“Saya itu orang lapangan. Sudah mandiri sejak kecil. Saya pernah menoreh getah di perkebunan karet, kerja di proyek bangunan, dan menjadi guru selama sepuluh tahun. Saya bisa “mati” kalau tidak berbaur dengan masyarakat, berorganisasi. Di kalangan rekan dan sahabat, saya dikenal sebagai “sosok yang tidak bisa diam”. Makanya, saya sebenarnya tidak suka duduk manis di depan meja kerja dengan tumpukan-tumpukan berkas yang banyak.
Itulah kalimat mengalir pertama kali yang diungkapkan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat, Tarmizi Tohor, saat ngobrol-ngobrol dengan bimasislam di ruang kerjanya, Gedung Kementerian Agama lantai 9, Jalan MH.Thamrin No.6, Jakarta Pusat. Pak Tarmizi, demikian pria berkacamata itu akrab disapa, dikenal sebagai sosok yang supel, mudah bergaul, dan sangat cair. Bahkan bagi orang yang tidak kenal sekalipun akan merasa nyaman bersamanya, karena kepribadiannya yang friendly.
Dibesarkan dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, Tarmizi kecil dididik oleh bapaknya agar menjadi pribadi yang tidak mudah marah, punya sifat egaliter, tegar, dan tidak mudah putus asa.
“Saya memiliki tiga prinsip hidup. Pertama, kerja keras. Kedua, ikhlas. Ketiga, tidak berprasangka buruk kepada orang lain”, ujarnya lugas.
Menurut bapak dari empat putra-puteri ini, hidupnya selama ini dilalui dengan kerja keras untuk meraih cita-cita. Berasal dari desa yang sangat jauh dari kota, dekat dengan sungai “Tohor”, pak Tarmizi terbiasa dengan tempaan yang keras dan bersentuhan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Baginya, hidup itu harus dijalani dengan bersungguh-sungguh dan fokus. Dia tidak punya mimpi yang muluk-muluk, perjalanan karirnya mengikuti arahan takdir.
Baginya, menikmati kerja dengan ikhlas sebagai ibadah tanpa perlu banyak mimpi akan lebih menyenangkan dan menentramkan. Itu sebabnya, sejak masih mengabdi sebagai pendidik, ia tak pernah bermimpi akan menjadi kepala Kankemenag, apalagi menjadi kepala Kanwil atau Direktur seperti saat ini.
“Bekerja itu ikhlas saja, mengerjakan sesuatu dengan ikhlas itu nothing to lose. Tidak akan ada ruginya. Itu makna pengabdian dalam pekerjaan kita,” ujarnya.
Pencapaiannya hingga duduk di bangku eselon II di lingkungan Ditjen Bimas Islam seumpama anak tangga. Bermula dari bawah, tangga itu dimulai dari profesinya sebagai guru olah raga di sebuah sekolah paling pelosok di Kepulauan Riau, kemudian menjadi kepala Kandepag, hingga menjabat sebagai pimpinan di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, dan kini menjadi Direktur Pemberdayaan Zakat.
Dulu, saat hendak mengajar ia persis seperti Umar Bakri yang digambarkan oleh musisi Iwan Fals dalam lagunya. Dengan mengenakan seragam safari, Tarmizi muda mengayuh sepeda menuju sekolah tempat ia mengabdi. Bukan hanya itu, sepedanya pun harus ikut menyeberang naik perahu, kemudian ia kayuh lagi di pulau seberang dengan tujuan mulia: mendidik anak-anak di kepulauan.
Meski sangat jauh layaknya tinggal di pelosok, ia tak mudah mengeluh. Hal ini karena sejak kecil Pak Tarmizi tumbuh dalam kondisi seperti itu. Saat menempuh pendidikan di sekolah dasar, ia terbiasa berjalan sejauh lima kilometer menuju sekolah, dan pulang kembali sejauh jarak yang sama. Demikian bertahun-tahun lamanya.
Perjalanannya mengabdi sebagai ASN yang berawal dari pelosok kepulauan Riau itu, serta besar dalam kehidupan yang mandiri sejak kecil – bahkan mengaduk semen sebagai tukang bangunan pun pernah ia lakoni— menjadikan ia sadar bahwa keberadaan orang lain dalam eksistensi bekerja merupakan hal yang penting.
“Saya ini orang kampung. Dari ibukota kabupaten, kampung saya bahkan tak bisa dilalui oleh kendaraan darat, harus melalui laut. Bahkan belum lama ini, presiden pun harus menggunakan helikopter untuk menjangkau kampung saya. Saya terbiasa kerja keras sejak kecil,” kenangnya.
Oleh karena itu, Pak Tarmizi punya cara pandang tersendiri dalam memposisikan pegawai di lingkungan ia bekerja. Ia selalu berpandangan bahwa tanpa kehadiran orang lain, dirinya bukanlah siapa-siapa. Staf baginya adalah aset, kehadiran staf adalah untuk bekerjasama mencapai goal dari organisasi yang ia pimpin. Untuk itulah, kerjasama dan sama-sama bekerja menjadi keharusan baginya.
Satu prinsip yang ia akui sebagai sifat positif sekaligus menjadi kelemahannya adalah ia tak pernah menaruh buruk sangka pada orang lain. “Saya selalu berbaik sangka pada siapa pun, termasuk pada mereka yang tidak saya kenal. Saya yakin, prasangka baik adalah pengamalan ajaran agama,” katanya.
Meski dikenal sebagai pribadi “yang tidak bisa diam”, saat ditanya tentang hobi, pria yang dilantik sebagai Direktur Pemberdayaan Zakat pada 19 Februari 2016 itu justru mengaku punya hobi yang mengharuskan seseorang untuk diam: memancing.
Rupanya, Pak Tarmizi mengaku pada saat memancing itulah ia punya waktu untuk sejenak mengistirahatkan otaknya di tengah rutinitas pekerjaan yang memeras tenaga dan pikiran. Kesempatan memancing baginya, seumpama charging bagi battery. “Saya senang memancing, itu adalah saat dimana saya bisa mengistirahatkan otak saya sejenak di tengah pekerjaan yang demikian banyak.”
Saat ini, sebagai pimpinan pada direktorat yang concern pada pemberdayaan zakat nasional, pikirannya tertuju pada bagaimana menyerap dan mengembangkan potensi zakat nasional yang mencapai angka Rp 217 Trilyun per tahun. Tentu saja bukan pekerjaan mudah di tengah kesadaran berzakat masyarakat Indonesia yang belum terlalu menggembirakan. Tren penerimaan zakat memang terus naik dari tahun ke tahun, namun jika dibandingkan dengan potensi zakat nasional yang sangat besar, penerimaan zakat melalui lembaga pengelola kredibel memang masih jauh panggang dari api.
Untuk itulah, menutup perbincangan dengan bimasislam, Pak Tarmizi berpesan kepada masyarakat agar membayarkan zakatnya melalui lembaga-lembaga yang sudah diakui pemerintah. Karena selain lebih tertib, pembayaran zakat melalui lembaga kredibel juga lebih memudahkan pendataan, plus, distribusi zakat oleh lembaga-lembaga tersebut juga lebih merata.
“Saya mengimbau agar masyarakat menyalurkan zakatnya melalui lembaga yang kredibel. Agar masyarakat tidak lagi membagi-bagikan zakat secara langsung kepada umat, karena punya risiko dan tidak tertib.” pungkasnya. . []
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



