Cilacap, bimasislam—Tugas seorang penyuluh agama tidak dibatasi ruang dan waktu. Dimanapun ia berada, berperan sebagai pendidik, fasilitaror, motivator atau konsultan bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun. Hal ini saja sudah menjadi keseharian penyuluh agama. Tidak dinafsikan lagi, keberadaan penyuluh agama telah banyak memberikan pencerahan bagi umat.
Mengingat pentingnya peran penyuluh agama ditengah masyarakat, Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Kabupaten Cilacap mengadakan Halaqah Ulama dengan mengangkat tema "Puasa Romadhan: Merajut Jalan Menuju Persaudaraan Umat”pada 28 Juni 2016 yang lalu.Kegiatan diikuti oleh 120 orang peserta yang terdiri dari tokoh agama dan masyarakat, perwakilan ormas dan penyuluh agama Islam se-kabupaten Cilacap.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan problematika umat Islam terkait isu radikal agama, memformulasikan paradigma dan komitmen ulama dalam dakwah Islamiyah yang sejuk dan ramah, memberikan penekanan dan referensi bagi ulama-ulama. Disamping itu juga membicarakan langkah strategis dalam konteks pencegahan dan meminimalisir tindakan radikalisme agama. Hadir sebagai narasumber Kepala Kantor Kementerian Agama Cilacap, Labib Mughni dan dosen UNU Al-Ghozali Cilacap, Musa Ahmad.
Seiring semakin kompleksnya permasalahan umat di Cilacap, Mughni mendorong para penyuluh agama Islam untuk meningkatkan kompetensinya terutama dibidang teknologi. “Sudah seharusnya para penyuluh agama melek teknologi”, tegas Mughni. Penyuluh agama harus mampu menyikapi derasnya arus informasi berbasis yang elektronik. Jangan sampai hal ini menjadi kendala bagi penyuluh dalam berdakwah. Kepala Kankemenag mengajak penyuluh agama untuk menyesuaikan metode dakwahnya di masyarakat.
Mughni mengulas tentang perkembangan teknologi yang semakin canggih. Untuk dapat memahami permasalahan umat yang semakin beragam maka penyuluh harus mampu menguasai teknologi. Tidak hanya peningkatan dalam menguasai media komunikasi, tetapi juga harus update dalam menggunakan fasilitas dakwahnya.
Selain itu Mughni juga menyampaikan tentang empat sikap hidup beragama yang harus selalu dimiliki penyuluh. Dimana penyuluh dalam menjalankan tugasnya senantiasa harus bersifat moderat, menjaga keseimbangan, adil atau proporsional dan sikap toleransi terhadap perbedaan. “Momentum Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menggiatkan sikap hidup beragama yang baik, tambah Mughni.
(lady/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



