Jakarta, Bimasislam,-- Indonesia memiliki potensi sangat besar bagi masa depan peradaban Islam dunia. Potensi itu lahir dari rahim gerakan civil society, yang diantaranya diisi oleh organisasi-organisasi Islam dengan tradisi paham keagamaan yang ramah dan damai bagi sesama. Adalah tugas bagi generasi muda ,untuk terus mampu merawat cara beragama dengan prinsip Islam Washatiyyah (moderat) ini. Demikian disampaikan Plt. Ditjen Bimas Islam Kamarudin Amin saat membuka Pembinaan Paham Keagamaan Islam bagi Generasi Muda di Hotel All Seasons Jakarta (31/7).
Lebih lanjut Kamaruddin Amin mengingatkan generasi muda untuk dapat mengantisipasi radikalisme global yang kini merambah hampir ke seluruh masyarakat dunia. Utamanya dalam gerakan tersebut tak jarang didominasi oleh mereka yang berusia muda.
“Dalam era globalisasi saat ini, generasi muda ditantang untuk turut merespon permasalahan dunia, dan satu diantaranya adalah terkait dengan isu radikalisme. Generasi millennia yang akrab dengan segala perangkat teknologi informasi saat ini harus mampu mengantisipasi ajaran dan paham keagamaan yang cenderung intoleran dan berujung pada gerakan radikal, paparnya.
Sebagaimana data terakhir yang dilansir oleh BPS Tahun 2014, bahwa jumlah generasi muda saat ini telah mencapai angka 61,83 juta jiwa atau setara dengan 24,3% dari total 252,04 penduduk Indonesia. Dengan mengasumsikan bahwa total persentase penduduk muslim Indonesia mencapai 87.18%nya maka generasi muda yang diwanti-wantikan oleh Kamarudin sebagai pewaris bagi gerakan Islam washatiyah di Indonesia tersebut telah berjumlah 53 juta jiwa banyaknya.
Konteks perhatian generasi muda yang memiliki angka signifikan ini menurut Kamaruddin juga harus dapat mengatasi diskursus lainnya seperti isu sektarianisme dan gerakan paham keagamaan bermasalah lainnya. Dalam persoalan terakhir ini Kamarudin menekankan tentang pentingnya generasi muda untuk tetap berpegang teguh serta menyandarkan sanad pengetahuan keagamaan kepada tokoh ulama-ulama yang qualified dan otoritatif.
Dalam pesan terakhirnya Kamarudin menyampaikan bahwa hanya dengan memanfaatkan potensi jumlah generasi muda yang besar kuantitasnya ini, maka penyebaran ajaran Islam rahmatan lil alamin kelak dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai model keberislaman tidak hanya di level Asia namun juga dunia.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari (31 Juli – 2 Agustus) dan menghadirkan beberapa narasumber, seperti Ketua BPPT, Ketua MUI Pusat dan pihak yang berkompeten lainnya. Adapun peserta kegiatan ini terdiri dari perwakilan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Islam, penyuluh agama dan pejabat kementerian Agama se-jabotabek.
(Moh. Syafaat)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



