Syafa’at, SH, MHI
(Staf KUA Kecamatan Cluring Kab. Banyuwangi)
Dalam tradisi peringatan Maulid nabi Muammad saw, terutama suku Using di Banyuwangi, memiliki ciri khas yang hanya ada di wilayah ini. Tradisi tersebut adalah tradisi “endhog endhogan”, yakni membuat rangkaian kembang dari sebuah telur matang yang ditusuk dengan bambu, dibungkus dengan kertas beraneka ragam membentuk sebuah kembang, yang kemudian ditancapkan ke sebuah Jodhang (batang pisang yang dipotong dan diberi penyangga).
Biasanya peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dilaksanakan pada pagi hari setelah Sholat Subuh yang dimulai dengan Ngarak Jodhang Endog Keliling kampung dengan diiringi hadrah. Pawai bunga telur ini dimulai dari halaman Masjid/Mushalla dan berakhir juga di Masjid/Musholla, yang kemudian dilanjutkan dengan Dzikir Maulud, yakni pembacaan syiir syiir Sholawat dari Kitab Al-Barzanji dengan cara yang khas, dan setelah dzikir Maulud tersebut, kembang endhog dibagikan kepada masyarakat.
Tradisi Maulid Nabi Muhamamd saw dengan tradisi Endhog Endhogan ini bukan hanya di dominasi suku Using, namun juga dilaksanakan oleh suku Jawa yang ada diwilayah tersebut, bedanya kalau suku Using melaksanakan kegiatan tersebut tepat tanggal 12 Robiul awal pada pagi hari, suku Jawa biasanya melaksanakan dzikir maulud pada malam hari, dan beberapa tempat melaksanakan kegiatan ini tidak tepat tanggal 12 Rabiul awal, yang biasanya juga ada pengajian ceramah umum.
Di beberapa tempat setelah kegiatan Dzikir Maulud ini juga diadakan acara silaturahim, yakni saling mengunjungi antar tetangga tak ubahnya silaturahim Idhul Fitri. Selain adat tersebut, ada satu Desa yang dalam melaksanakan peringatan maulud Nabi Muhammad saw ini juga melakukan tradisi Gredoan, yakni tradisi masyarakat Using untuk mencari jodoh. Gredoan asal kata dari Gredo ini artinya menggoda. Ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. Biasanya dilakukan pada malam hari sebelum paginya acara ngarak Jodhang dan selamatan di Masjid/Musholla.
Pada awalnya ( zaman dahulu) Gredoan ini antara laki- laki dan perempuan tidak salin bertemu, seorang laki laki yang menaksir pada seorang perempuan, memasukkan lidi ke dalam Gedhek (dinding yang terbuat dari bambu, karena zaman dahulu hampir semua rumah dan dapur terbuat dari gedhek), dan apabila perempuan yang sedang membantu Ibunya masak di Dapur untuk menyiapkan acara Maulud Nabi pada pagi harinya tersebut setuju untuk berkenalan dengan laki laki tersebut, maka akan memberikan tanda dengan lidi yang dimasukkan oleh laki-laki tersebut. Dan mereka akan saling merayu dan ngobrol berdua tapi dibatasi dengan gedhek karena memang tabu jika laki-laki dan perempuan berdua-dua tanpa ikatan. Biasanya sih laki-laki tersebut sudah mengincar perempuannya untuk dijadikan istri dan berakhir pada lamaran dan pernikahan.
Sampai saat ini tradisiGredoan pada malam menjelang Maulud Nabi di beberapa tempat masih berlangsung, namun caranya sudah berbeda, dan sekarang apabila seorang laki-laki naksir pada seorang perempuan, pada malam Maulud Nabi boleh bertandang kerumah orang tua perempuan tersebut dan boleh ngobrol dengan perempuan tersebut diruang tamu dengan didampingi oleh orang tuanya. Diwilayah yang melaksanakan adat Gredoan ini pada malam menjelang Maulud Nabi Muhammad saw, diadakan pawai obor keliling kampung, yang biasanya juga mengarak Boneka Raksasa (Hampir mirip dengan ogoh ogoh di Bali), dan beberapa hiburan.
Menurut beberapa sumber, latar belakang munculnya tradisi "endhog-endhogan" adalah pada tahun 1777 dimana banyak misionaris VOC yang mencoba menyebarkan agama Nasrani di Blambangan atau yang kini di sebut dengan Banyuwangi. Tradisi endhog-endhogan sebagai peringatan hari lahir Nabi Muhammad saw muncul sebagai media dakwah untuk mempertahankan dan mengembangkan siar Islam. tradisi endhog-endhogan mengalami berbagai kondisi. Kondisi dimana tradisi ini sangat diperhatikan dan kondisi dimana tradisi ini kurang begitu diperhatikan karena tergerus oleh perkembangan zaman. Dan mulai tahun 1995, tradisi ini mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan memasukkan tradisi endhoh endhogan kedalam agenda Festival di Banyuwangi.
Perkembangan tersebut dapat dilihat dari proses pelaksanaan tradisi, perlengkapan yang digunakan, hingga fungsi sosial yang terdapat dalam tradisi "endhog-endhogan". Tradisi endhog-endhogan yang menjadi rutinitas masyarakat Banyuwangi pada saat bulan Maulid ini mempunyai karakteristik masing masing disetiap wilayah, hal tersebut menunjukkan kreatifitas serta keantusiasan masyarakat dalam memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad saw, selain itu juga untuk mengaplikasikan rasa cinta masyarakat Banyuwangi terhadap Nabi Muhammad saw.
Tradisi “Endhog endhogan” saat ini bukan hanya dilaksanakan menjelang Dzikir Maulud di Masjid/Musholla, namun juga diadakan Pawai dengan berbagai variasi baik aksesories endhog endhogan tersebut yang tidak hanya ditancapkan ke Jodhang, namun juga di variasi dalam berbagai bentuk yang menarik, dan juga dihiasi dengan berbagai macam buah segar, serta diarah dengan menggunakan kendaraan dan diwarnai dengan tarian / musik yang bernuansa Islam.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dengan “Endhog Endhogan” mempunyai makna yang luas, hal ini sebagai pertanda bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw tersebut sebagai Rahmatan lil Alamin yang dilambangkan dengan Jodhang yang berbuah bunga telur yang mempunyai banyak gizi. Banyak versi yang memberi makna terhadap digunakannya Telur ini untuk kegiatan Maulud, Telur yang terdiri dari Kulit, putih dan kuning telur ada yang memberi makna Kulit telur artinya iman, putih telur artinya Islam, dan kuning telur artinya Ikhsan. sedangkan makna pohon pisang adalah sejenis pohon yang tidak mau mati sekalipun dipotong berkali-kali. Pohon itu baru akan mati jika sudah memberikan manfaat bagi yang lain.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



