Jakarta, Bimas Islam-- Direktur Jaminan Produk Halal (JPH) Kementerian Agama, M. Fuad Nasar, mengatakan, Hari Santri merupakan momentum penting untuk meneguhkan trilogi peran masjid, pesantren, dan kampus sebagai pilar kebangkitan umat Islam Indonesia.
"Resolusi Jihad mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam yang dicetuskan oleh Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya adalah peristiwa yang tak dapat dilupakan sepanjang sejarah. Karena itu, secara nasional diperingati sebagai Hari Santri," ujar Fuad Nasar.
Fuad menjelaskan, pesantren merupakan subkultur umat Islam di Indonesia. Menurutnya, terdapat trilogi pilar kebangkitan umat, yaitu masjid, pesantren, dan kampus. Ketiga pilar tersebut memiliki peran strategis dalam pembinaan umat dan pembangunan bangsa yang religius.
Mensitir pandangan Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI sekaligus Wakil Presiden Muktamar Alam Islami, Fuad menyebut bahwa ketiga institusi tersebut adalah pilar kepemimpinan umat Islam di Indonesia. “Pilar kepemimpinan umat di masa depan ada pada masjid, pesantren, dan kampus,” tegasnya.
Fuad menuturkan, sejarah mencatat bahwa pesantren dan madrasah merupakan pranata pendidikan tertua yang lahir dari rahim sosial umat Islam. Dalam perkembangannya, masjid berperan besar melahirkan pesantren dan madrasah. “Masjid melahirkan pesantren, pesantren melahirkan kampus, dan perguruan tinggi melahirkan masjid kampus,” ujarnya.
Selain pondok pesantren yang umum dikenal, lanjut Fuad, kini juga tumbuh sejumlah pesantren mahasiswa yang berperan membina calon intelektual dan kader pimpinan umat. Pendidikan Islam, menurutnya, mengakar kuat di masyarakat karena ditopang oleh masjid, pesantren, dan kampus.
“Dalam Islam, pendidikan mengartikulasikan perintah Allah untuk menghilangkan kebodohan, kemiskinan, serta membina peradaban, akhlak, dan budi pekerti,” tutur Fuad.
Ia juga mengulas sejarah pendirian Pondok Pesantren Tebuireng oleh K.H. Hasyim Asy’ari di Jombang, Jawa Timur. Saat itu, wilayah Tebuireng masih dikenal sebagai daerah kelam. “Pada awal pendirian, Kiai Hasyim Asy’ari harus menghadapi teror dan gangguan dari lingkungan yang menolak kehadiran pesantren,” ungkap Fuad.
Pengalaman serupa, tambahnya, juga dialami K.H. Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. “Beliau sempat ditolak bahkan difitnah mendirikan agama baru. Dua sosok santri utama Indonesia ini adalah orang yang berpikir melampaui zamannya,” kata Fuad.
Lebih lanjut, Fuad menilai pesantren harus terus berperan sebagai kekuatan transformasi sosial yang mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Setiap tahun, ribuan lulusan pesantren dan kampus, baik negeri maupun swasta, dilepas untuk terjun ke masyarakat.
“Dalam konteks pembangunan umat dan bangsa, santri dan sarjana harus saling melengkapi. Generasi terdidik dan terpelajar, apa pun latar belakang disiplinnya, tidak boleh berjarak dari nurani kehidupan umat dan bangsa,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Fuad menekankan pentingnya strategi pembangunan yang menjaga keseimbangan antara kemajuan materiil dan kebahagiaan spiritual. “Strategi pembangunan yang ideal adalah yang menjaga harmoni antara kemajuan fisik, spiritual, dan kelestarian alam. Itulah sejatinya sumbangan terbesar santri dan alim ulama bagi pembangunan Indonesia dan dunia di masa depan,” pungkasnya.
Mfn/Mr



