Bandung, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan layanan keagamaan berbasis astronomi Islam atau ilmu falak untuk menghadirkan informasi ibadah yang akurat, terpercaya, transparan, dan mudah diakses masyarakat. Layanan tersebut mencakup waktu salat, arah kiblat, kalender Hijriah, hingga edukasi ilmu falak.
Hal itu disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, dalam Seminar Nasional Astronomi Islam sekaligus Peluncuran Aplikasi Persis Times dan Program Umrah Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 di Aula PP Persis, Bandung, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Arsad, astronomi Islam memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan ibadah masyarakat. Kepastian waktu ibadah diperlukan, sementara perbedaan metode penetapan perlu dikelola melalui dialog dan literasi.
“Layanan keagamaan berbasis astronomi Islam diarahkan untuk menghadirkan layanan yang akurat, terpercaya, dan mudah diakses. Kebutuhan tersebut semakin penting karena masyarakat membutuhkan kepastian waktu ibadah, sementara perbedaan metode penetapan perlu dikelola melalui dialog dan literasi,” ujar Arsad.
Pengembangan layanan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar Kemenag menghadirkan layanan keagamaan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Astronomi Islam tidak hanya ditempatkan sebagai bidang keilmuan, tetapi juga menjadi dasar dalam penyediaan layanan publik keagamaan.
Arsad menjelaskan, pergerakan harian Matahari menjadi dasar perhitungan waktu salat. Sementara itu, koordinat lokasi dan posisi Ka'bah digunakan untuk menentukan arah kiblat. Adapun siklus Bulan dan visibilitas hilal menjadi bagian penting dalam penyusunan kalender Hijriah serta penentuan awal Ramadan dan Syawal.
Salah satu layanan yang dikembangkan adalah layanan waktu salat berbasis astronomi Islam dan teknologi digital. Layanan ini ditujukan untuk menyediakan informasi waktu ibadah yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipercaya.
Kemenag juga menyediakan layanan arah kiblat melalui perhitungan azimut berdasarkan koordinat lokasi. Layanan tersebut mencakup pengukuran dan kalibrasi arah kiblat masjid dan musala dengan memanfaatkan berbagai instrumen, seperti GNSS, kompas, teodolit, dan citra satelit. Pengukuran juga disertai konsultasi serta edukasi bagi pengurus masjid.
Dalam layanan kalender Hijriah, Kemenag mengintegrasikan data konjungsi, posisi Bulan, visibilitas hilal, hasil rukyat, serta proses penetapan dan publikasi. Menurut Arsad, keterbukaan proses tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga memahami dasar ilmiah dan keagamaan yang digunakan.
“Persatuan tidak selalu berarti satu metode. Persatuan berarti mampu hidup bersama dalam satu ruang kebangsaan dengan saling menghormati,” katanya.
Arsad mengatakan, Sidang Isbat menjadi salah satu model kolaboratif yang mempertemukan data astronomi, pertimbangan syariah, dan kepentingan layanan publik. Proses tersebut melibatkan pemerintah, ulama, ahli falak, astronom, organisasi kemasyarakatan Islam, dan masyarakat.
Transformasi digital juga menjadi bagian dari pengembangan layanan falak Kemenag. Ekosistem tersebut mencakup portal falak untuk penyediaan data dan edukasi, aplikasi waktu salat dan kalender, dasbor hilal untuk data observasi, layanan kiblat untuk pengukuran dan validasi, serta penguatan layanan di KUA dan masjid.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Jeje Zaenudin, mengatakan astronomi dalam Islam tidak sekadar membahas perhitungan posisi Matahari, Bulan, dan bintang. Menurutnya, astronomi berkaitan erat dengan pelaksanaan ajaran Islam, mulai dari penentuan waktu salat, awal bulan Hijriah, arah kiblat, waktu puasa, Idulfitri, Iduladha, hingga pemahaman terhadap berbagai fenomena alam sebagai tanda kebesaran Allah Swt.
Ia mengutip QS. Ar-Rahman ayat 5 yang menjelaskan bahwa Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan. Menurut Jeje, ayat tersebut menunjukkan keteraturan dan perhitungan dalam alam semesta.
Karena itu, umat Islam tidak semestinya mempertentangkan wahyu dan ilmu pengetahuan. Wahyu memberikan petunjuk dan orientasi kebenaran, sedangkan ilmu pengetahuan membantu manusia membaca ayat-ayat kauniyah Allah di alam semesta.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



