Jejak Agus Salim: Lahir Sebagai Pendidik, Berjalan Sebagai Organisatoris
Drs. H. Mohammad Agus Salim, M. Pd menjadi salah satu dari 13 orang pejabat Eselon II yang dilantik langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, pada akhir tahun 2018 silam. Sosok Pembina Utama Muda, yang sebelumnya menjabat sebagai Inspektur Wilayah IV Itjen Kemenag RI ini dilantik menjadi Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam menggantikan Dr. H. Juraidi, MA.
Lelaki sederhana berjiwa pendidik, kelahiran 17 Agustus 1964 ini, mengawali karir pengabdiannya di Kementerian Agama sebagai Guru Honorer sejak tahun 1980-an dan berlanjut pada jalur pengabdian yang terus menanjak yakni guru MTS Tigaraksa, Kepala MTSN Tigaraksa, Kassubag TU Kemenag Kab. Tangerang, Kepala Kemenag Kab. Tangerang Selatan, Kabid Haji Kanwil Kemenag Provinsi Banten, Kepala Kanwil Kemenag Prov. Banten, Inspektur Jenderal Wilayah IV Itjen Kemenag RI, hingga saat ini mengemban amanat Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI.
Riwayat pengabdian panjang, sosok Suami dari Hj. Rumsini dan Ayah dari tiga putri Siti Izzah, Iftah, Icha dan satu putra Fahmi Rizal ini tidak terlepas dari warisan pengalaman hidup yang diajarkan kedua orang tuanya semenjak usia dini. Adalah jiwa ketulusan, mental kesederhanaan dan bekal kedisiplinan yang sedari awal diturunkan oleh Haji Supra dan Hajjah Ratnawi kepada anak-anaknya termasuk sang putra Agus Salim yang sedari kecil sudah banyak membantu mendagangkan kain pakaian dari satu pasar tradisional ke pasar tradisional yang lain di wilayah Tangerang Banten.
Di luar peran membantu kedua orang tuanya di dunia usaha kecil itu, masa belia Agus khususnya sepulang madrasah banyak dihabiskan bersama teman sebayanya bermain-bertualang di kampung Tapos – Tigaraksa, dan mengakhiri istirahat sorenya di sebuah surau tua yang bernama Raudhatul Jannah. Di Surau ini Agus kecil menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kultur masyarakat tradisional yang umumnya menjadi wadah berseminya gerakan Islam santri yang pernah ada di tanah para jawara, Banten.
Tapos sebuah nama Kampung dimana Agus dilahirkan adalah desa dengan penduduk mayoritas berkerja sebagai petani, pedagang, dan karyawan pabrikan. Namun yang menarik justru dari situlah karir keorganisasian Agus berasal, “Saya belajar organisasi dari bawah, bahkan mulai dari tingkat Desa dan Kecamatan, dua diantaranya yang saya kenang adalah saat menjadi Ketua KNPI Kecamatan dan sebagai anggota Gerakan Pemuda Ansor”, ungkap Agus kepada bimasislam.
Mantra Agus: Tegas Dahulu, Humor dan Kolaborasi Kemudian
Dalam menjalani perannya sebagai Direktur yang membawahi empat sub direktorat, antara lain Hisab Rukyat dan Syariah, Bina Paham Keagamaan Islam, Kemasjidan dan Kepustakaan Islam ini sebagaimana diungkapkannya kepada bimasislam, Senin (15/10) adalah dengan mengedepankan corak kepemimpinan yang berdisiplin, berintegritas dan kolaboratif.
Seiring waktu berjalan, hampir genap 10 tahun pengabdian Agus di Direktorat Urais Binsyar, tiga modal kepemimpinannya, terutama aspek kolaborasi tampak terukur jitu dalam penerjemahan pola kemitraan yang ada pada masing-masing Subdit.
Pada Subdit Hisab Rukyat dan Syariah Agus menjelaskan bahwa kedudukan TIM Falakiyah Kementerian Agama yang terdiri dari unsur Ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Wasiliyah, Dewan Dakwah Islamiyah maupun lembaga-lembaga Bosca, BMKG, Planetarium, Komisi Fatwa MUI sangat memberikan arti penting bagi terlaksananya program yang selama ini berjalan. Pada bidang Kemasjidan, kehadiran Dewan Masjid Indonesia dan BPPMI Masjid Istiqlal pun memainkan peran yang tak kalah luar biasa, baru-baru ini dengan dukungan kita semua para jamaah disabilitas dapat melaksanakan shalat Idul Adha berjamaah di shaf bagian pertama, sungguh merupakan sebuah langkah progressif dan membanggakan. Unsur kemitraan lainnya terang Agus yaitu di Bidang Bina Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik, secara sinergis mendapatkan tandem kerjanya yaitu Lakspesdam PBNU, Yayasan Peduli, selain dikomandoi pula garis struktur kerja dalam pembuatan early warning system dalam penanganan konfliknya bersama Kantor Staf Presiden (KSP).
Tak kalah dari ketiga subdit di atas, Agus menambahkan bahwa Subdit Kepustakaan Islam yang dalam dua tahun usianya telah bekerja sinergis bersama Perpusnas, Ikatan Jurusan Ilmu Perpustakaan (IKAJIP), Perpustakaan Masjid Istiqlal, Lembaga Pentashih Buku dan Konten Islam (LPBKI) MUI, Lakspesdam PBNU hingga Maarif Institute. Agus pun bersyukur selain berhasil mengeluarkan dua pedoman yang menjadi payung dalam memperkuat sistem layanan, dalam waktu yang bersamaan juga dapat mengeluarkan produk-produk yang berharga seperti Fikih Ibadah Braille, Fikih Gaul Bagi Millenial, dan Fikih Disabilitas.
Penjelasan Agus tentang pentingnya langkah kolabaratif bukanlah isapan jempol belaka, hal tersebut ia coba buktikan dengan mengadakan sebuah Pertemuan Bersama Mitra Urais Binsyar yang pada tanggal 22-24 Agustus lalu, yang dibentuk penganggarannya dibebankan pada Direktorat Urais Binsyar.
Kini sosok tegas dan humoris yang juga merupakan tokoh perintis berdirinya Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) terus mengemban beberapa amanat di bidang keagamaan lainnya, seperti menjadi pengurus Masjid Negara Istiqlal atau Tim Falakayih Kementerian Agama, yang keduanya merupakan buah dari tanggung dirinya sebagai orang nomor wahid di Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah.



