Oleh:
Jaja Zarkasyi, MA*
Event G20 akan dihelat di Nusa Dua Bali akhir tahun ini. Momen penting ini telah disiapkan jauh-jauh hari oleh para pihak, baik pemerintah maupun masyarakat umum. Kemeriahan menyambut event besar ini terasa membahana dengan diselenggarakannya Side Event G20 yang dihelat di Nusa Dua Bali, Kamis (14/7). Bertempat di Nusa Dua Bali Hotel & Convention, beberapa event digelar secara serentak, di antaranya seminar, pameran, dan 1 on 1 meeting.
Dibentuk pertama kali pada tahun 1999, G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa. Misi penting G20 adalah mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.
Indonesia diamanahi sebagai Presidensi G20. Bertepatan dengan momen tersebut, pertemuan G20 tahun 2022 ini diberi tema "Recover Together, Recover Stronger". Tema ini menjadi isu utama menyatukan kekuatan anggota G20 untuk bersama dalam satu barisan mengatasi berbagai krisis dan ancaman lainnya terhadap kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Melalui tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Saya berkesempatan menghadiri dan menjadi bagian dari Side Event G20 di Nusa Dua Bali yang melibatkan BI, IsDB, Kementerian Agama dan BWI. Kesempatan ini tentu sebuah pengalaman berharga. Kita dapat melihat bagaimana Indonesia hadir dan memimpin negara-negara di dunia bagaimana melewati krisis dan memastikan seluruh kebijakan mencerminkan keadilan bagi kehidupan di muka bumi ini.
Ada beberapa catatan penting yang menurut saya patut diberikan atensi sebagai upaya menyambut optimisme G20 menghadirkan tata kelola pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pembangunan Berkelanjutan & Berkeadilan
Catatan pertama adalah mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Hal ini menjadi tema utama seminar tentang wakaf dan masa depan filantropi Islam. Gubernur Bank Indonesia memberikan gambaran komprehensif mengenai visi pembangunan berkelanjutan berkeadilan.
Pertama, pembangunan dilakukan dalam rangka memfasilitasi pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan menciptakan pemerataan ekosistem perekonomian di seluruh penjuru Nusantara. Hal ini nampak jelas dengan hadirnya produk-produk ekonomi yang memberikan fasilitasi bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kedua, bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada profit namun juga mencerminkan keadilan sosial dan keseimbangan dengan alam. Pembiayaan perbankan misalnya, tidak hanya diberikan atas dasar proposal yang menitikberatkan pada benefit, namun bagaimana proposal tersebut juga mencerminkan keadilan sosial dan keseimbangan dengan alam.
Berkelanjutan dan berkeadilan menjadi kata kunci memahami visi pembangunan bidang ekonomi, termasuk di dalamnya filantropi Islam. Sebagaimana kita ketahui, wakaf dan zakat adalah bagian penting filantropi Islam yang secara nyata membangun Indonesia. Karena itulah, fasilitasi terhadap keduanya untuk tumbuh dan berkembang menjadi keniscayaan dan kunci utama suksesnya visi pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan.
Transformasi Wakaf Produktif
Catatan kedua adalah visi pemberdayaan wakaf secara produktif. Islamic Development Bank (IsDB) menjadi salah satu pembicara utama dalam Side Event G20 ini. Misi yang dibawanya adalah memberikan pendanaan bagi para Nazir wakaf untuk pengembangan perwakafan secara produktif. IsDB mempersiapkan dana maksimum 75% pendanaan dari nilai total proyek.
Saya berkesempatan mendampingi para Nazir dalam presentasi proposal proyek wakaf produktif di hadapan delegasi Awqaf Properties Investment Fund (APIF). Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang terungkap sepanjang konsultasi nazir dan delegasi APF tersebut. Pertama, visibility study menjadi keharusan dalam mengawali proyek ini. Nazir tidak boleh melakukan perhitungan dengan perkiraan, namun harus benar-benar berbasis angka dan perhitungan yang matang. Karena itulah, visibility studies menjadi pintu masuk untuk melihat prospek sebuah project dapat didanai.
Kedua, kesiapan SDM untuk mengoperasikan project secara profesional. Meski dibangun dengan dana wakaf, namun pengelolaan project dapat dilakukan dengan kerjasama atau mandiri. Pihak Nazir dapat menunjuk pihak ketiga sebagai operator atau menjalankan sendiri dengan jaminan SDM yang profesional. Hal ini menjadi titik krusial mengingat project ini tidak boleh terhenti di tengah jalan.
Ketiga, pembiayaan tidak seluruhnya diperoleh dari IsDB melainkan kolaboratif dengan nazir. Point ini menggambarkan bahwa project wakaf produktif melibatkan peran nazir secara aktif dalam permodalan, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat. Model pembiayaan ini tentu sudah lumrah dalam sebuah project, dan itu diakui oleh para nazir yang hadir dalam 1 on 1 meeting tersebut.
Bukan Nazir Biasa
Catatan ketiga saya adalah tentang para nazir yang hadir dan mengikuti 1 on 1 Meeting merupakan para nazir yang memiliki visi besar terhadap tata kelola perwakafan. Menyaksikan para Nazir berbicara tentang visibility study, pasar ekonomi, dan bahasa project lainnya tentu sangat aneh. Selama ini kita mengenal nazir sebatas orang yang ditunjuk “menjaga’ aset wakaf, namun kini saya menyaksikan para Nazir itu juga mahir berbicara tentang visi pemberdayaan wakaf modern.
Ustaz Royhan adalah nazir dari Yayasan Al-Azhar. Hadir dengan gagasan besar akuisisi sebuah Rumah Sakit di Kota Tangerang Selatan, beliau bercerita tentang tugas nazir yang tak lagi boleh berhenti menerima wakaf, namun juga memiliki visi pemberdayaan yang luas. Menurutnya, menjadi nazir juga memiliki dimensi pertanggungjawaban sosial. Sebagaimana tujuan wakaf adalah untuk kepentingan umum secara luas, maka tugas Nazir adalah menjaga manfaat wakaf agar berkelanjutan memberi manfaat bagi masyarakat.
Membaca pasar adalah pekerjaan Nazir saat ini. Ia melanjutkan, bahwa ada banyak peluang pasar bagi pengembangan perwakafan. Karena itulah, nazir harus luas melihat dan memahami pasar, pada saat bersamaan berani mengambil keputusan untuk memberdayakan wakaf. Termasuk kesempatan yang diberikan IsDB, menurutnya sebuah tantangan yang harus diambil dengan pertimbangan yang sangat matang
Kita patut berterima kasih kepada Bank Indonesia dan Islamic Development Bank (IsDB) sebagai institusi yang berperan aktif dalam memperkuat inklusi keuangan melalui endowment/wakaf untuk upaya pemulihan ekonomi global. Bertepatan dengan Side Event G20 ini pulalah sebanyak 11 nazir dari seluruh Indonesia diberikan kesempatan menyampaikan proposal pemberdayaan wakaf di hadapan delegasi IsDB.
Para Nazir tidak hanya mempresentasikan, namun juga diberikan konsultasi seputar pendanaan dan proses bisnis pengelolaan wakaf secara produktif oleh IsDB. Selain itu, para nazir juga dilibatkan dalam High-Level Discussion on Financial Inclusion dengan tema Optimizing Endowment Fund for Sustainable Financial Inclusion.
Kita perlu menyambut gagasan besar pemberdayaan wakaf secara produktif. Sebagai institusi yang membina perwakafan, Kementerian Agama perlu mengambil langkah-langkah strategis guna menjembatani ide besar ini agar benar-benar dapat dimanfaatkan oleh para nazir. Keterlibatan Kementerian Agama dalam 1 on 1 meeting konsultasi proposal wakaf produktif bersama IsDB merupakan momentum untuk terus mendorong nazir-nazir melakukan transformasi visi dan gagasan.
Meski baru permulaan, langkah BI, IsDB, Kemenag dan BWI dalam melahirkan model pemberdayaan wakaf secara produktif patut diberikan atensi oleh semua pihak. Sebagaimana komitmen IsDB terkait pengembangan perwakafan di Indonesia, melalui kegiatan ini diharapkan lahir model-model pendanaan perwakafan yang berdampak luas bagi pengembangan perwakafan di Indonesia. Wallahu a’lam bishowab.
*Analis Kebijakan Ahli Muda Ditjen Bimas Islam



