Bogor, bimasislam— Kondisi Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) yang berlokasi di Ciawi, Jawa Barat perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Pantauan bimasislam, peralatan yang digunakan untuk mencetak mushaf sudah banyak yang rusak dan tidak sesuai dengan tuntutan untuk menyediakan al-Qur’an bagi jutaan umat Islam di tanah air.
“70 sampai dengan 80 persen kondisi mesin banyak yang rusak, kemampuan memproduksinya juga sangat rendah, hanya mampu mencetak 20 ribu-30 ribu pertahun,” demikian disampaikan Kepala UPQ Fachruddin saat berbincang dengan bimasislam di ruang kerjanya, kompleks UPQ, Jalan Raya Puncak, Ciawi, Bogor.
Yang terjadi selama ini, mesin-mesin seringkali mengalami kerusakan, untuk menyiasatinya ‘kanibalisasi’ terhadap mesin-mesin terpaksa dilakukan agar mesin bisa tetap beroperasi.
Padahal, dikatakan Fachruddin, jika kondisi mesin cetak prima dan kapasitasnya memadai, mesin-mesin ini bisa juga digunakan untuk mencetak koran, majalah, dan sebagainya, hanya saja kemampuan mesin cetak tidak memadai sehingga keinginan untuk mendapatan profit dari usaha ini sulit diharapkan. “Sektor apapun yang semuanya bisa cetak, maka bisa dilakukan (di UPQ ini ), jika kualitas dan kemampuan mesinnya memadai,” terang pria yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah dan Eropa ini.
Memperhatikan kondisi tersebut, Fachruddin menginginkan adanya mesin canggih yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap al-Quran.
Ia menjelaskan, pihaknya akan sangat percaya diri untuk mempromosikan UPQ ke pihak luar jika difasilitasi oleh mesin yang berkualitas, seperti mesin-mesin otomatis yang pernah ia saksikan saat kunjungan kerja ke beberapa daerah di Indonesia. Sementara saat ini di UPQ, operasional mesin semuanya masih manual.
“Mesin Bending saat ini masih manual, hanya mampu mencetak 400 buku sehari. Sedikit sekali. Padahal ada mesin canggih yang bisa mencetak hingga 1000 sampai 2500 buku perjam.”
Alumni Pondok Pesantren Hidayatullah itu menambahkan, “Kalau ingin percetakan UPQ maju, bersaing, dan mampu membiayai diri sendiri, bahkan bisa mencetak al-Quran gratis dari hasil profit yang didapat, maka sudah sepantasnya dilengkapi dengan mesin-mesin yang memadai. Lima persen saja kebutuhan Kementerian Agama dicetak disini maka akan menghidupkan UPQ,” katanya.
“Tidak rugi jika dilakukan pengadaan mesin yang berharga mahal, tapi bisa menghasilkan profit yang jauh lebih besar dari pada kondisi saat ini” ujar Fachruddin.
Bahkan, Fachruddin sudah melihat peluang pasar jika UPQ diproyeksikan sebagai unit teknis yang mampu memberikan pemasukan bagi kas negara. “Bukan hanya mencetak buku, koran atau majalah, yang sangat prospektif saat ini sebetulnya mencetak kemasan minuman, baik minuman kotak maupun kemasan air mineral. (Hal ini ) sangat prospektif,” terangnya.
Keuntungan yang didapat bisa bernilai milyaran rupiah, sehingga hanya dalam beberapa tahun sudah bisa mencapai break even point. Bahkan, dikatakannya, UPQ bisa lebih percaya diri untuk menyampaikan kepada pebisnis bahwa mencetak di UPQ akan lebih bernilai sebab memiliki value dimana keuntungan dari kerjasama akan dipakai untuk mencetak kitab suci bagi Umat Islam di tanah air.
Pantauan bimasislam di lokasi, terlihat sejumlah mesin yang tidak lagi bisa digunakan karena rusak. Jika dibandingkan dengan mesin cetak di perusahaan atau lembaga lain yang sudah sangat canggih, kondisi mesin di UPQ nampak tertinggal. Bahkan, selain rusak, status mesin tersebut juga masih rancu karena ketidakjelasan status BMN mesin-mesin tersebut terkait peralihan dari instansi lama ke unit baru.
Selain mesin-mesin yang sudah tua, kondisi gedung juga memerlukan perbaikan. Ruangan desain grafis di lantai dua bahkan sudah ditopang oleh kayu-kayu agar tidak ambruk. Kondisi plafon juga sudah banyak yang belah dan berlubang. Sementara itu di halaman belakang, pagar yang memisahkan UPQ dengan pemukiman penduduk sudah miring dan dikhawatirkan akan roboh jika diterpa hujan angin.
(sigit-viqry/bimasislam)



