Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program zakat dan wakaf agar tetap relevan dengan kebutuhan umat. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi umat.
Dalam acara Pembinaan Spiritual dan Buka Puasa Bersama Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf di Jakarta, Jumat (13/3/26), Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan pentingnya inovasi dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Menurutnya, program-program ini harus terus diperbarui untuk menyesuaikan diri dengan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat yang terus berkembang.
“Program kerja tidak boleh sekadar mengulang rutinitas dari tahun ke tahun. Kita harus berani mengevaluasi bahkan menghentikan program yang sudah tidak efektif, lalu menggantinya dengan gagasan yang lebih relevan dan berdampak,” ujarnya.
Abu menambahkan, inovasi dalam program kerja sangat diperlukan agar pengelolaan zakat dan wakaf dapat menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda. Ia menilai bahwa pendekatan yang lebih adaptif sangat penting untuk memastikan program pemberdayaan umat berjalan secara berkelanjutan.
Abu juga menekankan pentingnya budaya kerja kolaboratif dan produktif di lingkungan Kementerian Agama. Ia mengingatkan bahwa pegawai di tingkat pusat memiliki tanggung jawab strategis sebagai rujukan bagi daerah, sehingga kompetensi pegawai, termasuk penguasaan regulasi dan pemahaman fikih syariah terkait zakat dan wakaf, harus terus diperkuat.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, mengatakan, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam mengembangkan ekosistem zakat dan wakaf yang lebih produktif. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas aparatur di lingkungan direktorat untuk mencapai tujuan tersebut.
“Setiap pegawai memiliki dua peran sekaligus, yaitu sebagai abdullah atau hamba Allah yang memiliki orientasi pengabdian, dan sebagai abdi negara yang harus siap menjalankan tugas di mana pun negara menempatkan,” ujar Waryono.
Waryono juga mengingatkan agar para pegawai di tingkat pusat memperkuat penguasaan regulasi zakat dan wakaf, serta mendorong mereka untuk terus mengembangkan karier melalui pendidikan lanjutan dan pelatihan profesional. Hal ini penting untuk menghadapi dinamika organisasi, termasuk rotasi jabatan dan tour of duty dalam sistem pembinaan aparatur negara.
“Kegiatan pembinaan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama ini menjadi momentum refleksi dan penguatan komitmen bagi seluruh pegawai Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan publik,” tambah Waryono.
Dengan evaluasi program yang berkelanjutan dan penguatan kapasitas aparatur, Kemenag berharap pengelolaan zakat dan wakaf dapat memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan umat.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



