Oleh:
Syafaat*
Bagi Suku Osing, tidak perlu dalil untuk mengungkapkan cintanya kepada junjungan baginda Rasulullah SAW, tidak peduli apakan pada tanggal tersebut pemerintah menjadikan sebagai hari libur ataukan tidak. Meski terlihat sederhana, tradisi endhog-endhogan sarat dengan nilai-nilai filosofis. Nilai yang terkandung di dalamnya sarat dengan pesan-pesan dakwah, dan doa doa yang ditulis dalam simbol-simbol dalam rangkaian acara maulid Nabi Muhammad SAW, Ada pesan simbolik yang menggambarkan proses kelahiran Rosululloh. Seperti halnya sujen yang terbuat dari potongan bambu yang dihias bunga kertas dan buah endog (telur). Ini mengandung arti bahwa kelahiran Muhammad penuh berkah bagi semesta alam. Pohon pepohonan tumbuh dan berkembang dan memberikan buah yang dibutuhkan oleh semua manusia, karena Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai rahmatan lil alamin
Endhog-endoghan sebagai tradisi maulid di Kabupaten Banyuwangi tidak terlepas dari peran KH. Abdullah Faqih atau Raden Mudassir yang lahir pada tahun 1878 M atau 1332 H, dari darah KH Umar Mangunrono atau bernama asli Raden Markidin, Tumbuh di lingkungan yang sarat akan seni dan budaya, serta kakek yang merupakan seorang ulama' besar pada zamannya, menjadikan KH. Abdullah Faqih dapat mentransformasikan ilmu agama ke dalam seni budaya yang ada di ujung timur pulau Jawa, salah satunya endhog-endhogan yang digelar setiap peringatan maulid nabi Muhammad SAW.
Endhog atau telur mempunyai filofosi yang cukup dalam, bukan hanya untuk menjadi perdebatan manakah yang lebih dulu ada antara ayam dan telur, namun telur yang didalamnya ada sel kehidupan yang terbungkus dalam sebuah cangkang, yang apabila cangkang tersebut dipecahkan dari luar, maka sel kehidupan didalamnya akan mati, menjadi telur ceplok maupun telur dadar, namun jika telur tersebut dipecahkan dari dalam, maka akan ada kehidupan baru dari makhluk yang ada dalam telur tersebut.
Dipilihnya Telur direbus mempunyai makna karena memiliki tiga lapis, mulai dari kulit, putih telur dan kuning telur. Hal ini merupakan perlambang dari Islam, iman dan ihsan. Atau Ilmu, Amal dan Ikhlas. Penyatuan tiga hal tersebut, digambarkan dengan telur yang ditusuk batang bambu yang disebut dengan Sujen pada Kembang Endhog tersebut dan ditancapkan pada sebatang pohon pisang yang biasa disebut dengan sebutan Jodhang, akronim dari jojohan gedhang, yakni pohon pisang yang sudah disiapkan untuk ditancapkan telur hias yang nantinya akan diarak keliling kampung.
Kiai Faqih menggunakan media telur dalam memperingati maulid nabi Muhammad SAW terispirasi oleh Guru Beliau Syaikhona Kholil ketika Kiai Faqih berkunjung ke Kademangan Bangkalan, menyampaikan bahwa “Kembange Isla wes lahir di Bumi Nusantara (Yang dimaksud adalah kelahiran organisasi NU)”, yang kemudian dipersonifikasi dengan kembang endhog, dengan mengingat cangkang telur dianggap kelembagaan yang mewadahi isi telur itu sendiri.
Kemudian setelah Kiai Faqih Kembali ke Cemoro, beliau mentradisikan dalam pelaksanaan peringatan maulid nabi muhammad SAW dengan cara menancapkan telur yang sudah dihias dengan sunduk bambu ke pohon pisang, yang mentradisikan hingga sekarang, masyarakat suku osing dalam peringatan maulid nabi Muhammad SAW pada pagi hari mengarak Jodhang Telur keliling kampung untuk kemudian dibawa ke Masjid atau Musholla, dan dibacakan Shalawat secara berkelompok.
KH. Abdullah Faqih mendirikan Pondok Pesantren di Dusun Cemoro sekembalinya beliau dari Menuntut dari kota Makkah selama enam tahun pada tahun 1911 yang diawali dengan tiga orang santri, pesantren ini mendapat legitimasi dari pemerintah Hindia Belanda berdasarkan Ordonansi Guru (Peraturan Pemerintah Hindia Belanda) pada tanggal 17 Agustus 1917, hingga pesantren tersebut terus berkembang hingga menerima lebih dari seribu santri.
Perkembangan pesantren tersebut tidak dapat dilepaskan dengan cara berdakwah beliau dengan mentransformasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kebudayaan lokal yang masih menggunakan simbol simbol dalam dalam ritual keagamaan. Selain endhog-endhogan, di Pondok Pesantren milik Kiai Faqih juga ditemukan kitab kuno yang ditulis dengan huruf pegon dalam bentuk puisi jawa dengan nama Serat Rengganis yang pada halaman awal tertulis tahun 1764, belum diketahui secara pasti maksud dari angka tahun yang tertulis dalam kitab kuno tersebut, apakan tahun Jawa (caka) ataukah tahun masehi. Beberapa sejarawan menyampaikan bahwa tahun pada serat Rengganis tersebut adalah tahun Jawa, sebagaimana yang digunakan pada beberapa serat lainnya, yang dikonversikan pada tahun Masehi adalah sekitar tahun 1842.
Serat Rengganis yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan menggunakan huruf pegon ini selain sebagai isyarat bahwa KH Abdullah Faqih dalam menjalankan dakwahnya menggunakan seni dan budaya, dengan mengingat dalam pembacaan Serat Rengganis ini menggunakan langgam Jawa, juga dapat dijadikan salah satu petunjuk tentang awal mula Islam di Ujung Timur Pulau Jawa ini.
Dikutip dari wikipedia, Serat Rengganis merupakan karya yang berasal dari tradisi Islam Jawa dan digolongkan kedalam serat pesisir, menceritakan tentang Dewi Rengganis sebagai seorang Putri Penguasa Gunung Argopuro. Serat Rengganis bukan hanya dikenal di Pulau Jawa , tetapi juga di Pulau Bali, Sunda, Madura dan Lombok. Pembacaan serat rengganis sebagaimana ditemukan di Pondok Pesantren yang didirikan KH Abdullah Faqih dengan menggunakan langgam Jawa ini menunjukkan bahwa seni dan budaya juga diajarkan atau setidak tidaknya pada zaman itu tetap dilestarikan di kalangan pesantren dan kemungkinan juga merupakan salah satu materi pelajaran dalam pesantren.
*Penulis adalah ASN pada kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.



