah di kota intan itu sudah dikenal luas masyarakat sekitar sebagai sekolah Islam yang menerapkan kurikulum modern.
Ihwal pilihan ayahnya mendaftarkan Fachruddin kecil ke sekolah Islam ini punya cerita tersendiri. Syahdan waktu itu, sang Ayah bekerja di perkebunan milik orang Swiss. Tetangga-tetangga di kampung memandang pekerjaan seperti itu sebagai sesuatu yang ganjil, "orang Islam kok kerja dengan orang barat?". Tak tahan mendengar desas desus di kampung, sang ayah menjawab dengan memasukan anaknya ke sekolah Islam.
Namun siapa nyana, berkat menempuh pendidikan di sekolah itulah rupanya perjalanan sejarah Pak Fachruddin dimulai. Sekolah Hidayatullah tempat ia menuntut ilmu sudah berdiri sejak 1952. Sekolah ini menerapkan sistem pendidikan yang modern. Disana, murid-murid belajar banyak bahasa. Selain Arab dan Inggris, para siswa juga mendapat materi pelajaran bahasa Jerman dan Perancis.
Selepas lulus dari Sekolah Hidayatullah, Pak Fachruddin sempat melewati tiga semester di IAIN Banjarmasin sebelum akhirnya mendapat promosi untuk kuliah di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.
Faktor Cak Nur
Ketika Pak Fachruddin menempuh pendidikan di Timur Tengah, kala itu di Indonesia tengah santer isu pembaruan Islam yang dibawa oleh Nurchalis Madjid. Gagasan cendekiawan yang akrab disapa Cak Nur itu cukup menghangatkan dunia intelektual Islam di tanah air saat itu. Sejumlah diskusi dan dialog digelar di sejumlah tempat, baik dari kelompok yang mendukung maupun menentang ide dan pemikiran-pemikirannya.
Isu itu rupanya berlabuh juga di Timur Tengah. Fachruddin muda yang ketika itu sedang menempuh studi di Madinah termasuk kelompok yang menentang dan sulit mengerti pemikiran Cak Nur, terutama kalimat sufistik dan filosofisnya yang berbunyi: “tiada tuhan kecuali Tuhan”.
Pak Fachruddin tak bersetuju dengan ide tersebut. Ia ingin menjadi antitesa dari kalimat kontroversial itu. Hanya saja, ketidaksetujuannya diejawantahkan dalam bentuk positif, yaitu tekad bahwa ”Saya harus pergi ke tempat dimana Nurchalish Madjid mendapatkan nalar intelektualnya. Saya harus ke Barat!” tekadnya waktu itu.
Maka, setelah berhasil menggondol gelar lisence dari Madinah, pria kelahiran 9 Desember 1959 itu berangkat ke Jerman. Ia ingin melihat dunia Barat, tempat dimana kebebasan terbuka selebar-lebarnya. Sebuah peradaban yang berbeda sama sekali dengan Arab Saudi yang tertutup. Fachruddin muda ingin membandingkan dua peradaban yang secara kultural benar-benar berbeda.
Untuk itu, di Berlin, Jerman, ia memilih studi jurusan Sejarah untuk membandingkan sejarah pertengahan Eropa sebelum abad Renaissance dengan sejarah awal Islam. “Faktor Cak Nur memperngaruhi keinginan saya untuk melakukan studi perbandingan antara Timur dan Barat” cerita Pak Fachruddin.
Dari pengalaman dua kultur yang berbeda itu, ia bisa melihat dunia dengan lebih arif. Termasuk bagaimana melihat sistem nilai yang memengaruhi tradisi di dua belah dunia itu.
Sayangnya, studi di Jerman tak diselesaikannya hingga tuntas. Musababnya, saat pulang ke Indonesia di hujung masa perkuliahan, orangtua Pak Fachruddin melarangnya kembali ke Eropa lantaran khawatir tak bisa berjumpa lagi dengan anaknya yang sudah melanglang buana itu.
Akhirnya, didorong oleh keinginan untuk khidmah pada orangtua, ia memilih untuk tetap di Indonesia. “Mencari berkah dari mengabulkan keinginan orangtua”katanya. Di Indonesia, Pak Fachruddin bekerja pada lembaga pendidikan milik pemerintah Arab Saudi. Baru pada tahun 1992 ia mengikuti tes penerimaan pegawai di Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta.
Memimpin Unit Percetakan al-Qur’an
Saat ini, Pak Fachruddin dipercaya untuk memimpin Unit Percetakan al-Qur’an (UPQ) yang berlokasi di Ciawi, Jawa Barat, sebuah lembaga yangconcern pada penyediaan kitab suci al-Qur’an di tanah air. Mempimpin UPQ, diakuinya bukan perkara mudah. Setidaknya ada tiga tantangan utama yang menjadi pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan.
Pertama, adalah keberadaan alat-alat percetakan di UPQ yang masih rancu status BMN-nya sehingga menghambat pekerjaan operasional.
Kedua, kondisi mesin yang 70 hingga 80 persen mengalami kerusakan. Kapasitas produksi alat-alat tersebut juga sangat rendah. Mesin-mesin di UPQ hanya mampu mencetak 20 ribu hingga 30 ribu eksemplar al-Qur’an saja per tahun, tentu sangat jauh dari kebutuhan nasional.
Dan tantangan terakhir, adalah dari segi jumlah pegawai. Saat ini di lembaga yang dipimpinnya, terdapat empat pegawai PNS, sementara 19 lainnya berstatus sebagai pegawai honor.
Pak Fachruddin sudah menyusun pemetaan terkait produksi percetakan di UPQ dalam beberapa tahun ke depan hanya saja tidak didukung oleh keberadaan mesin yang memadai.
Oleh karena itu ia berharap kondisi mesin-mesin di UPQ ini segera mendapat perhatian dari Kementerian Agama mengingat angka kebutuhan al-Qur’an di tanah air sangat besar. Dibutuhkan mesin dengan kapasitas besar dan mampu bersaing. “Keberadaan mesin yang secara status masih rancu, plus sudah mengalami banyak kerusakan dengan kapasitas produksi yang rendah hanya menimbulkan inefisiensi dalam pengeluaran anggaran negara.” pungkasnya. []
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



