Di kalangan pegawai Bimas Islam, tokoh kita kali ini dikenal sebagai kyai. Saat sedang memimpin do’a, kalimatnya fasih dan maknanya mendalam. Tentu saja, tokoh yang menjabat sebagai Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah sejak 3 Juni lalu ini memang sudah dari kecil akrab dengan dunia pesantren dan dakwah. Agama, sudah menjadi jiwa dan nafas baginya.
Tokoh kita ini bernama Mohammad Tambrin. Sebelum diamanahi sebagai salah satu direktur di Bimas Islam Pusat, pria yang mengaku tak punya hobi spesifik ini adalah kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan.
Melihat tangga karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ayah dari dua putra dan tiga putri itu memang expert di bidang Urusan Agama Islam. Sebelum menjabat Kepala Kanwil, ia pernah menjadi leader di sejumlah KUA, seperti KUA Pelaihari, KUA Tambang Ulang, KUA Kintap, dan KUA Panyipatan. Kemudian ia dipercaya untuk memegang amanah sebagai Kepala Sesi Urusan Agama Islam menyusul berikutnya sebagai Kepala Kankemenag Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Karirnya mengalir dari bawah, dari daerah. Dalam menapaki karir itu, ada satu kunci yang tumbuh sebagai karakternya: Disiplin. Hal ini lantaran ia dibesarkan dari orangtua yang berprofesi sebagai tentara. Harap mafhum, dimana-mana keluarga tentara memang dikenal disiplin.
Ihwal sebutan 'kyai' itu, Pak Tambrin, demikian ia akrab disapa, memang mengenyam pendidikan agama sedari kecil. Di masa kanak-kanak, ia mondok di Pesantren al-Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Selain itu di masa kecilnya, pria yang kini berdomisili di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur ini juga sempat menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah hingga tingkat Aliyah, plus melanjutkan kuliah di IAIN Antasari Kalimantan Selatan dan Universitas Islam Nusantara (UNINUS), Bandung. Seluruh jenjang pendidikan yang ia tempuh itu, semuanya bernafaskan agama. Sebab itu pula, dunia pesantren dan majelis taklim menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidupnya sehari-hari.
Berkat Backround pendidikan agama itulah watak hidup sederhana dan selalu berupaya akrab dengan siapa saja ia terapkan hingga kini. “Dengan siapa pun saya mudah akrab, dengan cleaning service di ruang kerja saya ini pun, saya akrab-akrab saja,” ujar Pak Tambrin saat bimasislam menyambangi ruang kerjanya di Lantai 7 Gedung Kementerian Agama, Jalan MH.Thamrin No.6, Jakarta Pusat.
Sebagai pejabat, Pak Tambrin punya prinsip agar para pegawai dapat merasakan kehadirannya bersama mereka. “Para pegawai perlu merasakan bahwa saya ada bersama mereka, ada di tengah-tengah mereka dan berdiri bersama mereka.”
Dari situ, ia punya keinginan supaya para pegawai dapat enjoy bekerja, tidak hanya hadir secara fisik tapi juga secara hati. Bekerja dengan hati akan memunculkan rasa memiliki terhadap pekerjaan atau sense of belonging dalam diri pegawai, dari situlah kemudian akan lahir kehati-hatian dalam melaksanakan pekerjaan.
Terkait kehati-hatian itu pula, Pak Tambrin mengaku seringkali meminta advice baik dari Inspektorat Jenderal maupun dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar pelaksanaan anggaran di direktorat yang ia pimpin dapat berjalan sebaik-baiknya, tak melenceng dari ketentuan.
Prioritas Urais Binsyar
Kepada bimasislam, Pak Tambrin menyebut bahwa saat ini ia menaruh concern khusus pada pengadaan buku nikah dan bantuan masjid. Dua hal tersebut menjadi perhatiannya demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, perbaikan layanan pada sektor Kantor Urusan Agama (KUA) mendapatkan porsi sebagai bagian dari prioritas.
Perbaikan layanan KUA itu, katanya, tidak hanya dari sisi tugas pokok dan fungsi tapi juga mencakup sarana prasarana gedung yang menjadi balai nikah bagi umat Islam di Indonesia itu. Sebagai mantan kepala KUA di berbagai kecamatan, ia sudah khatam terkait permasalahan KUA di daerah. Demi melakukan perbaikan pada layanan KUA, ia membuka diri pada siapapun untuk memberikan informasi terkait pelayanan KUA di seluruh Indonesia, baik dari segi tusi maupun infrastuktur.
“Pembangunan infrastuktur KUA itu meliputi pembebasan tanah, pembangunan gedung, sekaligus mebeleur, dan lain-lain.”
Tahun 2016 ini, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah cukup terbantu dengan pembangunan 181 unit KUA melalui dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk. Angka ini meningkat hampir 700 persen dibanding tahun lalu yang hanya berjumlah 26 lokasi. Untuk proyek pembangunan KUA berbasis Sukuk itu, Kementerian Keuangan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 181,9 Milyar sesuai dengan hasil pertemuan trilateral meeting yang dilaksanakan di Kementerian PPN/Bappenas tahun lalu.
Belum lagi, pada tahun 2017 pembangunan gedung pelayanan umat di tingkat kecamatan itu akan meningkat lagi menjadi 256 lokasi. Tentu saja, hal ini sangat membantu akselerasi pembangunan KUA yang jika hanya mengandalkan anggaran dari rupiah murni cuma cukup untuk membangun sekitar 20 unit KUA pertahun.
Mohammad Tambrin dilantik sebagai Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam pada Jum’at, 3 Juni 2016. Ia bersama 9 pejabat teras lainnya dilantik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Operation Room Kemenag. Pak Tambrin menggantikan Direktur sebelumnya, Dr. Mukhtar Ali yang saat ini dipercaya untuk membidani Direktorat Pena Islam. Masa transisi jabatan Direktur Urais sempat pula diselingi oleh Pelaksana Tugas, Prof. Muhammadiyah Amin yang juga merupakan Sekretaris Ditjen Bimas Islam. Di pundak Pak Tambrinlah kini harapan sekira 207 juta umat Islam terkait pelayanan di bidang Nikah, Kemasjidan, Produk Halal, Hisab Rukyat, dan sebagainya dipikulkan. []
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



