Jakarta, Bimas Islam — Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, mengatakan, pihaknya terus mengembangkan pendekatan baru dalam edukasi publik dengan mengintegrasikan isu keluarga dan lingkungan dalam satu gerakan.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Gas Nikah dan Gemah (Gerakan Jum'ah) KUA ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Kuningan, Jakarta, sebagai upaya mendekatkan layanan KUA kepada masyarakat.
Menurutnya, penggabungan kedua isu tersebut menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan masa depan masyarakat. Ia menilai, penguatan keluarga tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan yang sehat, sehingga keduanya perlu disampaikan secara bersamaan dalam satu pendekatan yang utuh.
“Kegiatan ini kami rancang untuk menggabungkan dua pesan utama, yaitu pentingnya membangun keluarga sakinah dan kepedulian terhadap lingkungan. Keduanya saling terkait dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini tidak lagi bersifat satu arah, melainkan berbasis pengalaman langsung. Masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dilibatkan dalam rangkaian aktivitas yang dirancang secara sistematis.
Zayadi memaparkan, secara teknis kegiatan dibagi dalam beberapa tahapan yang saling terhubung, dimulai dari panggung utama sebagai pusat penyampaian pesan, dilanjutkan dengan senam bersama untuk membangun partisipasi, hingga gerakan semut sebagai aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan.
“Alur ini kami desain agar masyarakat tidak hanya melihat, tetapi ikut bergerak. Dari panggung, kemudian senam, aksi lingkungan, hingga akhirnya masuk ke tenda layanan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut,” jelasnya.
Menurutnya, tenda layanan Gas Nikah Corner menjadi titik penting dalam kegiatan ini. Di lokasi tersebut, masyarakat dapat mengakses berbagai informasi terkait layanan KUA, mulai dari syarat administrasi, prosedur pencatatan nikah, hingga bimbingan perkawinan.
Ia menambahkan, penyampaian informasi juga diperkuat dengan media edukatif seperti poster tentang pentingnya nikah resmi, risiko pernikahan yang tidak tercatat, serta upaya pencegahan perkawinan anak. Seluruh materi disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami.
“Kami ingin mengubah ketertarikan masyarakat menjadi pemahaman. Dari yang awalnya datang ke CFD, kemudian mengenal layanan KUA, hingga akhirnya sadar pentingnya pencatatan nikah,” ungkapnya.
Zayadi juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pelayanan. Kehadiran penghulu dengan pakaian dinas di ruang publik, menurutnya, menjadi simbol bahwa KUA hadir lebih dekat dan siap melayani masyarakat secara langsung.
Lebih lanjut, ia menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Gemah KUA Asri, yang mendorong terciptanya KUA yang aman, sehat, resik, dan indah. Program ini tidak hanya diterapkan di lingkungan kantor, tetapi juga diperluas ke ruang publik sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pencatatan nikah, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Dari sini, kita bersama-sama menyiapkan generasi yang lebih baik di masa depan,” tutupnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



