Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar pembinaan pegawai di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Kegiatan itu diikuti 380 pegawai dan menjadi momentum penguatan arah kebijakan serta peningkatan kapasitas aparatur Bimas Islam.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, seluruh unit kerja di lingkungan Bimas Islam perlu memastikan setiap program dan layanan yang dijalankan memberikan dampak dan manfaat yang terukur bagi masyarakat.
Menurutnya, tantangan pelayanan keagamaan saat ini menuntut aparatur untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan memperkuat budaya kerja yang berorientasi pada hasil.
Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah
Kepada Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Abu Rokhmad mendorong hadirnya berbagai pembaruan dalam pelayanan dan pembinaan keagamaan.
“Kita mungkin belum sampai pada level inovasi, tetapi paling tidak kita perlu melakukan sesuatu yang baru. Apakah masih tepat, misalnya, kita menggunakan istilah ‘aliran sesat’? Atau mungkin ada istilah lain yang lebih tepat, supaya masyarakat juga mengerti. Karena sebenarnya dalam keyakinan, tidak ada yang benar-benar bisa disebut sesat, karena ini masalah keyakinan. Barangkali perlu dilakukan pembaruan terkait istilah-istilah yang lebih nyaman bagi semua pihak,” ujarnya.
Ia juga meminta agar direktorat tersebut menyusun target-target mikro yang jelas untuk mendukung pencapaian program strategis yang lebih besar.
“Saya kira Direktorat Urusan Agama Islam memiliki peran yang sangat penting, dan saya berharap tahun ini atau tahun depan, masjid nomor tiga minimal di Indonesia itu harus tercapai. Keluarkan target-target mikro yang ada,” katanya.
Selain itu, Abu Rokhmad menilai edukasi dan literasi keagamaan kepada masyarakat masih perlu diperkuat, terutama yang berkaitan dengan persepsi dan pemahaman publik terhadap program-program keislaman.
“Pada bagian-bagian lain, misalnya terkait edukasi dan literasi keagamaan kepada masyarakat, kita masih perlu meningkatkan capaian, terutama yang terkait dengan kesan publik. Edukasi mengenai dana sosial keagamaan Islam juga masih belum optimal dilaksanakan oleh umat Islam di luar Jakarta. Ini perlu terus kita dorong agar pemahaman dan partisipasi masyarakat semakin meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan literasi keagamaan yang tepat dan mudah dipahami masyarakat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan keterlibatan publik dalam berbagai program keagamaan, termasuk pengelolaan dan pemanfaatan dana sosial keagamaan Islam.
Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah
Menurut Abu Rokhmad, Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah menghadapi salah satu target paling berat karena berkaitan langsung dengan ketahanan keluarga Indonesia.
“Target kita ini targetnya yang paling berat di antara target-target yang lain yaitu meningkatkan angka pernikahan dan menurunkan angka perceraian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai program seperti Bimbingan Perkawinan (Bimwin) dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) harus terus diperkuat untuk membentuk keluarga sakinah dan menyiapkan generasi emas Indonesia.
“Melalui program-program yang kita gagas seperti Bimwin dan BRUS, kita membentuk keluarga yang sakinah dan mewujudkan generasi emas. Karena generasi emas ini berawal dari keluarga,” katanya.
Abu Rokhmad menambahkan, isu keluarga merupakan salah satu target makro yang paling sering disampaikan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar. "Ini adalah target makro yang paling sering dibicarakan oleh Pak Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Oleh karena itu, tim Bina KUA harus kerja keras,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa KUA harus menjadi tempat pelayanan yang nyaman bagi masyarakat. "KUA itu sebenarnya targetnya adalah membuat kantor KUA nyaman bagi masyarakat yang datang, nyaman bagi yang ingin melangsungkan akad nikah di sana. Jangan dikira pahalanya kecil, membuat mereka nyaman,” ujarnya.
Direktorat Penerangan Agama Islam
Pada Direktorat Penerangan Agama Islam, Abu Rokhmad menyoroti pentingnya pengukuran kinerja penyuluh agama secara lebih konkret dan terukur.
“Kita ingin melakukan sedikit perubahan mengenai bagaimana cara kita berkontribusi kepada masyarakat, terutama dalam hal performa para penyuluh agama. Itu harus betul-betul bisa diukur, bisa dikuantifikasi,” katanya.
Menurutnya, jumlah masyarakat yang menerima layanan penyuluhan agama harus dapat dihitung dan didokumentasikan dengan baik. “Satu penyuluh agama dalam satu semester memberikan penyuluhan agama kepada berapa banyak orang? Dan hal-hal apa saja yang kita bimbingkan, baca Al-Qur’an, ibadah, thaharah, semuanya harus bisa kita ukur,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat perlu mengetahui dampak nyata dari kehadiran para penyuluh agama. "Jadi harus bisa diukur, 28 ribu penyuluh agama dalam satu semester memberikan penyuluhan kepada berapa banyak orang, dan pada aspek-aspek apa saja masyarakat sudah diberikan bimbingan. Kuantifikasi kerja itu menjadi sangat penting sekarang,” tegasnya.
Selain itu, Abu Rokhmad juga mendorong aktivasi media sosial dan konten digital para penyuluh agama sebagai bagian dari dakwah dan edukasi publik.
“Sekarang konten adalah bagian dari pekerjaan. Tentu konten yang terkait dengan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf
Kepada Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Abu Rokhmad menegaskan pentingnya optimalisasi pengelolaan dana sosial keagamaan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi umat.
“Tugasnya disebut dalam Instruksi Presiden Nomor 8, terkait optimalisasi pengumpulan dana sosial, zakat, infak, sedekah, dan seterusnya. Pemberdayaan ekonomi umat ada di beliau,” ujarnya.
Ia menilai peningkatan kapasitas aparatur zakat dan wakaf di daerah menjadi salah satu pekerjaan besar yang harus terus diperkuat.
“Selain target pengumpulan yang harus naik tahun ini, target pendistribusian dan pendayagunaannya juga harus naik,” katanya.
Menurutnya, zakat memiliki peran penting dalam mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari beasiswa, layanan kesehatan, hingga bantuan saat terjadi bencana.
Direktorat Jaminan Produk Halal
Sementara itu, kepada Direktorat Jaminan Produk Halal, Abu Rokhmad menyebut bahwa tugas yang diemban memiliki peran strategis dalam mendukung penguatan ekosistem halal nasional.
“Jaminan Produk Halal. Tugasnya berat, meski seolah kecil di mata banyak orang,” ujarnya.
Ia berharap seluruh target makro yang telah ditetapkan dapat dicapai melalui kerja sama dan kolaborasi seluruh unit kerja di lingkungan Bimas Islam.
Menutup arahannya, Abu Rokhmad mengingatkan bahwa bekerja di lingkungan Kementerian Agama bukan hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi investasi kebaikan yang akan memberikan manfaat jangka panjang.
“Bekerja dengan baik, bekerja dengan hati, dengan senang, dengan gembira, sesungguhnya kita sedang berinvestasi kebaikan yang nanti akan kita petik hasilnya saat pensiun,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pegawai untuk membangun budaya kerja yang humanis, saling menghargai, dan mengedepankan pelayanan yang membahagiakan masyarakat. "Yang penting adalah kita berubah, melayani lebih cepat, melayani lebih baik, membuat kebijakan yang membahagiakan banyak orang yang kita layani,” pungkasnya.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



